Indonesia, Pelajarilah Perilaku Ikhwanul Muslimin di Suriah

Posted on

Oleh: Dina Y. Sulaeman, Pengamat Timur Tengah

Beberapa waktu terakhir, orang-orang IM pendukung “jihad” Suriah sibuk ber”jihad” di Indonesia, menyebut pemerintah sebagai “rezim yang zalim dan curang” dan “antek China-Komunis”.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Nah, setelah beberapa pentolan gerakan mereka kabur ke luar negeri, atau diperiksa polisi, sepertinya instruksi dari “bos” sudah berganti: balik lagi ke isu Suriah & pengkafiran Syiah. Pokoknya, Indonesia harus dibuat gaduh terus.

Hoax lama pun didaur ulang lagi, antara lain: “kota Hama adalah pusat dakwah Sunni dan pada 1982 penduduknya dibantai oleh Hafez Assad (ayah presiden yang sekarang) yang berpaham Syiah.”

Mereka yang gemar sekali menyodorkan ‘cerita’ ini menghilangkan satu fakta penting: mengapa Hafez Assad menyerbu Hama tahun 1982? Apa dia membunuhi warganya semata-mata karena Sunni-Syiah?

Tentu tidak. Kota Hama adalah pusat aktivitas kelompok Ikhwanul Muslimin. Ingat, tidak semua orang Sunni pendukung IM ya. Misalnya saja, anggota&simpatisan NU yang jumlahnya sekitar 60-80% dari seluruh muslim di Indonesia (menurut Alvara Research Center, 2018) jelas bukan anggota IM.

Di Timur Tengah, IM punya track record melakukan aksi-aksi pemberontakan melawan rezim penguasa. Dulu awalnya sih (di Mesir) bagus, melawan rezim yang jelas-jelas bekerja sama dengan penjajah. Tetapi setelah IM disusupi pemikiran Wahabi-Salafi banyak sekali penyimpangan dalam perjuangan mereka. Mereka sering (sengaja) gagal paham, mana yang harusnya dimusuhi, mana yang tidak.

IM di Indonesia, Anda sudah tahu sendiri bagaimana kelakuan mereka. Teriak-teriak rezim zalim, padahal mereka bebas-sebebas-bebasnya jadi ASN, berkuasa di instansi pemerintahan, BUMN, dan kampus-kampus, bahkan ada yang jadi menteri. Kok mereka ga pernah ribut mengata-ngatai Saudi zalim ya, padahal di sana aktivis IM ditangkapi dan IM dinyatakan organisasi terlarang?

Di Suriah pada 1982, IM dengan didukung oleh negara-negara asing (terutama AS, Jordan, dan Israel) menggalang pemberontakan bersenjata untuk menggulingkan presiden saat itu, Hafez Assad. Dr. Tim Anderson mengutip buku Patrick Seale (1988) Asad: the struggle for the Middle East, yang menceritakan kronologi pemberontakan Hama; dimana banyak senjata buatan AS ditemukan. Jumlah korban pun masih simpang siur hingga kini, hanya ada klaim-klaim. IM tentu saja mengklaim angka fantastis: 45 ribu tewas.

Baca Juga >  Ingat Gajian, Ingat Zakat Penghasilan

Soal klaim angka, kita orang Indonesia tidak aneh lagi: sudah biasa kok, sekian ratus ribu diklaim 7 juta ya kan?

Saya menentang perang dan pembunuhan. Tapi sekedar menyodorkan perspektif: bila aktivis IM di Indonesia dapat duit dan senjata dari AS, lalu angkat senjata, main bom sana-sini, menurutmu, apa yang akan dilakukan oleh Presiden dan TNI?

Nah, setelah Mei lalu ada yang coba-coba bawa skenario Suriah di Jakarta, Anda bisa membayangkan kan, apa yang terjadi di Suriah di awal-awal aksi demo 2011?

Di antara yang mereka sebar luaskan (dan didukung oleh media Barat): tentara Suriah membantai rakyat. Sniper bertebaran, menembaki massa, dan yang dituduh sebagai pelaku adalah aparat. Strategi seperti ini bisa ditemukan di berbagai aksi demo lain di Timteng atau di Eropa Timur; agaknya ini SOP aksi yang diajarkan oleh lembaga-lembaga konsultan demo (sebelumnya pernah saya tulis).

Di sini, polisi mereka sebut pelanggar HAM, Brimob disebut diimpor dari China, dan ada seleb medsos yang menganalogikan Brimob dengan tentara Zionis.

Kalau di Suriah, teriakan mereka: “lawan rezim Syiah la’natulloh!”, kalau di Indonesia “lawan rezim zalim antek China dan komunis!”

Demikian cerita singkat soal Suriah dan komparasinya dengan Indonesia. Di Suriah, di antara faksi yang angkat senjata itu IM (yang lain ada Hizbut Tahrir, ISIS, Alqaida) padahal IM bukan ideologi mayoritas di sana. Tapi yang sedikit ini sedemikian berisik sehingga mampu menyeret negeri mereka sendiri ke dalam perang.

Jadi Indonesia, belajarlah…

 

*Tulisan ini diambil redaksi dari Fanpage Dina Sulaiman