Cara Unik Nyai Zainab Shiddiq Jember dalam Mendidik Kesuksesan Anak

nyai zainab shiddiq jember

Cara Unik Nyai Zainab Shiddiq Jember dalam Mendidik Kesuksesan Anak

Nyai Zainab Shiddiq Jember; Seuntai Pelajaran Tentang Mendidik Anak.

Beliau lahir di Jember pada tahun 1915 M dari ayah KH Muhammad Shiddiq dan Ibu Nyai Maryam. Beliau menikah dengan KH Muhammad Bin Hasyim dari Sidoarjo, Pejuang Hizbullah zaman penjajahan Belanda. Awal berumah tangga beliau tinggal di Sidoarjo mengikuti suami. Namun, dengan aktifitas KH Muhammad Bin Hasyim sebagai komandan Hizbullah Sidoarjo, membuat keluarga tersebut selalu dicari dan dikejar oleh Belanda. Akhirnya, keluarga tersebut pindah ke Jember untuk menghindari kejaran pasukan Belanda demi keselamatan putra putrinya.

Cara Unik Nyai Zainab Shiddiq Jember dalam Mendidik Kesuksesan Anak

Tidak lama tinggal di Jember, sang suami wafat di usia 52 tahun. Akhirnya membuat Nyai Zainab sendirian merawat dan mendidik putra putrinya yang berjumlah 7 orang yang masih kecil.

Sang suami wafat ketika putra pertama berumur kisaran 14 tahun dan putra terakhir berumur 3 bulan.

Kisah yang semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita adalah bagaimana beliau mendidik putra putrinya hingga tumbuh besar namun di waktu yang bersamaan beliau juga mendirikan dan mengasuh pesantren Putri yang akhirnya dikenal dengan ponpes Nyai Zainab Shiddiq Talangsari.

Diantara putra putrinya adalah ;

1. KH Hizbullah Huda.

Beliau adalah salah satu pendiri PMII di Jawa Timur. Pernah berkhidmat sebagai ketua Ansor Jawa Timur dan menjadi panglima Ansor JATIM ketika memerangi PKI, lalu beliau diberi amanat sebagai anggota DPRD JATIM hingga anggota DPR RI.

2. KH Faruq Muhammad

Beliau adalah pendiri pondok Riyadhus Sholihin Patimura Jember. Beliau juga pernah diberi amanat sebagai Ketua Departemen Agama kabupaten Jember

3. Nyai Fathiyah Muhammad.

Beliau pernah diberi amanat sebagai Ketua Muslimat Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Beliau juga adalah dosen di UIN Sunan Kali Jogo.

4. Nyai Nur Endah

Beliau pernah diberi amanat sebagai Ketua Muslimat Wilayah Jawa Timur. Beliau juga dosen di UIN Sunan Ampel. Beliau juga pernah diberi amanat sebagai anggota DPRD JATIM.

5. Nyai Elok Faiqotul Himmah

Beliau adalah putri yang mendapat amanat untuk meneruskan mengasuh ponpes Nyai Zainab Shidddiq. Beliau juga pernah diberi amanat menjadi ketua Muslimat kabupaten Jember.

6. KH Nadhir Muhammad

Beliau pernah diberi amanat sebagai Ketua PPP Jember pada zaman Orde Baru, lalu diberi amanat untuk menjadi anggota DPRD Jember hingga menjadi Anggota DPR RI. Pada akhir hayatnya beliau ditakdirkan untuk mengasuh Ponpes Putri Nyai Zainab Shiddiq lalu diberi amanat sebagai Pengasuh Kedua Ponpes Darus Sholah Tegal Besar dan juga menjadi anggota Dewan Syuro DPP PKB atas permintaan KH Abdurrahman Wahid.

7. KH Yusuf Muhammad.

Beliau adalah pendiri dan Pengasuh pertama Ponpes Darus Sholah Tegal Besar Jember. Beliau juga pernah diberi amanat menjadi anggota DPR RI PKB. Dan semasa kuliah diberi amanat menjadi ketua PMII Yogyakarta. Beliau juga dikenal sebagai Muballigh yang sering berdakwah.

Tulisan ini bukanlah tulisan yang ingin berkisah tentang putra putri beliau, tapi tulisan ini adalah tulisan yang mencoba berbagi tentang salah satu cara bagaimana seseorang mendidik putra putrinya.

Pertama, diantara cara beliau mendidik putra putrinya adalah beliau selalu istiqomah membaca surat al-fatihah untuk putra putrinya satu persatu selepas sholat fardhu.

Kedua, diantara cara beliau mendidik putra putrinya adalah beliau istiqomah membaca sholawat dalail khairat sebagai bentuk cinta kepada Nabi Muhammad SAW dan juga untuk kebaikan beliau sekeluarga dan para santriwatinya.

Ketiga, diantara cara beliau mendidik putra putrinya adalah beliau menolak untuk menerima penghargaan dari Presiden Suharto sebagai Ibu Teladan, beliau menolaknya sambil berucap “saya takut kalau saya menerima penghargaan itu saya tidak mendapat pahala mendidik anak di akhirat kelak”.

Keempat, diantara cara beliau mendidik putra putrinya adalah beliau kurang berkenan untuk diajukan sebagai Ketua Muslimat. Bukan karena tidak berkenan berdakwah di Muslimat, namun beliau menyadari kemampuan beliau sebagai orang tua tunggal dan beliau memilih mendidik putra putrinya dan para santriwati, walaupun akhirnya semua putrinya menjadi ketua Muslimat di wilayahnya masing masing.

Kelima, diantara cara beliau mendidik putra putrinya adalah beliau selalu memaafkan orang orang yang mendzalimi dan merendahkan beliau dan putra putrinya ketika beliau hidup sendiri tanpa perlindungan suami, bahkan beliau selalu mengajarkan kepada putra putrinya untuk memaafkan dan tetap menjalin silaturahmi kepada orang orang yang mendzalimi dan merendahkan beliau dan putra putrinya.

Keenam, diantara cara beliau mendidik putra putrinya adalah beliau lebih memilih hidup prihatin dan jauh dari popularitas untuk kebaikan putra putrinya daripada hidup bergelimang kemewahan dan ketenaran walaupun beliau bisa meraihnya.

Hingga akhirnya, pada tahun 1981 beliau wafat di rumah dan dihadiri oleh KH Abdul Hamid Pasuruan. Kiai Abdul Hamid pun berkata ” Nyai Zainab ini bibi saya, jadi saya tidak batal”. Lalu Kiai Abdul Hamid pun mencium kening Jenazah Nyai Zainab dan berucap “Waliyyatullah”.

تلك الدار الا خرة نجعلها للذين لا يريدون علوا فى الا رض ولا فسادا…

“Akhirat itu kami jadikan bagi orang orang yang tidak menginginkan kesombongan di muka bumi dan kerusakan”

Semoga kita semua dianugerahi Allah putra putri yang membuat kita selalu tersenyum bahagia, baik ketika kita di dunia ini hingga ketika kita di akhirat nanti.

آمين يا الله…

الى حاجة زيبب صديق الفاتحة…

Demikian Cara Unik Nyai Zainab Shiddiq Jember dalam Mendidik Kesuksesan Anak. Semoga Bermanfaat.

Ahmad Gholban Aunirrahman, Pengasuh PPI Zainab Shiddiq Jember.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *