kiai sahal mahfudh

Ini Cara Kiai Sahal Mahfudh dalam Ideologisasi NU

Posted on

Kiai Sahal Mahfudh: Ideolog NU

KH As’ad Said Ali mengisahkan, pasca Rapat Pleno PBNU di Pesantren Krapyak Yogyakarta Maret 2011, Kiai Sahal memerintahkan padanya untuk membuat konsep kaderisasi NU yang militan sehingga lahir model kaderisasi yang militan yang merambah sampai ke level Ranting sekarang ini. Kiai Sahal juga yang memerintahkan supaya pemilihan pemimpin NU menggunakan model Ahwa (Ahlul Halli Wal Aqdi) untuk memininalisir politisasi NU dalam bentuk money politics dan lain-lain.

Kiai Sahal Selalu berada di balik layar keputusan-keputusan penting NU. Sebagai Rais Aam Syuriyah PBNU, otoritas organisasi penuh di bawah komando Kiai Sahal. Ketua Umum bertindak sebagai pelaksana kebijakan yang dikeluarkan Rais Aam.

Sebagai Rais Aam Syuriyah PBNU tiga periode (Muktamar Lirboyo 1999, Solo 2014, dan Makassar 2010), ideologi Aswaja An-Nahdliyyah Kiai Sahal sudah berakar kuat sejak kecil yang terus terasah sampai wafatnya.

Dididik ayahnya yang juga aktivis NU, murid Hadlratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari, yaitu KH Mahfudh Salam yang menurut Kiai Sahal pernah menjadi Rais Syuriyah PWNU Jateng, Kiai Muhajir Bendo yang dikenal sufi, Kiai Zubair Dahlan yang merupakan santri KH Faqih Maskumambang, Wakil Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari di Syuriyah, dan dimatangkan oleh pamannya, KH Abdullah Zain Salam, Mursyid Thariqah yang getol berkhidmah di NU, Kiai Sahal tumbuh sebagai ideolog NU yang militan.

Dalam konteks pemikiran Aswaja An-Nahdliyyah, Kiai Sahal selalu menekankan dinamisasi supaya Aswaja mampu merespons dinamika zaman. Aswaja tidak apriori terhadap penggunaan rasio dan tidak absolut menggunakan teks/nash. Aswaja menggunakan dua-duanya (teks dan rasio) secara seimbang. Al-Qur’an, hadis, ijma’, dan qiyas adalah buktinya.

Kiai Sahal Selalu menekankan kemaslahatan dalam setiap produk pemikiran Islam. Dalam konteks ulama, Kiai Sahal menekankan urgensi ulama yang “Faqih Fi Mashalihil Khalqi”, peka terhadap kemaslahatan makhkuk. Peka dalam arti mampu menangkap, mengidentifikasi, peduli, mengorganisir dan bergerak secara riil-praktis untuk memberdayakan makhluk baik secara ekonomi, pendidikan, maupun politik.

Sebagai pemimpin tertinggi NU yang dibekali dengan penguasaan mendalam terhadap ilmu agama dengan banyaknya karya kitab yang ditulis, maka ideologi Aswaja Kiai Sahal mengalir dalam tubuhnya dan mengeluarkan aroma wangi yang menyinari dan memberdayakan masyarakat.

Baca Juga >  Rindu Gus Kelik: Penglihatan Batinnya Sangat Tajam

Harakah

Jika ukuran ideologi Aswaja adalah harakah (bergerak aktif), maka Kiai Sahal adalah sosok muharrik (Penggerak) roda organisasi NU agar mampu memberikan kemanfaatan sebesar-besarnya kepada warga NU, bangsa, dan umat manusia secara keseluruhan.

Konsistensi Kiai Sahal menyuarakan dan menegakkan khittah tujuannya tidak lain adalah agar pengurus NU tidak lagi menghabiskan energinya dalam politik praktis (kekuasaan-jabatan).

Pengurus NU dengan khittahnya seyogianya mencurahkan energinya untuk melayani umat dalam bidang ekonomi, pendidikan, sosial, keluarga, kebudayaan, keilmuan, dan wawasan kebangsaan.

Kiai Sahal memberikan contoh riil kontribusi NU dalam bidang non ibadah mahdlah ini. Bersama dengan pesantren-pesantren lain yang concern pada pemberdayaan ekonomi umat, Kiai Sahal mendirikan BPPM (Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) di Pesantren yang dipimpinnya.

BPPM ini menginisiasi, memfasilitasi, memonitoring, memotivasi, dan memberikan pinjaman modal bagi usaha-usaha produktif masyarakat yang akhirnya mampu mengangkat perekonomian mereka.

Ideolog Aktif

Maka, pemikiran dan basis ideologi Aswaja Kiai Sahal inilah yang harus diteladani oleh para pengurus NU. Mereka harus menjadi ideolog Aktif, yaitu orang yang aktif menyuarakan dan memperjuangkan ideologi Aswaja yang mampu memberikan kontribusi riil dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Meneladani Kiai Sahal tidak cukup menjadi Ideolog pasif yang hanya berakidah Aswaja, tapi miskin kontribusi di tengah masyarakat.

Kiai Sahal Selalu menggunakan kaidah:

المتعدي افضل من القاصر

Orang yang mampu memberikan manfaat seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya kepada orang lain lebih utama dari pada orang yang manfaatnya terbatas hanya dirinya sendiri.

Hadis yang selalu disampaikan Kiai Sahal:

خير الناس انفعهم للناس

Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Semoga kita mampu meneladaninya, amiin.

IPMAFA Kajen, 21 Februari 2020.

Penulis: Dr Jamal Mamur Asmani, dosen IPMAFA Pati.