Jangan Berbangga Hati Karena ‘Muslim’

Oleh Edi AH Iyubenu, wakil ketua LTN PWNU DIY. 

Kita meyakini bahwa Islam yang telah kita anut adalah kemuliaan. Islam memang adalah kemuliaan, pada satu arah makna, yakni keselamatan. Tetapi hendaknya tidak pula lupa bahwa pada arah makna yang lain ia berarti kepasrahan.

Jika kedua arah makna ini disandingkan di pelaminan hati, seyogianya sang muslim adalah hambaNya yang semata mendenyarkan perilaku-perilaku kemuliaan (tanpa batas, lintas sekat) dalam bingkai kepasrahan yang hakiki kepadaNya. Amal-amal kebaikan apa pun lalu menjadi keniscayaan baginya sebagai konsekuensi logis dari kepasrahannya yag haq kepada Allah Swt. Kemahakuasaan Allah Swt menjadi mata airnya, aliran-aliran airnya yang menempias ke diri kita adalah ejawantah kebaikan-kebaikannya.

Kepasrahan dengan sendiri menisbatkan “meniadakan segala wujud diri”, seperti kebanggaan hati kepada maqam keluhuran diri karena rajin ibadah sunnah. Umpama semalam Anda bertahajud dan berdzikir lama di atas sajadah tatkala orang-orang lain lelap mendengkur, kebanggaan diri tak sepatutnya terus dilanturkan terhadap amal sunnah tersebut, sebab amal tersebut telah disadari penuh semata mungkin terjadi berkat pertolongan dan karuniaNya. Diri yang tiada daya ditolongNya untuk bisa bertahajjud dan berdzikir. Begitu kiranya. Maka, bagaimana mungkin kita alpa untuk selalu berterima kasih kepadaNya?

Umpama semalam ada orang tak dikenal yang mencemoohnya di sosial media, padahal ia tak melakukan sesuatu yang sepantasnya mendapatkan cemooh, itu pun takkan menjadikan dirinya terguncang hebat dalam gelora amarah berkat kepasrahan kepada ketetapan takdirNya. Sang pencemooh itu dipandangnya sebagai “utusanNya” untuk memberinya kabar, ilham, perihal sesuatu, apa saja, yang mungkin baru dipahaminya kemudian. Bagaimana mungkin kepada “utusanNya”, kita menggejolaknya murka?

Terlihat betapa kepasrahan yang hakiki kepadaNya semata memungkinkan “sama belakanya” segala keterjadian, segala realitas.

Tatkala spirit kepasrahan ini berejawantah dalam kehidupan keseharian, energi pikiran dan perilakunya seyogianya menjadi “sesederhana” untuk semata memproduksi kebaikan-kebaikan. Memang, musykil ada manusia yang sepenuhnya semata kebaikan dan steril dari kesilapan. Bahkan, boleh jadi, pada derajat tertentu, apa yang sejatinya keburukan, justru terpahami dan terpandang sebagai kebaikan. Kita lalu menjadi terkelabui oleh residu-residu kebaikan, dan inilah salah satu titik rawan yang amat pelik dan berat, sebab pengelabuannya bekerja dengan sangat halus dan samar.

Sebut misal “mengatakan hal benar”.

Kita meyakini dengan haq bahwa sedekah adalah kebaikan. Ayatnya banyak, hadisnya berlimpah, dan nasihat para leluhur pun tak berkekurangan. Final, sedekah adalah kebenaran yang hakiki.

Pada suatu kondisi, kebaikan sedekahitu bisa menjelma sebuah residu kebenaran, alias tidak lagi sebenar-benar kebenaran sebagaimana asalinya, ketika di dalam praktik sedekah itu menempiaskan “ketergangguan” pada salah satu pihak, entah pemberi atau penerima, atau mungkin keduanya.

Meminta orang menyumbang atau bersedekah, atas nama apa pun, dengan cara yang bernuansa memojokkan, misal, menyebabkan praktik sedekah yang terjadi kemudian seketika sumir kesahihannya. Biangnya adalahterjadi ketergangguan di situ. Begitupun memberikan sedekah dengan cara kurang etis, ia seketika menjelma sumir kebenarannya, dan biangnya adalah terjadi ketergangguan di situ.

Pada situasi demikian, kebenaran sedekah tak lagi sesederhana terpandang sebagai kebenaran asali belaka; praktiknya, cara menjalankannya, telah menjadi bagian integral dari kebenaran asali tersebut dan boleh jadi ia mengubah warna asalinya sedemikian berkebalikannya.

Bagaimana kita memahami hal demikian?

Tentu setiap kita akan memiliki pendapatnya. Bisa sejalan, bisa berpunggungan. Boleh jadi, kedua pendapat yang berpalingan wajah itu sama benarnya, tetapi bisa pula sama tidak eloknya. Atau salah satunya yang tidak elok. Ketidakelokan, mari ingat, secara hakiki jelas tidak lagi seshaf dengan makna Islam di kursi pertama, yakni keselamatan.

Rasul Saw bersabda, “Sang Mukmin adalah orang yang selamat dari lisan dan tangannya terhadap orang lain.” Dalam bunyi lain, seorang mukmin cum muslim yang haq adalah orang yang mampu menjaga lisan dan tangannya dari menyebabkan ketergangguan pada diri orang lain. Walau itu adalah sebuah praktik yang asalinya adalah kebenaran.

Terlihat kini betapa amat sangat terbuka kemungkinan-kemungkinan bagi suatu kebenaran untuk menjadi kurang benar dan bahkan tak lagi benar. Betapa halusnya model pengelabuan ini bekerja pada diri kita. Betapa samarnya kebenaran bisa terpecundangi sedemikian jungkalnya.

Sampai di sini, seyogianya kita bisa memahami untuk bermawas diri betapa memanglah diri ini begitu rawan, labil, dan sensitifnya untuk terperangkap pada suatu keburukan di dalam mempraktikkan suatu ajaran yang lahiriahnya kemuliaan, disadari kemudian atau tak pernah disadari. Apa yang kita pandang sebagai suatu praktik keselamatan (baca: Islam), amat bisa jadi sejatinya telah bergeser begitu jauh sebagai bukan lagi praktik keselamatan (baca: tak sesuai keasalian Islam lagi).

Dengan satu tamsil perspektif ini saja, bagaimana mungkin kita bisa jemawa dalam menakwilkan dan menabalkan diri sebagai senantiasa muslim, dalam artian pemangku dan pelestari kebenaran, kebaikan, dan kemuliaan?

Tepat pada titik inilah, makna Islam sebagai “kepasrahan” di dada, rohani, menjalani ujiannya terus-menerus, seumur hidup. Benarkah kita telah sepenuhnya berpasrah kepadaNya dengan cara senantiasa mendudukkanNya sebagai satu-satunya Wujud Yang Maha Berkuasa kepada diri kita, yang memungkinkan mutlak kepadaNya untuk memuliakan ataupun menjatuhkan kita? Benarkah kita telah menghadapkan segala laku kemuliaan kita (makna pertama Islam) kepada semata berkat karunia dan pertolonganNya, bukan dihijabi tegaknya ego-diri, entah berkat ilmu atau amal?  Dan benarkah kita senantiasa bermuhasabah terhadap seluruh amal yang telah kita lakukan dan kemudian diberiNya pemahaman dengan berhasil menemukan titik-titik kesilapan diri di dalamnya, yang dulunya terpandang sebagai kebaikan yang hakiki, lalu kita memohon ampunanNya dan pemaafan dari pihak lain yang terkait dengan dampak kelakuan tersebut?

Kepasrahan kepadaNya adalah sebenar-benar jalan bagi “pengenalan diri”, bukan hanya dalam hal-hal yang sifatnya peribadatan, tetapi pula kesumiran-kesumiran selubung hawa nafsu hingga bisik rayu setan dalam segala perbuatan. Toh mungkin saja badan kita tegak dalam takbir salat, tetapi sejatinya yang kita sembah bukanlah Allah Swt, melaikan ide-ide kemulian diri di dalam pikiran dan hati. Pengenalan diri pada hakikatnya adalah kepasrahan total kepadaNya, hanifan musliman, dan inilah sumber bagi termungkinkannya kita meraih “selamat dan benar” yang hakiki: dalam bimbingan dan pertolonganNya semata.

Maka dikatakan oleh al-Qur’an, misal, surat a-Hujurat ayat 16-17: “Katakanlah (Muhammad Saw), ‘Apakah kalian hendak memberitahukan kepada Allah Swt tentang agama kalian padahal Allah Swt Maha Mengetahui apa yang ada di langit dan bumi dan Allah Swt Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu?’Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu (Muhammad Saw) dengan keislaman mereka. Katakanlah, ‘Janganlan kalian merasa telah memberikan nikmat kepadaku dengan keislaman kalian, sebenarnya Allah Swt lah, Dia lah yang melimpahkan nikmat kepada kalian dengan menunjukkan (menghidayahi) kepada kalian  keimanan jika kalian memang benar-benar termasuk golongan orang yang benar.

Apa yang kita sebut sebagai keislaman kita hari ini, seyogianya memanglah tidak pantas kita tabalkan sebagai “berkat diri” hingga menutupi nikmat hidayah-hidayah Allah Swt kepada kita. Praktik berislam demikian dapat dinyatakan sebagai “terkecohnya diri oleh bajakan hawa nafsu atau bisik rayu setan” yang kemudian menjadi selubung-selubung rohani. Apa yang kita rayakan sebagai kualitas keimanan dan keislaman diri, bila spiritnya tak menghantarkan kepada negasi diri dengan semata menjulangkan Allah Swt, sejatinya ia tiada lain adalah semata keterkecohan diri dalam senarai kebenaran iman dan Islam.

Walhasil, wajar, berislamnya menjadi rawan pongah, sensitif bangga hati, dan acap jungkal pada peniadaan Allah Swt. Bila praktik ini terus-menrus dilazimkan, jadilah kita lupa pada diri kita, lalu tak kenal diri, dikarenakan kita lupa pada Allah Swt. Bila kepada diri sendiri saja kita tak kenal, bagaimana lagi kita mengenal Allah Swt? Renungkanlah surat al-Hasyr ayat 19: “Dan jananlah kalian menjadi seperti golongan orang yang melupakan Allah Swt, maka Allah Swt pun menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri, dan mereka itulah golongan orang fasik.

Bagaimana mungkin kita mengaku menyembahNya, beribadah kepadaNya, sebagai suatu kebanaran yang adiluhung, tetapi sesunggunya tiada Dia Swt di dalamnya? Sungguh ini bertabrakan dengan makna Islam sebagai “kemuliaan dan kepasrahan”.

Maka yang tersisa kemudian hanyalah: “Dan umpama kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti rusaklah langit dan bumi serta segala apa yang ada di dalamnya….” (QS. Al-Mukminun 17). Sungguh ini bertentangan dengan makna Islam sebagai “keselamatan”.

Mungkin, kita bisa menakik sebuah parameter sederhana di sini sebagai alat muhasabah efektif, sebagai bagian dari usaha kenal diri, yakni tatkala kita melakukan amal kebaikan apa pun (ibadah atau muamalah) dan buahnya malahperayaan kebanggaan hati dan kepongahan diri, itulah isyarat bagi tiadanya asali kepasrahan di dalamnya. Itulah isyarat bagi “belum berislamnya” diri dengan semestinya kendati yang kita lakukan adalah amalan-amalan Islam.

Semoga Allah Swt senantiasa memberikan pemahaman-pemahamanNya kepada kita. Amin.

Wallahu a’lam bish shawab.

Jogja, 1 Oktober 2019

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *