Ini Bukti Kemesraan Wahabi dan Ikhwanul Muslimin

Ini Bukti Kemesraan Wahabi dan Ikhwanul Muslimin

Posted on

Ini Bukti Kemesraan Wahabi dan Ikhwanul Muslimin.

Awal “persinggungan” Wahabi dan Mesir bisa dilihat dari berdirinya negara Saudi pertama, 1745-1818 M: Wahabi memperluas cakupan kekuasaannya sampai ke Iraq dan Syam, Qatar, Kuwait, Oman, Hijaz, dan Yaman. Ekspansi Wahabi ke Hijaz, melecut kemarahan Khilafah Utsmani. Sultan Mahmud menugaskan Muhammad Ali Pasha, wali Mesir ketika itu, untuk meluluhlantahkan Wahabi.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Agresi pertama ia perintahkan al-Amir Tusun, namun mengalami kekalahan. Muhammad Ali Pasha geram dan berlanjut pada agresi kedua: ia memimpin pasukan dengan jumlah yang sangat besar, membombardir Wahabi dengan perlengkapan militer modern. Agresi ketiga dilanjut oleh anaknya, Ibrahim Pasha, pada September (1818 M): ia merobohkan bangunan-bangunan Wahabi di Dir’iyyah sampai tak tersisa. Perang ini merupakan peperangan pertama antara Wahabi dan Mesir sekaligus penanda berakhirnya negara Saudi pertama—yang akan berlanjut pada negara “Saudi kedua” (1821-1889 M) dan “ketiga” (1902-1925 M), sampai sekarang.

Negara Saudi Ketiga adalah titik tolak: Wahabi masuk ke Mesir bersamaan dengan alih tangan gerakan pembaharuan Mohammad Abduh pada Rashid Ridla, dan bersamaan dengan berdirinya negara Saudi ketiga di tangan Abdul Aziz bin Abd al-Rahman. Abdul Aziz tak ingin negara Saudi mengalami nasib seperti Saudi sebelumnya. Secara persuasif, ia merencanakan “sesuatu yang besar” untuk Mesir. Mesir dianggap sebagai lahan strategis untuk menyebarkan paham Wahabi.

Oleh sebab itu, langkah strategis pertama yang ia lakukan adalah memperbaiki hubungan dua negara yang menegang karena pembakaran tandu Mesir pengangkut Kiswah oleh Wahabi di Mina—peristiwa ini dikenal dengan ihraq al-mahmal al-mishri. Pembakaran “Mahmal Mesir” masih menyisakan kemarahan Pemerintah Mesir dan sakit hati mendalam masyarakatnya. Abdul Aziz bersegera meminta maaf pada penguasa Mesir dengan mengutus al-Amir Sa’ud, putra Abdul Aziz. Ia datang ke Mesir didampingi oleh banyak sekali pengikut Wahabi. Karena kemampuan diplomasi, Amir Sa’ud, oleh Pemerintah Mesir, dijamu dan diberi fasilitas rumah. Amir Sa’ud kemudian menetap di Mesir dalam waktu yang cukup lama. Pada waktu itu, Sa’d Zaghlul, sempat datang menghadap ke Amir Sa’ud selama 20 Menit untuk membincang hubungan bilateral dua Negara. Keduanya juga bertekad melupakan “insiden penyerangan tandu Kiswah” di Mina.

Ahmad Subhi Mansur dalam “Judzur al-Irhab fi al-Aqidah al-Wahhabiyyah” menyimpulkan, gerakan Wahabi di Mesir mengalami momentum di tangan Rashid Ridla, murid Mohammad Abduh. Rashid Ridla sepakat dengan Mohammad Abduh dalam kritik tajam terhadap tasawuf yang diasumsikan simbol kemunduran Islam. Di tangan Rashid Ridla, gerakan Mohammad Abduh yang awalnya berhaluan reformis-Sunni, berubah menjadi ekstremis-Wahabi. Selain Rashid Ridla, awal mula gerakan tak bisa dilepaskan dari sosok Muhibuddin al-Khatib. Keduanya sama berasal dari Syam, dan sama-sama murid Muhammad Abduh—belakangan, beberapa kalangan menyangsikan bergurunya al-Khatib pada Mohammad Abduh. Abdul Aziz mendekati dua tokoh ini lewat penasehatnya di Mesir, Hafidz Wahbah. Di tangan keduanya pula, doktrin Wahabi bisa sampai masuk ke al-Azhar melalui dalih pemurnian agama. Muhibuddin al-Khatib merupakan seorang yang gigih menyebarkan buku-buku Ibnu Taymiah.

Baca Juga >  Terlalu! Alasan Taraweh di Monas Ternyata Instagramm-able

Rashid Ridla kemudian memperkenalkan Hafidz Wahbah pada Hasan al-Banna, tokoh yang terinspirasi dari Rashid Ridla, sekaligus pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin. Dalam Mudzakkarat al-Da’wah wa al-Da’iyah, Hasan al-Banna mengakui hubungannya dengan Hafidz Wahbah. Muhammad Husein Haykal ketika bertemu Hasan al-Banna pun mengamini kedekatan Hasan dengan Pemerintah Saudi. Sedang menurut saudara kandungnya, Jamal al-Banna, melalui aliran dana dari Saudi, kakaknya mampu membangun ribuan cabang Ikhwan di pelbagai pelosok negeri. Abd al-Khaliq Husein dalam tulisannya di “hewar.org” mengatakan, gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir sebenarnya perpanjangan dari gerakan Wahabi di Saudi. Oleh sebab itu, penamaan keduanya hampir sama—untuk tak dikatakan berbeda: “Ikhwan al-Wahhabiyyin al-Najdiyyin” di Saudi, dan “Ikhwanul Muslimin” di Mesir.

Lebih jauh ia mengatakan, tanpa Wahabi, mustahil terlahir Ikhwanul Muslimin. Menurutnya, asumsi tak ada relasi antara Ikhwanul Muslimin dan Wahabiyyah karena kurangnya pembacaan komprehensif terhadap buku-buku sejarah kemunculan Wahabi. Ada tiga buku yang secara instan menyajikan relasi kedua kelompok ini: pertama, Qishshat al-Asyraf wa Ibn Sa’ud (Dr. Ali al-Wardi); kedua, Judzur al-Irhab fi al-Aqidah al-Wahhabiyyah (Ahmad Subhi Mansur); ketiga, Judzur al-Istibdad fi al-Fikr al-Wahhabi (Ahmad Katib).

Dalam al-Tarikh al-Sirri li al-Ikhwan al-Muslimin disebutkan, semenjak munculnya gerakan Wahabiyah di pertengahan abad 18, tak lagi muncul gerakan yang mempunyai menejemen baik dan rapi selain Ikhwanul Muslimin. Hubungan kedua kelompok dapat terlihat ketika Ikhwanul Muslimin kabur dari Mesir karena penangkapan massal toko Ikhwan oleh Jamal Abd al-Nashir. Pada akhirnya pengikut gerakan ini lari ke Arab Saudi. Bahkan mereka mendapat perlakuan istimewa di Saudi. Di antara mereka yang lari ke Saudi adalah Sa’id Ramadhan, menantu Hasan al-Banna. Dalam masa pengejaran pengikut Ikhwan di Mesir, Arab Saudi mendekati tokoh Ikhwanul Muslimin, termasuk di dalamnya adik kandung Sayyid Quthb, Mohammad Quthb, untuk datang ke Saudi. Ia kemudian menjadi dosen di King Abdul Aziz University. Ini yang dimaksud, anggota Ikhwan yang lari ke Saudi ikut “membangun” negara Saudi ketiga.

Wahabi, menurut salah seorang teman, seperti minuman keras: merusak dari dalam. Apabila minuman keras merusak “badan” dari dalam, maka Wahabi merusak “Islam” dari dalam. Entah dapat ilham dari mana teman saya itu, tapi ada benarnya juga. Ahmad Zaini Dahlan, guru dari guru Ulama Jawa, Nawawi al-Bantani, dalam buku yang merupakan saksi sejarah dimulainya gerakan Wahabi: “Khulashat al-Kalam fi Bayani Umara Balad al-Haram” mengatakan, fitnah Wahabi termasuk bencana terbesar bagi umat Islam.

Penulis: KH Ahmad Hadidul Fahmi, Banyumas, almuni Al-Azhar Mesir.