gus dur jepang

Harganya Mahal Makan di Hotel, Gus Dur Pilih “Ngangkring” di Jepang

Posted on

Waktu itu akhir Desember 1996. GD diundang oleh salah satu lembaga milik Kementerian Luar Negeri Jepang (JIIR) ke Tokyo untuk sebuah seminar internasional mengenai Islam. Dipelopori oleh mantan Dubes Jepang untuk AS yang sangat dihormati, Mr. Matsunaga (kalau tak salah namanya), seminar tentang Islam yang baru pertama kali dilakukan Kemlu Jepang itu mengundang semua tokoh terpenting di Jepang, termasuk kalangan politik, cendekiawan, pengusaha, budayawan, mahasiswa, dll.

Selain GD, yang selain dimasukkan sebagai tokoh Islam terkemuka di Indonesia dan ASEAN, juga diundang John Esposito (AS), Takashi Shiraisi (Jepang), AA (India), dan tokoh ulama syiah dari Iran (saya lupa nama beliau). Saya, yang baru pulang dari sekolah belum cukup setahun, diajak GD untuk ikut sekalian menimba pengalaman dan ilmu.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Karena seminar ini ditujukan kepada publik Jepang yang belum tahu atau sedikit sekali mengenal Islam, maka oleh panitia dibuat rada istimewa. Tempatnya di sebuah hotel yang termasuk terbaik di Tokyo, yaitu Hotel Okura, yang lokasinya persis di sebelah Kedubes AS.

GD dan saya sampai di Hotel Okura sekitar jam 10.30 setelah dijemput dari Narita menggunakan limousine dan menempuh perjalanan sekitar dua jam. Begitu tiba, kami berdua, terutama saya, langsung merasa rada ‘intimidated” dengan hotel yang begitu wah dan pelayanan ala Jepang yang super sopan dan halus, tapi luar biasa efisien dan efektif! Lebih “seru” lagi ketika GD mau mengajak makan siang dan memeriksa buku menu room service hotel. Saya rasanya shock melihat harga yang tertera di sana, sampai GD pun tersenyum-senyum.

“Mahal ya Kang, makan di hotel mewah ini,” kata beliau.

Saya bilang, “Kalau mahal itu fitnah Gus. Yang benar suangat mahal.” Kami berdua pun ngakak!

“Tapi Gus, sebenarnya kita ini kan ditanggung untuk makannya juga,” kata saya.

“Iya, tapi sampeyan lihat kan kita ini belum masuk jam makan siang, dan ini belum di-cover. Makanya kita tadi disangoni panitia untuk makan pagi dan siang kalau masih belum diatur panitia,” kata GD.

“Benar Gus, tapi kok mahal begini ya, jangan-jangan sangu yang diberikan gak cukup. Lihat saja, sarapan continental ala Amerika saja sekian ribu yen. Kalau makan siang lebih mengerikan lagi, Gus,” saya bilang.

“Sudah gini saja Kang. Kita jalan-jalan saja keluar hotel, cari warung kecil khas Jepang. Mungkin nanti ada yang lebih murah. Sangunya nanti kita simpan buat beli oleh-oleh…,” kata GD.

“Oke Gus, saya ndherek saja….”

Maka jalanlah kami berdua keluar hotel agak jauh di depan Kedubes AS. Ternyata GD benar, ada sederetan restoran Jepang yang mungil-mungil yang menjajakan makanan seperti bento, ramen, shusi, yosenabe, di samping makanan dalam kotak seperti mie cup ala Jepang (ramen). Kami berdua masuk dan memesan yosenabe (sup ikan) dan beberapa potong shusi serta ocha (teh) panas. Lumayan juga bisa makan kenyang dengann harga jauh sekali di bawah menu Hotel Okura.

“Nah, Kang. Kita kan perlu mesen makanan di hotel. Kita beli saja mie cup beberapa dan nanti kalau lapar kita makan di kamar. Ngirit uang sangu kan….”

“Sip lah Gus, saya juga suka model mie cup ini kok,” jawab saya.

Baca Juga >  KH Suyuti Guyangan dalam Arsip Nasional RI

Kami pun membeli beberapa biji mie cup dan dimasukkan ke dalam tas plastik putih, terus kembali ke hotel. (Terus terang saya agak malu juga membawa tas plastik berisi mie cup karena sangat tidak pas dalam lingkungan yang demikian kontras! Tapi karenan GD cuek saja, maka saya pun gak mau mikirin…)

Baru saja kami akan masuk lift, tiba-tiba ada suara memanggil GD, dan ketika kami menengok ternyata ada orang berbaju India warna putih berlari kecil menghampiri GD.

“GD, wait up….”

“Oh, masya Allah, Dr. Ali Asghar, how’ve you been?” (Apa kabar Dr. AA?) GD menyalami orang itu.

“You just coming in or you’re already here for several days?” (Anda baru saja sampai atau sudah beberapa hari di sini?)

“We’re just in a couple of hours ago and came back from lunch.” GD mengatakan bahwa kami baru sampai dan barusan makan siang

“Oh, I should have been going to lunch with you, Gus. I really am starving, but couldn’t eat here in the hotel. The price’s crazy!” Kata AA bahwa beliau gak mungkin makan siang di hotel karena harganya edan-edanan. (Kami pun tertawa bareng)

“Oh by the way, Doctor, this is Dr. Hikam, my colleague from Jakarta. He’s just graduated from the US and works at LIPI. Of course, he’s a NU too, he he he…” kata GD mengenalkan saya yang lalu saling bersalaman.

Saya lihat GD sangat gembira bertemu Dr. AA di sini dan langsung kumat penyakit guyonnya (saya tulis dengan bahasa Indonesia saja).

“Begini, Dr. AA. Kita tadi keluar hotel juga karena harga makanan di sini gila-gilaan. Daripada uang sangu kita bayarkan ke hotel, lebih baik kita makan di warung kecil saja. Jadi sekarang saya dan Kang Hikam ini ikut gerombolan Abu Noodle, bukan Abu Nidal teroris. Hahahah …” (Saya dan AA juga cekakakan karena GD memelesetkan nama tokoh teroris Palestina dengan mie cup)

“Wah, kalau begitu, saya juga harus menjadi anggota group Abu Noodle, dong. Di mana tempatnya?” AA menimpali dan GD lalu memberi tahu tempatnya.

Malamnya, ketika ada resepsi “mewah” yang dihadiri oleh Menlu, kami bertiga duduk di meja yang sama. Baru saja duduk, AA sudah menepuk bahu GD.

“GD, saya sekarang resmi jadi anggota kelompok Abu Noodle. Tadi siang saya juga beli beberapa mie cup dan saya akan makan itu saja, kecuali ada makan gratis seperti malam ini, he he he….”

Saya benar-benar terpesona dengan keakraban beliau berdua yang dalam keadaan apa pun selalu tak melupakan humor. Malam itu GD diminta memberi sambutan utama dalam resepsi disusul oleh yang lain, termasuk AA.

Beliau bilang sama saya, “Indonesia beruntung punya GD.”

Saya katakan, “India juga beruntung punya Dr. AA.”

———

Diceritakan Dr. Muhammad A.S. Hikam dalam bukunya ”Gus Dur-ku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita”