Bangkitmedia.com, YOGYA – Hujan gerimis sejak bakda Subuh menyelimuti arena kompleks makam masyayikh Pondok Pesanten Krapyak Yogyakarta di padukuhan Dongkelan, Kasihan, Bantul, (14/12/2025). Namun, hujan tersebut tidak menyurutkan hati para santri dan alumni untuk bergegas menuju maqbarah KH Atabik Ali.
Kalimah tahlil dipimpin oleh KH Abdul Hamid, dan diikuti para jamaah haul yang hadir di kompleks maqbarah. Tampak hadir keluarga besar PP Krapyak, Ibu Nyai Atik Atabik Ali, KH Jirjis Ali, Bu Nyai Lutfiyah, Bunyai Dina Zad, Bunyai Attiyah Laila, KH Choirul Fuad, Anas Urbaningrum, KH Hilmy Muhammad dan dzurriyahnya serta para santri putra-putri PP Krapyak Yayasan Ali Maksum, sekitar 500 orang.
Kiai Atabik Ali adalah putra pertama KH Ali Maksum, beliau dikenal sebagai ahli tafsir ilmu Al-Quran, salah satu karyanya yang terkenal adalah Kamus Al-Ashri yakni kamus Indonesia-Arab. “Beliau sangat alim di ilmu tafsir Al-Qur’an, bahkan hebat di bahasa Arab. Beliau mengarang kamus bahasa Arab, Indonesia, dan Inggris, Kamus Al-Ashri,” ujarnya Kyai Fuad, salah satu menantunya.
Dalam tausiyah singkatnya KH Abdul Hamid menyampaikan setidaknya ada tiga hal yang perlu kita ambil hikmahnya dari acara haul seorang tokoh, seperti almagfurlah KH. Atabik Ali.
Pertama, mendoakan kepada orang yang kita “hauli”, agar diberi ampunan Allah swt., dan diterima amal salihnya dan dijadikan alam kuburnya sebagai bagian dari pertamanan indah surga. Begitu juga, besar harapan kita suatu saat bila sudah waktunya kita menghadap Allah swt., akan banyak didoakan oleh orang lain.
Kedua, ceritakan yang baik-baik saja, dan diteladani apa yang bisa kita ambil dari sosok KH Atabik Ali dalam berkiprah di pesantren dan di luar pesantren. Sampai saat ini karyanya “Kamus Al ‘Ashri” karya beliau banyak manfaatnya bagi para santri dan akademisi di perguruan tinggi.
Ketiga, persiapan untuk kita semua. Karena kematian adalah keniscayaan, suka tidak suka, ridho tidak ridho, kematian itu pasti datang menghampiri kita semua. “Karena itu, mengutip hadis Nabi SAW; orang yang cerdas adalah orang yang banyak mengingat akan kematiannya dan memperbanyak bekal dengan ilmu dan amal salih”, untuk persiapan hidup selanjutnya yang lebih lama,” ungkap Kyai Hamid. (Arif Faozi)








