Fakta-Fakta Penting terkait Seorang Habib Bahar bin Smith

Fakta-Fakta Penting terkait Seorang Habib Bahar bin Smith

Posted on

Fakta-Fakta Penting terkait Seorang Habib Bahar bin Smith.

Nama Habib Bahar bin Smith banyak menjadi perbincangan publik. Gaya bicara dan langkah-langkah hidupnya kerap menjadi kontroversi bagi sebagian masyarakat. Tentu saja, kontroversi itu pasti melahirkan pro dan kontra. Habib Bahar bin Smith tetap melangkah dengan gaya bicaranya, walaupun pro dan kontra juga tetap terus berlangsung di masyarakat. Itulah sosoknya, sesuai fakta yang terjadi.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Sosok Habib Bahar bin Smith selalu menjadi perbincangan publik. Fase-fase hidupnya juga melahirkan para pecintanya yang setia bergerak bersamanya. Tak bisa dipungkiri, perdebatan juga selalu menghiasi para pengikut dan pecintanya.

Ada beberapa fakta penting yang bisa kita cermati terkait sosok Habib Bahar bin Smith.

Pertama, Lahir dari Keluarga Habib. 

Habib Bahar bin Smith lahir di Manado pada 23 Juli 1985. Ayahnya bernama Habib Ali bin Alawi bin Abdurrahman bin Smith, sedangkan ibunya bernama Isnawati Ali. Marga yang melekat adalah Bin Smith, salah satu marga Alawiyyin yang berasal dari Hadramaut Yaman. Habib Habar adalah anak pertama dari tujuh bersaudara. Ia memiliki enam orang adik, tiga di antaranya adalah Ja’far bin Smith, Sakinah Smith, dan Zein bin Smith.

Marga Smith ini dalam pengucapan atau penulisan memiliki banyak variasi, meskipun memiliki maknanya sama, yaikni Sumaith, Sumayth, Sumayt, Sumait, Semaith, Semaid, Semit, hingga Smith.

Dalam laporan Tirto, 20 Desember 2018, dijelaskan bahwa Prof. Ismail Fajrie Alatas, Ph.D., Assistant Professor Kajian Islam dan Timur Tengah dari New York University, menjelaskan tentang marga Smith itu bukan termasuk gelombang awal keluarga keturunan nabi yang mencapai Nusantara.

“Saya pikir keluarga Sumayt ini termasuk keluarga sayyid yang datang ke Hindia [Indonesia] kemudian. Saya belum pernah dengar nama tokoh-tokoh dari keluarga ini di awal abad ke-19 misalnya,” jelas Prof. Ismail.

Peraih gelar Ph.D. dalam bidang antropologi dan sejarah dari University of Michigan ini memperkirakan, orang-orang Smith datang ke Hindia Belanda (Indonesia) pada periode setelah dibukanya Terusan Suez dan mulai beroperasinya kapal uap pada pertengahan abad ke-19.

Meskipun begitu, imbuh Prof. Ismail, cukup banyak tokoh terkenal dari keluarga Smith di Indonesia, terutama selama era pergerakan nasional pada masa kolonial Hindia Belanda, salah satunya adalah Sayyid Hasan bin Sumayt asal Madura. “Dia bendahara al-Hilal al-Ahmar [Sabit Merah]. Terkenal karena sempat membuat fundraising besar untuk Ottoman [Turki] tahun 1912. Akhirnya ditutup oleh pemerintah kolonial karena kebijakan netral Belanda di Perang Dunia I,” beber cendekiawan muslim yang juga termasuk habib ini.

Dikutip dari buku Faith and the State: A History of Islamic Philanthropy in Indonesia (2013) yang ditulis oleh Amelia Fauzia, Sayyid Hasan bin Sumayt juga merupakan salah satu pemimpin Sarekat Islam (SI) di Surabaya. Sayyid Hasan bin Sumayt memiliki hubungan baik dengan H.O.S. Tjokroaminoto selaku pemimpin besar SI. Diungkapkan oleh Prof. Ismail, Sayyid Hasan bin Sumayt menjadi salah satu penyandang dana utama perusahaan percetakan Setia Oesaha yang menerbitkan Oetoesan Hindia, surat kabar propaganda milik SI.

Baca Juga >  Politik Praktis Bukanlah Wilayah Kerja Jaringan GUSDURian

Kedua, Menikah Tahun 2009.

Habib Bahar bin Smith menikah pada tahun 2009 dengan seorang syarifah bernama Fadlun Faisal Balghoits. Dari pernikahannya ini, Habib Bahar dikaruniai empat orang anak, yakni Maulana Malik Ibrahim bin Smith, Aliyah Zharah Hayat Smith, Ghaziyatul Gaza Smith, dan Muhammad Rizieq Ali bin Smith.

Ketiga, Pendiri Majlis Pembela Rasulullah.

Pada tahun 2007, Habib Bahar bin Smith menjadi pemimpin dan pendiri Majelis Pembela Rasulullah. Sampai saat ini, Habib Bahar bin Smith duduk di posisi tertinggi majelis, yakni, pemimpin majelis. Kantor pusat Majelis Pembela Rasulullah terletak di Pondok Aren, Tangerang Selatan. Sementara pengikut Habib Bahar bin Smith mencapai ratusan orang yang berdomisili di Ciputat, Tangerang Selatan; Pesanggrahan, Jakarta Selatan; dan Pondok Aren, Tangerang Selatan.

Keempat, Ajak Umat Islam Ikut Jaga Gereja Saat Natal.

Pada tanggal 15 Desember 2028, beredar video viral ini diuplod oleh akun facebook Hilaludin Hay Hilal pada Sabtu, 15/12/2018, bahwa Habib Bahar bin Smith mengajak umat Islam untuk menjaga gereja saat hari raya natal.

“Manado, adalah kota yang tidak boleh ada perpecahan di Manado. Ketika Idul fitri, saudara-saudara Kristen ikut menjaga masjid-masjid kita. Maka ketika Natal, umat Islam harus ikut menjaga gereja,” tegas Habib Bahar dalam video itu.

Kelima, Mendirikan Pondok Pesantren

Habib Bahar bin Smith juga dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Tajul Alawiyyin di Kemang, Bogor. Pondok Pesantren tersebut mengadopsi sistem salaf.

Keenam, Aksi Sweeping di Bulan Ramadhan.

Pada Ramadhan tahun 2012, tepatnya hari Ahad 29 Juli 2012, sekitar pukul 01.30 dini hari, Habib Bahar menggerakkan 150 pengikutnya untuk melakukan aksi sweeping di Kafe De Most yang terletak di Jl Veteran Raya Bintaro Pesanggrahan Jakarta Selatan. Aksi ini saat itu mendapatkan hadangan dari petugas aparat keamanan yang terdiri dari gabungan Polresta Tangerang, Polsek Pondok Aren, Koramil 19 Pondok Aren dan Satpol PP Pondok Aren.

Demikian fakta-fakta penting terkait seorang Habib Bahar bin Smith. Masih banyak fakta-fakta tentang sosok Habib Bahar bin Smith. Semua fakta terjadi dan mendapatkan respon publik dengan segala pro dan kontranya.

(Amnan, aktivis sosial)