Gus Robah Maimoen, Waliyullah Muda yang Karomahnya Muncul Sejak Kecil

Gus Robah Maimoen, Waliyullah Muda yang Karomahnya Muncul Sejak Kecil

Posted on

Gus Robah Maimoen, Waliyullah Muda yang Karomahnya Muncul Sejak Kecil.

Namanya justru dikenal publik secara luas setelah wafatnya. Beliau adalah Gus Robah Abdullah Ubab Maimoen Zubair, Sarang Rembang. Cucu Mbah Moen ini dikenal sudah jadzab sejak kecil. Sampai wafatnya pada 12 Agustus 2020, Gus Robah yang tak kenal uang ini belum beristri.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Gus Robah dikenal sosok “berbeda” dibandingkan cucu Mbah Moen yang lainnya. Masyarakat mengenal Gus Robah sebagai orang yang mustajab doanya. Hingga sering para nelayan sebelum berangkat meminta doa pada beliau.

Dikisahkan, suatu ketika Gus Robah pergi memancing di pinggir laut. Karena ombak agak besar, Gus Robah menancapkan lidi. Dengan idzin Allah, ombak berangsur tenang. Sementara itu, di tempat lain tiba-tiba Syaikhina Mbah Maimoen memanggil salah satu santri, “Cung, cari Robah… !”

Lalu pergilah santri itu mencari Gus Robah. Setelah bertemu, lalu sowan lah Gus Robah pada Simbah Yai Maimoen. Syaikhina Mbah Maimoen kemudian dawuh, “Jangan begitu. Tidak boleh…!”

Subhanallah… Gus Robah yang menancapkan lidi di pinggir laut yang jaraknya ratusan meter, seketika diketahui oleh Simbah Yai Maimoen, lalu ditegur.

Gus Robah itu cucu Mbah Moen yang mulai kecil kelihatan keramatnya. Sewaktu Gus Robah kecil, saat mau dikhitan tidak mempan, dokternya pun matur (bilang) kepada Mbah Moen,

Baca Juga >  Prof Sayyid Aqil Mengetes Kewalian Gus Dur

“Mbah, Gus Robah dikhitan mboten mempan, dos pundi niki? (Mbah, Gus Robah dikhitan tidak bisa, bagaimana ini?),” kata dokter.

Mbah Moen pun mendatangi Gus Robah dengan ngendiko kurang lebihnya seperti ini:

“Bah, awakmu iseh cilik, ojok aneh-aneh (Bah, kamu masih kecil, jangan aneh-aneh)”.

Setelah ngendiko seperti itu kepada Gus Robah, Mbah Moen mempersilahkan dokter untuk mengkhitan Gus Robah, dan akhirnya dikhitan, dan mempan. Subhanallah

Karomahnya yang lain, setiap perahu milik nelayan yang disinggahi Gus Robah sebelum berlayar, perahu itu pulangnya membawa keuntungan yang melimpah. Tetapi Gus Robah tidak mudah untuk diajak singgah ke perahu milik nelayan, dirayu seperti apapun tidak akan bersedia, harus keinginannya sendiri.

Semoga kita semua terutama para santri mendapatkan barokah beliau. aamiiiin..

Demikian kisah Gus Robah Maimoen, Waliyullah Muda yang Karomahnya Muncul Sejak Kecil, semoga bermanfaat.

Mari kita baca Fatihah untuk para guru mulia yang telah mendahului kita. Kepada Simbah Kiai Zubair Dahlan, Kiai Maimoen Zubair, Kiai Majid Kamil Maimoen, Gus Robah Ubab Maimoen dan seluruh masyayikh Sarang beserta keluarga, al-faatihah.

(Sumber: Ahmad Hariri, Cirebon)