Fahruddin Faiz: Kelebihan Berharap Jadi Sumber Kecewa

Fahrudin Faiz (Sumber: Kumparan)
Fahrudin Faiz (Sumber: Kumparan)

Berharap yang terlalu berlebihan pada orang lain menjadi salah satu sumber kecewa terberat. Hal tersebut disampaikan oleh Intelektual Muslim dan Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogja, Fahruddin Faiz.

Fahruddin mengutip pernyataan Imam Syafi’i, bahwa ketika hati seseorang terlalu berharap kepada orang lain, maka Allah akan timpakan seseorang tersebut pedihnya sebuah pengharapan. Manusia perlu bahwa Allah SWT sangat mencemburui hati yang berharap selain kepada-Nya. Sehingga Allah menghalangi orang terlalu berharap kepada manusia lain, agar umat kembali berharap kepada-Nya.

“Ini, coba kamu pahami maksudnya Imam Syafi’i ya? Orang itu bisa patah hati karena kecewa pada orang lain,” kata pria kelahiran Mojokerto tersebut beberapa waktu lalu, dikutip dari NU Online.

Fahruddin mengatakan bahwa kekecewaan itu muncul karena sebelumnya ada harapan pada orang lain. Jika saja dia tidak terlalu berharap, maka ia tidak akan terlalu kecewa. Sebab semakin besar harapan orang, semakin besar kekecewaannya.

“Nah, siapa yang jargonnya kalau sedang berduaan ‘engkaulah segalanya?’ Engkaulah jenis-jenis gini itu, harapanmu terlalu besar kepada manusia. Hati-hati! Allah itu ‘maha pencemburu’. Beberapa pendapat orientalis yang benci dengan Islam, kata-kata cemburu tersebut dikonotasikan negatif,” katanya.

Menurutnya, cemburunya Allah itu menunjukan Dia sangat cinta dengan hamba-Nya. Maka berbahagialah mereka yang dicemburui Allah. Sebab hal itu menjadi bukti bahwa Sang Maha Pemberi Cinta mencintai mereka.

“Persis seperti kita, kalau cinta dengan seseorang, terus orang lain kok melekat ke yang lain, itu kan kita cemburu. Buktinya Allah cemburu apa? Dipatahkan hati kita biar tidak terlalu melekat padanya,” kata Fahruddin.

Penulis: Antariksa Bumiswara

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *