Ekspresi Praktek Beragama yang Tidak Tuntas.
Sampeyan mungkin pernah mendengar kisah 3 orang sahabat “jauh” di masa Rasulullah Saw masih hidup, yang mendatangi satu persatu kediaman para Ibu orang-orang beriman, yaitu istri-istri Rasulullah Saw.
Mereka bertiga sengaja mendatangi satu persatu rumah istri-istri Kanjeng Nabi, dalam rangka mencari tahu tentang praktek berislam Nabi. (Rada Aneh sebenarnya ya, tapi peristiwa tersebut di kemudian hari menjadi pelajaran dan ilmu bagi kita, umat Islam setelahnya).
Lalu, setelah mereka bertiga mendengar penjelasan tentang keseharian Rasulullah Saw dalam berbagai hal; ibadah, interaksi dengan keluarga, dan lain sebagainya, semuanya memceritakan perihal yang sama, seragam, tanpa diseragamkan.
Mereka bertiga merespon dengan ekspresi seakan meremehkan praktek beragama Rasulullah Saw
فلما أخبروا، كأنهم تقلوها.
Bahkan, mereka bertiga melontarkan pernyataan; ” wah, … jika Muhammad yang posisinya sebagai seorang Nabi dan Rasul, praktek beragamanya sebegitu saja, diampuni dosanya yang lalu dan akan datang “wa ayna nahnu ?” apa lagi kita kan ? (Mereka berspekuliasi, menganggap diri mereka lebih layak mendapatkan ampunan seperti yang didapatkan oleh Nabi Muhammad saw., yang praktek beragamanya tidak lebih heroik dari mereka bertiga).
Ekspresi Praktek Beragama yang Tidak Tuntas.
Gambaran kejadian di atas menurut saya, karena ketiganya “sahabat jauh”. Jarang melihat, berkumpul dan menyaksikan Nabi dari dekat dan dengan intensitas yang tinggi, semisal para sahabat yang berada di lingkaran ring satu, Khulafaur Rasyidun, misalnya.
Pada akhirnya, mereka mempraktekkan agama menurut imajinasi mereka sendiri, “halu” jadinya.
Peristiwa itu juga banyak terjadi belakangan. Orang-orang yang menggemari tokoh agama, lalu asal saja meniru dan mempraktekkan penggalan ucapan atau amalan yang dilakukan oleh tokoh yang digemari. Seolah, mereka sudah sangat faham dan mengetahui secara menyeluruh tentang tokoh tersebut dan seluk beluk amalannya.
Celakanya, tak jarang lalu melakukan pengembangan-penyesuaian-perubahan, yang diyakini ketidak apa-apaannya. Bahkan disertai keyakinan mendapat restu. Mā Ahmaq Hadza.
Allahumma Inna Na’udzu biKa min ilmin Laa Yanfa’, wa Amalan laa Yuqbal…
Penulis: KH Tajul Muluk, MA., pengurus LDNU PWNU DIY.








