kiai sahal

Ini Alasan Utama Kiai Sahal Mahfudh Enggan Berpolitik Praktis

Kemarin waktu di kantor Perguruan Islam Matholiul Falah (PIM), biasa disebut Mathole’, Guru kami Mbah Yai Mu’adz Thohir (hafidlohulloh) bercerita saat beliau bertanya kepada Mbah Sahal Mahfudh (Allahu Yarham) mengapa tidak berpolitik praktis:

“Mbah, mengapa panjenengan enggan berpolitik -praktis- sedangkan panjenengan sangat pantas untuk menjadi pemimpin”?

(Kualitas keilmuan dan kecakapan beliau dalam menyampaikan gagasan sangat luar biasa) tambah Mbah Mu’adz.

“Aku tidak mau melakukan lima hal yang -kebanyakan- melekat dalam diri politisi, yaitu: Fattan, iftiro’, kaddzab, riya’ dan ujub)” Jawab Mbah Sahal.

—————————-

1. Fattan: banyak membuat fitnah (rela memfitnah orang lain demi tercapainya kepentingan pribadi atau partainya).

2. Iftiro’: membuat kebohongan (merekayasa semua hal dibungkus dengan kebohongan untuk mendapatkan dukungan dari rakyat).

3. Kaddzab: banyak berbohong (harus berani berbohong demi mendapatkan kepercayaan masyarakat).

4. Riya’: pamer (sering menunjukkan hasil kerjanya bahkan mengakui bahwa keberhasilan pemerintahan karena jerih payahnya. Selalu memamerkan keberhasilan -yang terkadang hanya pengakuan saja- kepada masyarakat untuk meraup suara rakyat).

Baca Juga >  KH Ali Maksum Merestui, KH Aziz Umar Bawa Perjuangan NU di Politik

5. Ujub: membanggakan diri sendiri. (Selalu merasa bahwa dirinya yang paling berhak untuk dipilih. Bahwa pimpinannya yang paling berhak untuk dipilih karena memiliki kecakapan dari pada paslon yang lain).

————

“Setiap orang berpotensi memiliki lima sifat buruk tersebut. Tapi apakah ia mau mengamalkannya ataukah tidak?” Tambah Mbah Mu’adz Thohir.

Tulisan ini bukan untuk mencela orang-orang yang terjun dalam politik praktis. Tapi untuk dijadikan pelajaran bahwa menjadi politisi harus menjaga diri dari sifat-sifat tercela di atas. Semuanya kembali pada pilihan masing-masing. Mbah Sahal tetap berpolitik, tapi politik kebangsaan. Mempengaruhi para pemangku kebijakan.

Rabu, 5 Desember 2018

(Taufik Zubaidi, alumni Perguruan Islam  Matholiul Falah (Mathole’) Kajen Pati)