Engkau diciptakan dalam (Ke)abadi(an)

Ilustrasi. (Istimewa)

Oleh Arief Fauzi Marzuki

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ ثُمَّ اِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ ۝٥٧

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Kemudian, hanya kepada Kami kamu dikembalikan” QS. Al-Ankabut: 57

Jika kamu khawatir mati kelaparan akibat hijrah ke tempat lain, ketahuilah bahwa kamu pasti akan mati dengan cara lain. Sebab setiap makhluk yang bernyawa tanpa terkecuali akan merasakan mati, dengan atau tanpa sebab.

Kemudian, setelah itu hanya kepada Kami kamu dikembalikan untuk mendapat balasan yang setimpal atas amal perbuatanmu, baik maupun buruk.

Namun kematian itu bukan berarti akhir dari segalanya, melainkan sebuah proses dalam diri manusia untuk menuju keabadian. “Hakikat kematian sebenarnya bukan ketiadaan. Kematian adalah putusnya hubungan antara ruh dan jasad.

Terpisahnya ruh dan jasad. Perpindahan dari situasi dan kondisi pada kondisi yang lain. Artinya, kamatian itu bukan sebuah ketiadaan. Kematian adalah sebuah proses menuju (ke)abadi(an).

Al-Qur’an surat Al Maidah ayat 106, menjelaskan tentang kematian adalah musibah besar bagi manusia. Tetapi ini tidak bertentangan dengan status kematian sebagai proses menuju keabadian tadi.

Ulama salaf, ketika memanggil sahabatnya dengan ungkapan demikian, yâ ahlal khulûd, ya ahlal baqâ’. Innakum lan tukhlaqû lil fanâ’. Wa innamâ khuliqtum lil khulûd wal abad wa lâkinnakum tungqalûna min dârin ilâ dârin.

(Wahai manusia abadi. Kalian diciptakan bukan untuk ketiadaan, melainkan untuk keabadian. Hanya saja, kalian dipindah dari satu alam ke alam yang lain. “Kematian ini adalah sebuah perpindahan, dari sebuah kehidupan di dunia pada kehidupan di alam barzah. Jadi (masih) sama-sama hidup. Pindah dari kehidupan dunia ke kehidupan barzah, dari barzah menuju kehidupan akhirat. Tidak ada kata fana,” )

Kematian merupakan momen untuk bertemu dengan Allah swt. “Jika kematian itu merupakan momen bertemu Allah, (sudah) pantaskah diri kita untuk bertemu dengan-Nya?”

Pernah suatu ketika Nabi Muhammad saw bersabda, “Barangsiapa cinta bertemu Allah, maka Allah pun cinta bertemu dengan-Nya. Barangsiapa benci bertemu Allah, maka Allah pun benci bertemu dengannya.”

Siti ‘Aisyah lantas bertanya, “Apakah yang dimaksud ini kematian?

Bukankah kami semua benci akan kematian?”

Rasulullah menjawab, “Bukan begitu, ‘Aisyah.

“Ketika seorang mukmin menemui ajalnya, maka malaikat akan menyampaikan bahwa Allah merahmati dan meridhainya. Sehingga ia cinta bertemu Allah, dan Allah pun cinta menemuinya.

Sementara orang kafir ketika menemui ajalnya, akan dikabarkan tentang murka Allah dan siksa-Nya. Sehingga ia benci bertemu Allah, dan Allah pun benci menemuinya.”

Mumpung bulan suci segera tiba, marilah kita persiapkan diri untuk menjemput alam (ke)abadi(an) dengan amal salih sebagai bekalnya,  sekaligus memposisikan diri sebagai khalifatullâh fil ardl, Wallahua’lam.[]

Arief Fauzi Marzuki, Penyuluh Agama Islam Kemenag Bantul.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *