Imam Malik Rela Menjual Atap Rumah untuk Ilmu

  • Whatsapp
Imam Malik Rela Menjual Atap Rumah untuk Ilmu

Imam Malik Rela Menjual Atap Rumah untuk Ilmu.

Ini tentang kisah perjuangan finansial para penuntut ilmu. Ada ungkapan menarik dari salah seorang ulama;

قال الإمام شعبة : ” من طلب الحديث أفلس”

Imam Syu’bah mengatakan : “barang siapa menuntut ilmu hadits, maka ia akan jatuh bangkrut..”

(جامع بيان العلم و فضله، الإمام ابن عبد البر)

Sungguh, apa yang beliau sampaikan tidaklah berlebihan.

Bagi orang yang belum menyelami bagaimana pengorbanan para ulama dahulu dalam belajar dan menuntut ilmu, ungkapan ini pasti terdengar asing dan mengherankan. Padahal, jika kita melihat, ungkapan ini hanya sedikit gambaran bagaimana potret dari semangat juang para ulama dahulu yang luar biasa.

Apapun itu mereka korbankan untuk ilmu. Bahkan pada hal-hal yang kebutuhannya bersifat primer seperti rumah dan pakaian. Bagaimana tidak, jikalau Imam Malik sampai rela menjual atap rumahnya untuk keperluan menuntut ilmu, Imam Syu’bah menjual bak mandi ibunya, Imam Abu Hatim menjual pakaiannya satu per satu sehingga yang tersisa hanya pakaian yang melekat di badannya, dan Imam Ahmad sampai rela safar tanpa alas kaki karena menggadaikan sandalnya sebagai bekal perjuangan menuntut ilmu.

Ketahuilah, mereka mengorbankan benda-benda itu karena hanya itulah yang mereka miliki.

[Diceritakan dengan sanadnya oleh syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam kitab masyhur beliau (صفحات من صبر العلماء)]

Suatu kali, Imam Yahya bin Ma’in pernah ditanya setelah mendapat kekayaan warisan dari ayahnya, “apa yang akan kau perbuat dengan semua ini?”, ia menjawab dengan penuh keyakinan, “saya akan infaqkan semua ini untuk belajar hadits.”

Bahkan dahulu ada ulama yang sudi mengeluarkan beberapa dinar (keping emas) miliknya hanya demi membeli tinta untuk menulis.

Dan kisah-kisah lain yang luar biasa, banyak diantara mereka yang jatuh bangkrut demi ilmu. Bahkan ada diantara mereka yang rela menjual seluruh pakaiannya, hingga ia hidup tak berbusana di dalam rumahnya sendirian.

Allah.. Pengorbanan kita masih jauuuuh.

Imam Ali bin Harb pernah bercerita,

أتينا زيد بن الحباب، فلم يكن له ثوب يخرج فيه إلينا، فجعل الباب بيننا و بينه حاجزا، و حدثه من ورائه -رحمه الله تعالى”

[صفحات من صبر العلماء | ٢٣٤]

Kami mendatangi Zaid bin Hubab untuk belajar hadits, keadaan beliau saat itu tidak memiliki pakaian yang dengannya ia bisa menemui kami, kemudian ia menjadikan pintu rumahnya menjadi tirai pengahalang diantara kami dan beliau, dan berlanjutlah periwayatan hadits tersebut dibalik pintu itu.

Umar bin Hafs al Asyqor juga pernah bercerita,

إنهم فقدوا البخاري أياما من كتابة الحديث بالبصرة، قال : فطلبناه فوجدناه في بيت و هو عريان، و قد نفد ما عنده و لم يبق معه شيء..

[تاريخ بغداد للخطيب| ٢\١٣]

Dahulu para penuntut ilmu itu pernah beberapa hari mencari-cari Imam Bukhori di Bashrah untuk menimba hadits, setelah dicari ternyata mereka menemukan Imam Bukhori dalam keadaan telanjang di rumahnya, telah habis apa yang ia punya dan tak ada tersisa satupun yang ia miliki.

Teman teman..

Begitulah menuntut ilmu.

Ia adalah jalan pengorbanan.

Jika engaku serius mencintainya, engkau akan korbankan segalanya.

Ia tidak hanya memaksa penuntutnya untuk mengorbankan energi, waktu, tenaga, dan pikirannya, ia juga menuntut untuk terkorbannya harta.

Kadang kita harus rela untuk tak berbelanja dan makan enak, demi mampu berbekal dalam menuntut ilmu, menempuh perjalanan menuju halaqah halaqah para ulama, membeli kitab-kitab utama dan mampu memuaskan penasaran pada kitab-kitab baru yang menggiurkan. Kadang ia berjilid-jilid tebal mempesona.

Pantas dahulu Imam Malik berkata:

“لا ينال هذا الأمر -يعني العلم- حتى يُذاق طعم الفقر”

“Seseorang tidak akan memperoleh ilmu, sampai ia merasakan pahitnya kefaqiran”

Jika diantara teman-teman ada yang sudah berkorban banyak dalam menuntut ilmu, siap untuk tidak makan enak, dan rela untuk tidak kenakan pakaian baru demi pengalokasian uang ke kitab dan bekal-bekal belajar, maka sungguh dia sudah mengamalkan sunnahnya para ulama.

Memang harus seperti itu, bukannya kita yakini bahwa ilmu adalah sesuatu yang termahal? bukannya kita tahu bahwa suatu yang mahal tidak bisa terbayar dengan suatu yang remeh-temeh?

Tapi.. Ingat!!

Itu tak seberapa dari apa yang Allah persiapkan bagi pejuang pejuang ilmu dari keagungan, derajat yang tinggi dan pahala yang besar.

إن الفقيه هو الفقير و إنما

راء الفقير تجمعت أطرافها

Semoga Allah memberikan kita taufiq dan ‘inayah-NYA.

Penulis: Amru Hamdany, Universitas Al-Azhar Mesir.
Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *