Ini Sejarah Berakhirnya Wabah Tha'un di Syam

Ini Sejarah Berakhirnya Wabah Tha’un di Syam

Posted on

Tho’un Amwas. Wabah ini menimpa wilayah Syam. Wilayah yang sekarang mencakup 4 negara : Suriah, Yordania, Libanon dan Palestina. Memakan korban 25.000 orang, tho’un ini terjadi di masa pemerintahan Kholifah Umar bin Khotthob, di tahun 18 H atau sekitar 639 M.

Alkisah, Kholifah Umar dan rombongan dari Madinah hendak menuju Syam, yang waktu itu sudah dikuasai kaum muslimin. Sampai di luar kota, beliau mendengar bahwa terjadi wabah di wilayah Syam.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Beliau pun berhenti. Bermusyawarah. Akhirnya beliau memutuskan untuk kembali ke Madinah. Tak jadi masuk Syam.

Gubernur Syam waktu itu, sahabat besar Abu Ubaidah Ibnul Jarroh, salah seorang di antara 10 sahabat yang dijamin surga, menegur Kholifah Umar.

“Amirol Mu’minin. Apakah kau akan lari dari taqdir Allah dengan tidak memasuki Syam?”.

Kholifah Umar menjawab :

“Aku lari dari taqdir Allah yang satu ke taqdir Allah yang lain. Jika ada satu padang rumput subur, dan yang lain tandus, ke mana kah kita akan membawa kambing kambing kita, wahai Abu Ubaidah ?.

Pikiran Kholifah Umar ini lalu diperkuat oleh Abdurrahman Ibn Auf yang menyampaikan perintah Nabi untuk mengkarantina wilayah yang terkena tho’un. Warga luar dilarang masuk, dan warga di dalam kota tak boleh keluar.

Pulanglah rombongan Kholifah Umar ke Madinah. Kholifah Umar mengajak Abu Ubaidah untuk ikut ke Madinah, namun Abu Ubaidah menolak karena beliau ingin menemani rakyat dan pasukan beliau di Syam.

Baca Juga >  Strategi Datuk ri Bandang Mengembangkan Dakwah di Sulawesi (3)

Syam dipimpin Sahabat Abu Ubaidah. Beliau berceramah di hadapan penduduk :

“Wahai manusia. Sesungguhnya penyakit ini adalah Rohmat untuk kalian, dan doa Nabi kalian, dan penyebab kematian orang orang sholih sebelum kalian”.

Setelah itu Gubernur Abu Ubaidah wafat karena tho’un Amwas tersebut. Diganti oleh sahabat besar lain, Sy. Mu’adz bin Jabal. Kebijakan beliau sama dengan Sy. Abu Ubaidah. Beliau pun wafat karena tho’un. Lalu diganti sahabat Yazid bin Abi Sufyan, dan beliau pun wafat karena tho’un.

Hingga datanglah sahabat Amr Ibnul Ash yang mengambil kebijakan baru. Beliau berkata :

“Sesungguhnya penyakit ini sifatnya seperti api yang membakar, dan kalian adalah kayu bakarnya. Maka berpencarlah kalian ke gunung gunung, dan jangan berkumpul satu sama lain, sehingga api ini tak menemukan kayu bakar, dan menjadi padam.”

Setelah kebijakan Amr Ibnul Ash ini kemudian wabah Tho’un Amwas mereda setelah sekitar sebulan lamanya, dan menjadi sebab wafat sahabat sahabat besar : Abu Ubaidah, Mu’adz bin Jabal, Yazid bin Abu Sufyan, Suhail Ibn Amr, Harits bin Hisyam, Utbah bin Suhail bersama sekitar 25.000 korban lainnya.

WalLahu a’lam.

Penulis: Ahmad Halimy, alumnus Pesantren Tebuireng Jombang.