Harmoni dalam Bingkai Muktamar NU.
Oleh: Sayyid Muhammad Hilal Al-Aidid, Krapyak Yogyakarta.
Muktamar NU dalam bingkai penantian keseruan bagi para pengurus wilayah dan cabang, namun muktamar bagi para kiai sepuh iyalah sebuah renungan dari istisyaroh yang melahirkan gerakan istikhoroh serta ikhtiar dalam menirakati keputusan yang menghasilkan pemimpin berkualitas, yang mencakup seluruh akhlak serta adab dan fathonah serta bithonah Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Chasbullah, Mbah Bisri Syansuri dan mampu bergerak seperti pergerakan Gus Dur bagi lintasan zaman kebangkitan memasuki abad kedua NU.
Akhir-akhir ini, warga Nahdlatil Ulama di seluruh pelosok Tanah Air digembirakan dengan pemberitaan keputusan PBNU dengan memutuskan tanggal 23-25 Desember mendatang. Tentu kabar ini disambut baik bagi para nahdlyin, akan tetapi kabar inipun sedikit membuat sedih hati para ROMLI karena tidak bisa mengikuti dan memantau jalannya muktamar dan tidak bisa membawa oleh-oleh dari cerita perputaran muktamar karena dibatasi oleh covid 19.
Setiap warga NU memiliki harapan besar terhadap masa depan NU, dan sudah mulai saling bertanya siapa calon Tanfidznya dan siapa Rais Aam-nya. Ada yang mengatakan masih yang lama adpun yang berpandangan apa tidak ada kader NU selain itu, namun ada survei yang memberi informasi tentang kecenderungan warga NU lebih nyaman dengan pemimpin yang mampu berkolaborasi dengan semua pihak.
Dan kebetulan adat masyarakat kita senang dengan yang baru, dalam artian ketua umum-nya ketua baru. Namun semua pihak yang merasa peduli dan cinta terhadap kebangkitan terhadap NU ini tak lain dan tak bukan sebuah bentuk dari kemurnian kecintaan mereka terhadap NU.
Perbedaan di tubuh NU itu sangat biasa, dibuktikan dengan adanya lembaga yang bernama LBM (Lembaga Bahtsul Masail) yang mana LBM hidup dengan perdebatan dan perbedaan demi menghasilkan sesuatu kesepakatan hukum atau ijtihad yang mampu dijadikan payung hukum dalam berubudiyah. Jadi soal calon baru calon lama itu bukan hal yang tabu dibahas di kalangan warga NU.
Harapan orang NU pun sangat tinggi terhadap perkembangan NU secara nasional, namun diyakini oleh kebanyakan pengamat itu bisa terealisasi bilamana NU mampu melahirkan pemimpinnya di dalam Muktamar yang ke-34 di Lampung yang akan datang.
Saya sebagai nahdliyin sangat berharap Muktamar ke-34 yang akan diselengarakan di Lampung ini mampu memberi program kerja yang nyata bagi seluruh PCNU yang ada di pelosok Tanah Air. Dan dipastikan program PBNU tersosialisasikan dengan nyata sampai ke tingkat ranting.
Yang menarik dari NU yang patut kita ketahui bersama, NU memiliki 34 PWNU dan lebih dari 500 PCNU di seluruh Indonesia. Jadi ketika kebanyakan PWNU dan PCNU menyuarakan adanya pemimpin baru di tubuh NU sungguh sangat bisa diterima dengan kearifan karena maksud daripada mereka tak lain hanya menginginkan sebuah kesehatan bagi jam’iyah.
Mari kita sebagai nahdliyin mengharapkan Muktamar sebagai hari raya sekaligus hari kemenangan bagi kebangkitan seluruh warga Nahdlatil Ulama. Mari kita berdoa dengan keyakinan yang kokoh, Muktamar NU insya Allah aman damai karena NU didirikan oleh para Aulia’ yang memiliki maqom yang tinggi dan mampu memayungi setiap perputaran zaman, itulah para pendiri NU.
والله الموفق إلى أقوم الطريق
Krapyak, Yogyakarta, 20 Oktober 2021.








