habib hasyim banyuwangi

Habib Hasyim Banyuwangi dan Kisah Karomah Ngaji Syaikhona Kholil

Posted on

Namanya Abbas, santri asal desa Cangaan Banyuwangi. Usianya masih sangat muda ketika pertama kali mondok di Bangkalan, di Pesantren asuhan Mbah Kholil. Usianya ketika itu sekitar 11-12 Tahun.

“Mau apa engkau datang ke sini?,” tanya Mbah Kholil padanya.

“Mau ngaji, kiai,” jawab Abbas.

“Kamu masih terlalu kecil. Usiamu masih sangat muda. Kamu tidak bisa bergabung dengan yang lain,” dawuh Kiai Kholil.

Santri-santri Syaikhona waktu itu memang terbilang banyak yang senior, Kiai Abdul Karim pendiri ponpes Lirboyo saja konon mengaji kepada Mbah Kholil sampai usia beliau lebih 40 tahun.

“Yaudah kalau begitu kamu jangan ikut ngaji dulu. Ini halaman saya kamu jaga. Jangan sampai kotor ya. Kalau ada daun yang berserakan kamu bersihkan.” perintah Mbah Kholil kepada Abbas.

Beberapa hari kemudian, ketika Mbah Kholil keluar dari Ndalemnya, beliau melihat ada seorang santri duduk di bawah pohon Mangga. Ternyata ia adalah Abbas santri baru itu. Beliau bertanya:

“Apa yang kau lakukan di sini ?”

“Saya menjaga halaman ini kiai. Saya khawatir ada daun yang jatuh dan terlihat oleh panjenengan. Jadi saya duduk di sini untuk memungut setiap daun yang jatuh agar tidak menyalahi perintah panjenengan.”

“Jadi selama ini engkau tidak pernah tidur di kamar?”

“Saya beranjak dari tempat ini hanya untuk makan dan sholat saja kiai,” jawab Abbas.

“Masyaallah, Umurmu masih sangat muda tapi fikiranmu sudah sangat dewasa. Jika engkau begitu amanah dalam menjaga perintah gurumu bagaimana dengan perintah Tuhanmu?”

Mbah Kholil lantas mengajak Abbas ke rumah beliau untuk mengaji. Ketika itu Beliau membawakan kitab Shorof, beliau jelaskan satu persatu lafadz-lafadznya kepada Abbas. Sampai pada lafadz Roja’a – Yarji’u – Irji’ Mbah Kholil berkata:

“Irji’ ini fi’il amar, maknanya kembalilah.”

“Iya Kiai”

“Yaudah kalau begitu sana kembali ke rumahmu. Sudah cukup kau di sini.”

Abbas pulang. Kelak ia akan menjadi seorang tokoh dan Kiai yang sangat di hormati di Banyuwangi yang dikenal dengan nama KH Abbas Hasan.

Cerita di atas beberapa kali saya dengar dari ceramah Habib Hasyim Bin Abdullah Assegaff Banyuwangi, salah satu penceramah alumni Ribath Tarim yang ceramahnya selalu saya ikuti dan sangat saya idolakan sejak dulu. Ceramah-ceramah beliau lucu, mudah dipahahami tapi tetap sarat dengan ilmu dan hikmah.

Baca Juga >  Ini Bukti Kecerdasan Sosok KH As'ad Syamsul Arifin Situbondo

” Coba kalian lihat, Kiai Abbas. Meskipun mengaji cuma sampai Irji’ saja, tapi karena beliau tulus dalam menjalankan perintah guru, Beliau bisa menjadi orang besar .” dawuh Habib Hasyim mengomentari kisah Kiai Abbas di atas.

Habib Hasyim lalu bercerita, bahwa dulu ketika mondok di Ribath Tarim, di bulan Ramadhan beliau pernah izin keluar untuk sholat Tarawih di Masjid-Masjid yang ada di Tarim. Tiba-tiba Di gerbang Ribath beliau bertemu dengan Habib Hasan Assyathiri, Kakak Habib Salim yang menjadi pengasuh Ribath Tarim ketika itu. Habib Hasan bertanya:

“Mau kemana?”

“Mau Tarawih di luar Habib,” jawab Habib Hasyim.

“Dengar ya, bagi seorang santri. Tidak ada tempat yang lebih baik selain pondoknya sendiri,” dawuh Habib Hasan.

“Mulai saat itu. ” kenang Habib Hasyim .”Saya nggak pernah keluar-keluar dari Ribath sampai saya pulang. Makanya meskipun saya kayak gini, karena barokah ngikuti perintah guru. Omongan saya bisa didengar orang banyak. Saya bisa diundang ceramah kemana-mana..”

Saya benar-benar terkejut ketika mendengar bahwa Habib Hasyim wafat tadi malam sekitar jam 22:45. Padahal beberapa jam sebelumnya beliau masih sempat memberi ceramah dalam acara haul guru beliau Habib Salim Bin Abdullah As-syathiri. Dalam ceramah terakhirnya (masih ada rekaman livenya di Instagram) ketika mengenang Habib Salim beliau sempat menyitir sebuah kalam dari Nabi Isa :

من علم و عمل و علم فذاك يدعى عظيما في ملكوت السماء

“Barang siapa yang mempunyai Ilmu, mengamalkannya dan mengajarkannya Pada orang lain maka ia akan disebut sebagai orang yang agung di hadapan para penduduk langit.”

Selamat jalan Habib. Selamat melepas rindu bersama datukmu Rasulullah, Habib Hasan As-Syathiri, Habib Salim As-syathiri dan guru-gurumu yang telah menunggumu disana.. Kami bersaksi bahwa engkau adalah orang yang berilmu, mengamalkan, dan mengajarkan ilmu kepada kami semua lewat ceramah-ceramahmu selama ini..

Allah Yarhamak ya Habiib wa yu’lii darajaatik fil Jannah..

Bangkalan, 1 Februari, 2020.

Penulis: KH Ismael Amin Kholil, Bangkalan.