Lebaran, berhari raya, sering digambarkan sebagai hari mengunjungi sanak famili, kaum kerabat, dan tetangga, saling bersilaturahmi, bergembira, dan bersuka ria. Namun ada sementara, yang melakukan lebih dari sekedar itu. Mengunjungi guru, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, menghubungkan tali ilmu dan rabithah. Begitu laku “urangsiak” (santri) di Minangkabau, di masa lalu.
Demi melanjutkan tradisi yang baik itu, maka kemarin, saya dan beberapa orang yang sangat saya pandang ‘alim ‘allamah, mengunjungi satu di antara “Sulthanul ‘Auliya’ Luhak Limo Puluah” di Pedalaman Lima Puluh Kota. Dalam usia yang sangat sepuh, 98 tahun, syekh tersebut menyambut dengan ceria, tandanya senyum simpul manis yang tampak di wajahnya, di tengah kerumuman orang yang hendak menemuinya. Setiap tanya di jawab, setiap tatapan disambut dengan senyum terbaik; dijamunya tamu-tamu yang semuanya pada thabaqat cucu itu dengan adat yang indah. Begitulah seorang ulama menyambut.
Anak-anak kecil di do’akannya, dengan meletakkan tangan di atas kepala mereka. Inilah ulama Minangkabau, yang tinggal tak seberapa, dan mereka mastur, tersembunyi, jauh dari keramaian. Mereka tidak memperkenal diri, dan tidak ingin dikenal.
Saya teringat dengan dua bait syi’ir yang termaktub dalam kitab Mawahib Rabbil Falaq karya Syekh Isma’il al-Khalidi Minangkabau:
لي سادة من عزهم # أقدامهم فوق الجباه
إن لم أكن منهم فلي # في حبهم عز وجاه
Terjemahannya kira-kira: “Bagiku ada beberapa penghulu (ulama), yang dimuliakan. Tapak kaki mereka berada di atas segala dahi. Meskipun aku bukan bagian dari mereka, namun bagiku mencintai mereka adalah kemuliaan dan tuah.”
Foto di bawah ini adalah dokumentasi perjalanan mengunjungi Sulthanul Auliya’ tersebut. Lokasinya jauh di pedalaman; di atas bukit di balik gunung. Pun mobil tidak sampai ke lokasi, mesti berjalan kaki hampir sejauh 1 KM. Kondisi alam yang sejuk di kelilingi hamparan sawah mengobati letih dan lelah.
Kisah perjalanan ini ditulis, ditengah kesedihan atas wafatnya ulama besar al-Azhar, al-Mu’ammar Arif Billah Syekh Mu’awwadh Awadh Ibrahim, yang berusia lebih 105 tahun. Alfatihah…
(Penulis: al-Faqir Apria Putra Engku Mudo Khalis)








