Merelativisasi Kebenaran. Komentar Prabowo terhadap media, misalnya tentang minimnya pemberitaan reuni 212, dilakukan bukan tanpa alasan. Dia paham implikasinya. Setidaknya dia pasti mengikuti saran para penasehat strategisnya.
Sasaran dari komentar Prabowo bukan kita, orang-orang yang masih mendaku waras, tetapi para pendukungnya. Loyalitas mereka harus dirawat dengan guyuran fakta alternatif yang membuat kebenaran menjadi terlihat relatif. Mereka dibuat percaya dengan pernyataan bahwa kebenaran tergantung sudut pandang dan kepentingan.
Strategi relativisasi kebenaran berakar pada sejarah pemikiran. Di akhir abad lalu posmodernisme menyuarakan itu. Namun ternyata pandangan yang awalnya mau mengkritisi hegemoni intelektual Barat itu malah diambil alih oleh kaum konservatif untuk menjustifikasi agenda politisnya.
Oleh karena itu, cara untuk menangkis strategi politik Prabowo itu tidak mudah. Kita harus mengoreksi pandangan yang mengatakan tidak ada kebenaran tunggal.
Pandangan yang terdengar keren ini, yang sering keluar dari para intelektual pendukung Jokowi, menyimpan bahaya besar. Pandangan ini menyediakan seperangkat pembenaran bagi relativisme moral, seolah-olah tidak ada kebaikan yang berlaku universal.
Apa yang dilakukan oleh Prabowo menumpang arus intelektual tersebut. Di era sekarang hal itu ternyata efektif sebagai kampanye politik. Tidak hanya di Indonesia, model serupa digunakan oleh para politisi konservatif di berbagai belahan dunia lainnya.








