Sebelumnya saya meminta maaf tidak dapat memberi kabar tentang wafatnya Syaikhona. Sebab hari itu saya sendiri dalam kondisi yang tidak bisa ditanyai. Sekadar membalas chatpun atau memberi kabar di medsos pun saya tidak tahu harus mengetik apa. Hari ini, saya awali dengan kronologi seputar hari wafatnya Syaikhona;
Ternyata pergimu untuk pulang.
Mbah Maimoen adalah milik ummat manusia. Mbah Maimoen milik dunia. Sholat jenazah Syaikhona diimami oleh Sesepuh NU; Simbahyai Anwar Manshur Lirboyo.
Pelepasan jenazah Syaikhona untuk disolatkan ke Haram dihadiri oleh keluarga; Saya dan Paklik Aufal. Ada perwakilan dari Eksekutif; Menteri agama, Pak Lukman. Dan dari perwakilan Legislatif; Pak Muhlisin dari kalangan santri, Pak Zulkifli yg juga tokoh Muhammadiyah dan Pak Fahri Hamzah dari kader Ikhwanul Muslimin.
Di Masjidil Haram disolatkan oleh Imam Masjid Haram dan puluhan ribu calon jamaah haji. Saat akan disareaken di Ma’la, jenazah Syaikhona didoakan oleh Sayyid Ashim, cucu dari Guru beliau Sayyid Alawy al-Maliki dan diiringi oleh Habib Rizieq dari FPI. Di salah satu gereja Katholik juga memberikan penghormatan terakhir kepada Syaikhona.
Ditangisi langit Mekkah. Bumi kehilangan pasaknya. Dunia kehilangan sandarannya. Malam kehilangan rembulannya. Nusantara kehilangan jimatnya. Kita kehilangan segalanya.
Penulis: Gus Muhammad Shidqi, cucu Mbah Moen.








