Healing Session bagi Relawan dan Penyintas Covid-19
(Perspektif Kesehatan Mental)
Pandemi covid-19 merupakan pandemic berdimensi multi sektor, tidak hanya segi kesehatan fisik yang berdampak serius namun psikologis seseorang juga mengalami gangguan yang bisa saja lebih serius dari yang dibayangkan. Banyak orang yang mengalami kegelisahan, kecemasan, ketakutan dan kebingungan karena banjirnya informasi asimetris dan misleading (infodemi) di masa pandemi covid-19.
Karena itulah Bidang Sosial Seni Budaya PW Fatayat NU DIY bekerjasama dengan Pusat Studi Keluarga dan Kesejahteraan Sosial Universitas Nadhatul Ulama Yogyakarta menginisiasi kegiatan healing session bagi relawan dan penyitas covid-19 (perspektif kesehatan mental) dengan narasumber Kuriake Kharismawan, S.Psi, M.Si, (Psikolog Dosen Psikologi UNIKA Soegijapranata) Semarang dengan moderator Yus Mashfiyah, M.Pd (Koordinator Bidang Sosial Seni Budaya) PW Fatayat Indonesia sekaligus sebagai salah satu Komisioner KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) Kota Yogyakarta. Kegiatan ini juga didukung oleh GarFa PW Fatayat NU, Sogan Batik Rejodani, sembilan Belas Dua Enam Official dan Pusat Studi Gender LPPM Universitas Nadhotul Ulama Yogyakarta.
Acara ini dilakukan berbasis pada kebutuhan dilapangan bagi para relawan GarFa (Garda Depan Fatayat) PW NU DIY yang selama ini melakukan kerja-kerja kemanusiaan di masyarakat baik menjadi relawan yang memberikan pemenuhan dasar berupa pembagian vitamin,makanan dan sembako bagi pasien Covid-19 tetapi juga menjadi team pemulasaran jenazah perempuan yang terinfeksi covid-19 yang tidak banyak orang bersedia melakukan pekerjaan yang resikonya besar namun tanpa bayaran, hanya orang-orang tertentu dengan hati yang sangat suci yang sanggup melakukan itu semua. Namun bukan berarti relawan kemanusiaan GarFa PW Fatayat NU DIY ini tidak mempunyai kecemasan secara psikologis, mereka manusia biasa yang pasti punya kecemasan yang sama dengan manusia yang lain. Karena itulah kegiatan healing session bagi relawan dan penyitas covid diadakan. Salah satu tujuannya adalah bisa membantu para relawan dan penyitas covid-19 untuk bisa melakukan self healing dasar untuk P3K dalam penanganan kejiwaan di masa Covid-19 ini, selain itu juga para relawan ini bisa memberikan dampingan psikologis dan melakukan edukasi untuk menumbuhkan semangat hidup pasien covid-19 baik saat terpapar maupun pasca sembuh (saat melakukan recovery).
Dalam kegiatan healing session yang dilakukan lewat zoom, Kuraike Kharismawan, S.Psi, M.Si, Psikolog, memaparkan sekaligus berbagi pengalamannya selama ini dalam menangani pasien covid-19 di salah satu rumah sakit di Semarang. Bahwa tantangan menjadi relawan covid-19 adalah terkadang relawan dihadapkan dengan “ketidak berdayaan” di satu sisi sebagai manusia dia ingin menolong orang lain, namun disisi lain merasa tidak berdaya karena cemas, takut tertular. Namun ini juga bisa teratasi saat jiwa dan rasa kepedulihannya tinggi untuk membantu orang lain, walaupun terkadang muncul kebingungan, setelah rasa peduli memenangkan dari ketidak berdayaan, ada rasa bingung tidak tahu caranya harus bagaimana untuk membantu pasien Covid-19 ini? Belum lagi masih ada stigma di masyarakat terkait Covid-19.
Healing Session bagi Relawan dan Penyintas Covid-19
Dalam healing session ini juga sebagai media sharing bagi penyitas Covid-19 yang mengalami langsung isolasi mandiri, bahkan ada sharing pengalaman dari peserta healing session yang menyatakan ketika menjalani isolasi mandiri di rumahnya ia mendapatkan diskriminasi dari satgas Covid-19 saat ia dan keluarganya terpapar Covid-19, padahal seharusnya sebagai Satgas Covid-19 harus lebih care, tidak diskriminasi dan memberikan akses ke masyarakat yang ingin membantu/mengedrop memberikan makanan ke pada tetangganya yang sedang covid-19 bukan malah diusir karena ketakutan tertular yang sangat tidak beralasan. Stigma-stigma yang dilekatkan kepada pasien Covid-19 ternyata tidak berakhir setelah mereka sudah dinyatakan negatif atau sembuh, saat mereka sudah dinyatakan sembuh dan masih menjalani recovery pun ada sebagian masyarakat yang masih “menjauhi”. Stigma juga dilekatkan kepada para tenaga medis dan relawan-relawan kemanusiaan yang bekerja untuk menangani dan mendampingi pasien covid-19 bahkan keluarga dan anak-anaknya pun tidak serta merta bebas dari diskriminasi. Melihat kondisi ini kiranya penting untuk terus menerus memberikan edukasi kepada semua lapisan masyarakat bahwa tidak ada yang perlu ditakuti secara berlebihan tapi tetap penting untuk melakukan kewaspadaan dengan mentaati prokes 5 M.
Beberapa kasus, gejala Covid-19 mirip dengan flu biasa. Namun, tidak menutup kemungkinan juga memiliki gejala yang berbeda, sehingga ketakutan, kecemasan yang berlebihan hingga memberikan stigma yang sangat merugikan relawan maupun penyitas covid-19 sungguh di luar batas kemanusiaan. Sangat bisa dimaklumi jika memang terjadi kecemasan yang sewajarnya namun ketika itu sudah bertindak mendiskriminasikan mereka maka perlu mendapatkan perhatian serius.
Lanngkah-langkah yang harus diambil adalah dengan memberikan edukasi ke masyarakat bisa melalui platfon media sosial maupun media lainnya, menggerakkan masyarakat untuk terus disiplin dengan 5 M yaitu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tanga, membatasi mobilitas dan menjauhi kerumunan. Selain itu juga harus sadar diri ketika sign tubuh memberikan signal bahwa pundak mulai tegang/kaku, tensi darah ataupun kadar gula tidak stabil, siklus mentruasi juga tidak teratur maka saatnya memberikan kesempatan tubuh untuk rileks, istirahat, karena kalau hanya mengikuti arus terus beraktifitas, maka kesehatan mental kita akan terganggu dan hasilnya tidak akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan. Ingat beraktifitas tanpa jeda, tubuh akan lelah dan mengakibatkan sumbu pendek lebih dominan. Ini pertanda bahwa tubuh memberikan “kode” bahwa tubuh ingin istirahat karena lelah. Selain itu berserah diri kepada sang Pencipta kehidupan juga perlu untuk ketenangan dan kebahagiian, ini semua adalah upaya dalam meningkatkan imunitas.
Banyak orang yang berpikir bahwa meningkatkan imun harus dengan minum vitamin, memang betul itu salah satu pendukung namun yang lebih penting adalah bagaimana membiasakan hal-hal yang membahagiakan dilakukan dalam keseharian. Misalnya mempunyai mimpi bahwa kehidupan akan berjalan dengan baik walaupun kadang tidak baik, namun kebaikan pasti akan selalu ada dunia, mempunyai cita-cita yang realistis untuk berusaha diwujudkannya, mencintai dengan cinta tanpa syarat kepada pasangan maupun orang disekitar kita, memberikan pujian dan selalu berpikiran positif. Tubuh yang sehat terletak pada kesehatan mental yang sehat.
Healing Session bagi Relawan dan Penyitas Covid-19
Penulis
Yus Mashfiyah, M.Pd
Koord Bidang Sosial, Seni dan Budaya PW Fatayat NU DIY
Dan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Kota Yogyakarta








