grand syekh al-azhar

Grand Syekh Al-Azhar di PBNU: Ini yang Tidak Banyak Terbaca! (01)

Posted on

Oleh: Muhammad Aunul Abied Shah, Mustasyar PCI NU Mesir dan murid langsung Grand Syekh Al-Azhar Ahmad Muhammad Ahmad Al-Thayyeb.

Dalam setiap peristiwa monumental akan selalu ada narasi besar atau yang dibesar-besarkan, tidak heran kalau menjadi viral di media sosial ataupun media massa cetak dan elektronik. Mungkin salah satu faktornya karena sejalan dengan tuntutan aktual pada ruang dan waktunya.

Di sisi lain, selalu ada pula yang “tidak tertangkap”, “tidak terbaca” dan karena itu “tidak tertulis”. Status-status sederhana ini hanya mencoba menuliskan apa yang mungkin terlanjur luput dari persepsi (tak tertangkap) dan kemudian tak terekspos. Anggaplah sebagai upaya “Kitaabat maa lam yuktab” (mendokumentasikan apa yang tak tertulis), sependek yang berkembang selama dua hari ini. Mumpung masih hangat!

Salah satu di antara yang kurang terekspos –mungkin karena tidak sesuai dengan “image” yang selama ini terlanjur banyak tersebar — adalah statemen Ketua Umum PBNU, Kiai Said Aqil Siradj, dalam kata pengantarnya: bahwa Nahdlatul Ulama yang beliau pimpin adalah organisasi sosial-kemasyarakatan yang mempunyai basis teologis Akidah Imam Asy’ari dan Imam Maturidi, beribadah sesuai dengan ajaran Madzhab Empat, dan bertashawwuf sesuai dengan teladan Imam al-Junaid Al Baghdadi dan Hujjatul Islam al-Ghazali.

Baca Juga >  Jangan Mudah Mengkafirkan Sesama Muslim

“NU adalah organisasi yang tidak Wahhabiyah, tidak liberal dan tidak Syiah,” tegas Kiai Said.

Dan penegasan ini penting — menurut hemat saya — untuk digarisbawahi.
Kiai Said juga melanjutkan bahwa NU adalah organisasi yang mengusung Islam Nusantara sebagai sebuah karakteristik umum dan faktor pembeda Islam Nusantara adalah pengejawantahan daripada ketiga basis (teologis, amal-ubuduyah, dan akhlaq spiritual) dalam kehidupan sehari-hari setiap individu muslim kawasan Asia Tenggara dan juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, hingga menjadi Islam yang tawassuth, tawazun dan I’tidal.

Karena Islam di bawah ke Indonesia oleh para wali dengan ajaran kedamaian, suri teladan yang mulia hingga mampu meng-Islamkan sebagian besar kawasan ini hanya dalam masa lima puluh tahun saja. Untuk gampangnya Islam Nusantara sebagai pembeda adalah Islam yang lembut, berakhlaq mulia, tidak memecah-belah; Islam yang anti kekerasan dan ekstremitas. Islam yang membangun, bukan menghancurkan.

Sekali lagi, menurut saya ini sangat penting untuk digarisbawahi.