Gus Baha
Gus Baha' ini sosok ahli tafsir faqih yang masyhur di Indonesia.

Ini Kisah Perkenalanku dengan Gus Baha’

Posted on

Gus Baha’. Siapa yang tidak kenal beliau sekarang? Salah satu Gus yang sedang “naik daun” dan digandrungi kaum muda (milenial), bukan hanya dari kalangan pesantren semata, namun juga akademisi dan khalayak umum.

Kajian beliau telah menyebar di medsos (FB, Instagram, youtube, dll), baik dalam bentuk video maupun MP3. Bahkan uploadan video saya (ae channel) yang berjudul “Gus Baha’ Manusia Qur’an”, dalam waktu sehari pernah mencapai 100 ribu views, dan hingga kini mendekati 1 juta (tidak sampai hitungan bulan). Ini artinya ribuan orang telah mengikuti kajiannya, dengan antusiasme yang tinggi, meskipun hanya lewat online.

Kecanggihan teknologi merubah semuanya. Gus Baha’, sejatinya tidak ingin terkenal, beliau tidak bermain di media sosial, Gus Iit pernah menyindirnya dalam sebuah acara: “Kita belum pernah mendengar FB-nya Gus Baha’ itu apa, Ig dan Twitter nya beliau itu apa? Kita sangat berharap mendengarnya setelah acara ini”__

Gus Baha’ ngajar ngaji di pedesaan Narukan Jawa Tengah (Ponpesnya) dan di beberapa tempat kajian rutin (Monong-Tuban, Jogjakarta, dan Bojonegoro) dengan metode ala pesantren dan dengan gayanya sendiri (sak karepe dewe), ceplas-ceplos, dengan tampilan seadanya, ora ngawaki umumnya Ulama’. Namun toh dengan penjelasan yang detail dan mendalam. Bukan hanya mampu per-kata, bahkan per-huruf mampu menyedot khalayak. Begitulah uniknya beliau, bahkan beberapa stasiun TV tertarik meminangnya, beliau tetap saja geming, Gelar doctor honoris causa pun ditolaknya.

Banyak yang tercengang. Gus Baha’ santri tulen, yang “hanya” mengenyam Pendidikan pesantren sejak kecil, nyatanya mampu menembus, sejajar dan bahkan lebih dari kaum akademisi. Beliau salah satu pentashih Qur’an di Indonesia yang bukan lulusan akademisi. Gus Baha’ menjadi potret idola baru santri masa kini.

Saya pribadi tahu tentang beliau, kurang lebih tiga (3) tahun lalu, melalui adik (ipar) (waktu itu belum banyak yang auplod kajian beliau). Saya diberi audio ngaji Gus Baha’ hasil rekamannya sendiri saat ngaji. File itu saya putar berulang-ulang. Yang menarik perhatian saya, setiap saya putar ulang, seolah ada ilmu baru-istilah baru, begitu seterusnya hingga tak bosannya saya putar.

Kesan kedua, penjelasannya begitu detail, ta’birnya selalu ada. Argumen ilmiahnya selalu dibangun dan di dasari dengan dalil Al-qur’an dan Hadis, juga kalimat Bahasa Arab yang beliau kutib dari kitab-kitab klasik (seolah beliau hapal kitab-kitab/dan mungkin juga hapal). Yang terkadang beberapa istilah-istilah membuat saya mis, (gak paham artine, terpaksa cari kamus, kadang Googling).

Baca Juga >  KH Hasyim Muzadi, Dari Ketua Ranting Sampai Ketua Umum PBNU

Kesan ketiga, yang membuat saya kaget, ketika beliau menjelaskan perihal sombong. “aku iki sombong, tapi nyombongi koe kabeh, ora nyombongi Allah, Ulama’ sesekali kudu sombong, nek gak sombong malah rusak kabeh, Gusti Allah malah melaknat, dadi ojo sok rendah hati”. Ternyata “kesombongan gus Baha” juga ber dasar dari hadis Nabi:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ( صلى الله عليه و آله ) : ” إِذَا ظَهَرَتِ الْبِدَعُ فِي أُمَّتِي فَلْيُظْهِرِ الْعَالِمُ عِلْمَهُ ، فَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ

Dari sini saya semakin tertarik, sebab baru pertama kali saya mendengar hadis ini dari beliau. Akhirnya,ketika ada jadwal di Tuban (Montong), saya beranikan diri untuk hadir dan ikut ngaji, meskipun aslnya minder juga, sebab yang ikut kajiannya banyak yang hapal Qur’an.

Kesan ke-empat. Cara berpikir beliau menggunakan cara pikir terbalik (logika) terbalik, dari keumuman pemahaman. Semisal ketika orang menganggap bahwa medsos sebagai subjek dan penggunanya sebagai objek, beliau menganggap sebaliknya. “Kita yang mengendalikan medsos/Tv, kita kan yang pegang remot”, Soal cara keumuman orang memandang bahwa Palestina selalu kalah dengan Israil, beliau berpikir sebaliknya, bahwa Israil tak pernah menang menguasai Palestina dari dulu hingga sekarang. Dan masih banyak contoh cara berpikir terbalik beliau. Ternyata itulah salah satu rahasia “kecerdasan” beliau.

Berawal dari situ, saya kumpulkan rekaman kajian beliau, baik dari youtube maupun langsung dari beberapa orang yang ikut ngaji rutinan beliau. Dan saya uplod lagi di youtube dengan nama ae channel dengan icon NGAJI GUS BAHA’. Jadi ae channel bukanlah official Gus Baha’, sebab yang saya tahu beliau tidak memilikinya, layaknya Gus atau ustad medsos lainnya. Sebaran video di media sosial, kemungkinannya uploadan dari para muhibbinnya (pecintanya).

Bagaimana dengan Anda? Cerita donggg, darimana Anda tahu Gus Baha’?

Penulis: Izzuddin Abdurrahim Adnan