Otak Cingkrang

Ini Cara Beragama Kaum Otak Cingkrang dan Cuti Nalar

Anda sudah ngopi hari ini? Baik, mari selamatkan anak bangsa dari cuti nalar karena kurang ngopi! Biar saya yang traktir kali ini.

Selama hidup, Nabi Muhammad Saw terlibat dalam 9 peperangan dan 54 kali ekspansi militer. Korban dari masyarakat sipil lebih-kurang 3000 jiwa. Bandingkan misalnya dengan perang dunia ke-II, korban nyawa lebih dari 60 juta jiwa!

Selalu, dalam setiap pertempuran, kanjeng Nabi menghidari perang di tengah kota. Nabi, sebagai panglima tertinggi militer kala itu lebih memilih perang di bukit, Uhud misalnya, juga di lembah, Badar contohanya, bahkan perang di benteng, Khaibar umpamanya. Beliau juga melarang kaum difabel, lansia, ibu-ibu dan anak-anak ke medan laga.

Pendek kata, adalah sangat keliru jika Islam dianggap sebagai agama perang, bengis dan haus darah. Teramat banyak tempurung jahat yang menyebarkan hoaks ini, bahkan dalam pelajaran-pelajaran sejarah peradaban Islam, nyaris selalu tentang perang dan perang. Bukankah kesalahan yang diulang-ulang akan membentuk cara berpikir dan lantas dianggap sebagai kebenaran pada gilirannya? Bukankah keyakinan bahwa Islam melegitimasi perang secara serampangan justru akan menjadi prilaku para penganutnya?

Tapi, Al-Qu’an sendiri dalam sekian ayat melegalkan perang? Bukankah ini justru menyelingkuhi misi perdamaian yang dicita-citakan Islam sendiri? Bukankah ini malah kontraproduktif dengan spirit Islam sebagai cinta-kasih untuk semesta (rahmatan lil ‘alamin)?

Baiklah, kopi tambah lagi, Kisanak! Dalam Al-Qur’an memang terdapat ayat-ayat perang (musayifah), tapi jangan lupa juga terdapat ayat-ayat tentang perdamaian (musalimah). Pertanyaan lugunya: dalam rangka apa perang? Untuk misi apakah angkat senjata? Yang tak kalah prinsipil adalah: benarkah Nabi berperang atas nama agama?

Ini yang banyak kaum otak cingkrang dan cuti nalar tak tahu dan tak mau tahu: perang yang dihadapi Nabi semata defensif (difa’i), bukan ofensif (thalabi). Nabi tidak pernah menyatakan perang, beliau dan para pengikutnya—diperangi, sehingga, mau tak mau—melawan dan mempertahankan diri.

Nah, jika Nabi adalah Rasul yang cerdas dan penuh welas-asih, seharusnya pengikutnya pun juga demikian, lebih menggunakan akal sehat dan hati nurani dalam beragama. Lantas, mengapa belakangan ini kian berjibun-jibun Abu Jabal Abu Lahab modern yang teriak-teriak di jalanan mengaku membela Islam dengan menyatakan perang kepada siapapun yang tidak sepaham dengan mereka? Benarkah mereka membela agama, atau sebenarnya hanya para gelandangan dan pengangguran pencari nasi bungkus? Benarkah mereka pejuang kemanusiaan dan kedamaian, atau sesungguhnya Dajjal-Dajjal sok agamis pemburu selangkangan politik? Benarkah meraka para pejuang (mujahidin) atau tak lebih dari begundal dan bromocorah yang memahami agama sebatas atribut dan lantas menyembah-nyembah simbol?

Jangan lupa, perang dan saling bunuh adalah tradisi jahiliyah pra-Muhammad Saw. Di zaman jahiliyah, perang etnik sudah lazim terjadi dan mendarah-daging. Inilah tribalisme kebanggan Arab yang sedikit-banyak masih terus dibangga-banggakan oleh mereka yang mabuk Arab dan kerasukan Abu Jahal di era digital ini. Dan, sayangnya, terus-menerus terjadi hingga cahaya Islam datang, bahkan hingga milenium ketiga ini. Jangan lupa pula, tidak ada perang (atas nama dan demi membela) agama beberapa dekade belakangan ini, apalagi cuma bela bendera dan simbol-simbol politik tertentu dengan bungkus agama.

Praktis, perang di zaman jahiliyah—dan memang kebiasan Arab jahiliyah, termasuk jahiliyah modern dewasa ini—adalah perang perebutan sumber daya ekonomi dan akses politik, tak jauh-jauh dari selangkangan politik, sampai sekarang dan entah hingga kapan.

Oleh karena itu, kanjeng Nabi ditolak para begundal Arab jahiliyah bukan karena kebenaran agama dan Kitab Suci yang dibawa, sebab agama Muhammad Saw adalah kontinuasi dari agama para Rasul terdahulu. Islam ditolak oleh bangsa Arab jahiliyah karena jalas-jalas akan merusak secara radikal tatanan ekonomi monopoli sentralistik mereka, akan mangancam sistem politik golongan dan aristokrasi patrimonial mereka, serta akan merombak konstelasi budaya barbar mereka yang sangat menindas kaum lemah dan perempuan. Mau bukti?

Salah satu anasir jahiliyah adalah perbudakan (isti’bad), Islam justru menghapuskannya, sebab semua manusia sama menurut Al-Qur’an. Pemuka-pemuka Arab jahiliyah biasa memiliki puluhan istri, ratusan gundik dan simpanan, Islam malah membatasi hanya sampai empat, itupun dengan kualifikasi sangat ketat. Bahkan, Nabi mencontohkan hidup monogami di tengah masyarakat poligam dan kaum ningrat pemuja kelamin. Artinya, kanjeng Nabi justru mereduksi budaya poligami. Begitu pula arak, narkoba, judi, penyakit sosial macam korupsi, hegemoni politik, dll. Jelaslah kini bahwa nilai-nilai Islam akan merombak secara radikal tatanan politik, sistem ekonomi, dan konstelasi budaya jahiliyah akut yang sangat dibanggakan oleh bangsa Arab kala itu.

Baca Juga >  Politik Praktis Bukanlah Wilayah Kerja Jaringan GUSDURian

Sementara itu, kanjeng Nabi sebagai negarawan, sebagai tokoh spiritual, sebagai ekonom, sebagai diplomat, sebagai budayawan, sebagai katalisator, sebagai inisiator perdamaian, sebagai sosok toleran dan moderat yang menghormati perbedaan, sebagai kepala keluarga dan bahkan sebagai pembela kaum tertindas hampir tidak pernah diajar-sebarkan, bahkan oleh pemuka dan tokoh Islam sendiri, terutama ustadz-ustadz TV dan you tube pujaan kaum urban dan kaum “mie instan” yang enggan belajar agama berlama-lama di pesantren.

Puncak dari ironi semua itu adalah bahwa sosok Nabi lebih sering dinarasikan hanya sebagai penyebar agama yang membawa pedang ke mana-mana, poligami gaya hidupnya. Prakris, sosok Nabi digambarkan oleh oknum-oknum tempurung jahat sama persis seperti ustadz TV dan imam demo pemuja selangkangan politik, penebar kebencian dan intoleransi.

Tiba-tiba, kita mendapati sebagian umat Islam yang bengis, kasar, barbar, amoral, dan menggunakan “agama” sebagai kendaraan untuk meraih kuasa, sejak kepemimpinan Islam beralih ke dinasti (daulah), hingga kini, terutama di tahun-tahun politik, di mana syahwat “beragama” dengan selangkangan politik amat sulit dibedakan, jika tidak menyatu sama sekali. Mereka menjual agama dengan harga yang murah, menjagal ayat-ayat suci dan menyembelih hadits Nabi demi syahwat dan obsesi, mencoreng-moreng wajah Islam dan Indonesia di mata dunia.

Kisanak, di hadapan bani pengkavling surga itu, jangan coba-coba meniru Barat, sebab Anda akan dituduh Yahudi dan liberal, jangan sama sekali menyebut China, sebab Anda akan dicap komunis atheis, jangan membincang saintek, sebab Anda akan dilabrak dengan tuduhan ingkar sunnah, jangan pula membanggakan kekayaan tradisi Indonesia, sebab Anda akan distempel syirik. Mereka mau Anda bodoh dan bebal seperti mereka, titik. Benarlah yang dikatakan mendiang Muhammad Abduh (1849-1905) bahwa Islam dihalangi kemajuannya oleh oknum umat Islam sendiri (al-Islam mahjubun bil muslimin).

Tak pelak, agama adalah komoditas paling laris-manis di persada negeri belakangan ini. Anda tinggal kenakan serban, pakai daster, celana cingkrang, ditambah jidat legam dan jenggot impor, bawa pentungan dan bendera, teriak kafir di medsos, pekik takbir di jalanan, bawa-bawa Nabi dalam demonstrasi politik, mengajak Tuhan berpolitik praktis, hadiahnya apa? Poligami masal dan berseri plus umroh gratis dari politisi yang dibela, kalaupun mati pas demo berjilid-jilid dan bersilit-silit, sempak bidadari sudah menunggu di sana, sebab kapling surga telah dipesan sejak lama oleh imam-imam mereka.

Saya ingatkan bahwa dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak ada “imam” demo, yang ada hanya dua jenis imam, yakni imam mazhab (yurisprudensi/fiqih, hadits, kalam/teologi, tasawuf) dan imam shalat. Artinya, pimpinan demo itu bukan imam dan jangan sekali-kali disebut imam! Ini jelas pembodohan umat, penghinaan agama dan pelecehan akal sehat. Bukankah mahakiai Hasyim Asy’ari “hanya” disebut hadratusy-syaikh, artinya mahaguru, mengapa? Karena beliau hafal 6 kitab hadits paling otoritatif (kutubus-sittah) lengkap dengan sanadnya, karena beliau berjuang demi kemerdekaan tanah airnya. Lha, imam-imam demo itu hafal apa, bisa apa, punya jasa apa untuk Nusantara dan kebhinnekaan kita sebagai bangsa?

Aneh tapi nyata, sebagian umat Islam lebih memilih dan merasa bangga menjadi satpam agama lain, mazhab golongan yang lain; lebih sok jagoan dengan menjadi pendera kebudayaan dan kearifan lokal; lebih merasa paling berhak memonopoli surga dengan cara mempersetankan segala apa di luar gerombolan mereka. Inikah Islam? Benarkah ini prilaku yang diteladankan sang Nabi? Sampai kapan perang demi “kelamin” ini akan terus dikobarkan di bumi pertiwi?

Memang, tak ada satu pembangunanpun yang tidak ditulangpunggungi oleh hasrat berkuasa dan memonopoli. Akan tetapi, bukankah justru agama menjadi korban tabrak lari, Negara menjadi korban perkosaan yang terus merusak dirinya sendiri? Inikah yang akan kita wariskan kepada anak cucu? Inikah yang kita persiapan dalam menghadapi revolusi industri 4.0 dan bonus demografi 2045 nanti?

Anda sudah ngopi hari ini? Baik, mari selamatkan anak bangsa dari cuti nalar karena kurang ngopi!

Penulis: Ach Dhofir Zuhry, pendiri STF AL-FARABI dan pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah Kepanjen-Malang.Judul Asli dari tulisan ini adalah: Islam dan Selangkangan Politik