Corona dan Kisah Negara-negara Dunia Menyikapinya

Corona dan Kisah Negara-negara Dunia Menyikapinya

Posted on

Coronavirus, Altruist, Trust & Time: Bagimu Negeri, Jiwaraga kami

Covid di Indonesia memang tantangan besar, sebagaimana di negara lain. Kanselir Jerman Angela Merkel, di hadapan seluruh rakyatnya, mengatakan bahwa ini tantangan terbesar Bangsa Jerman sejak Perang Dunia II. Jerman melakukan segala cara antisipasi, belajar dari yang sudah kena duluan. Untuk negara yang jumlah kasus terkonfirmasi positif di atas 5000, fatality rate Jerman terendah saat ini (0.6%) disusul Korea Selatan (1.5%). Tentu Indonesia bukan Jerman atau Korea.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Kedua pemimpin tertinggi di Jerman dan Korea Selatani benar-benar tampil terdepan memimpin rakyat di masa yang tidak mudah. Dengan secara jujur menyebut ‘tantangan terbesar Jerman sejak Perang Dunia II’, Merkel memberikan berita dan kenyataan yang tidak mudah untuk rakyatnya, tetapi membuat rakyat lebih siap.

Ada trust (kepercayaan) yang tinggi, sehingga rakyat tidak bingung. Trust adalah mata uang tertinggi dalam interaksi sosial. Merkel berani menghadapkan kenyataan berat ke rakyatnya, karena dia mendengarkan semua ilmuwan terkait. Untuk kasus yang sangat highly technical seperti penyakit menular, maka adalah penting bahwa lapis pertama yang didengarkan adalah ahli kesehatan masyarakat, dokter, epidemiolog, virolog.

Di lapis kedua, ahli di bidang kebijakan publik, makroekonomi dan mikroenomi, Baru di lapis berikutnya, militer, politisi, tokoh masyarakat, tokoh agama, dll. Karena memang ini tantangan yang tidak mudah, semua yang terkait perlu didengarkan, tetapi ada prioritas. Berperang dengan penyakit menular yang tidak kelihatan, sangat berbeda dengan berperang melawan musuh yang kelihatan dan diantisipasi sejak awal. Merkel hanya mendengarkan mereka yang sangat paham terkait teknis, karena ini tentang penyakit menular. Barangkali juga, karena latar belakang pendidikan Merkel seorang ilmuwan kimia kuantum, bapaknya seorang Pastor Lutheran, dan ibunya Guru Bahasa Inggris dan Latin.

Jadi dalam hidupnya, dia bisa memposisikan kapan hal teknis diletakkan di belakang, kapan di depan, dan bagaimana jujur kepada publik. Dengan raut muka yang bersahabat tapi serius, Merkel meminta rakyat Jerman, termasuk pengangguran, pengungsi, untuk sabar selama lockdown. Keputusan yang berat yang harus diambil, tetapi hanya dengan cara ini, Jerman lebih siap bertempur dengan penyebaran virus yang sudah ada. Supaya yang sakit dapat ditangani di RS yang sudah dipersiapkan. Supaya tenaga kesehatan lebih fokus karena kasus baru akan berkurang selama lockdown.

Di tengah tantangan yang dipenuhi dengan ketidakpastian, memberikan hard truth kepada publik adalah langkah terbaik. Sedangkan memberikan false hope adalah pendekatan terburuk. Tes masif itu penting, ketika penyebaran belum meluas. Terapi dengan beberapa obat yang masih dalam tahap konfirmasi itu juga penting, tetapi bukan berarti nyawa selamat, apalagi yang kasusnya severe. Tapi, SARS-CoV-2, virus penyebab Covid itu menyebar terus saja, tanpa peduli ada tes masif, ada obat apa tidak.

Bagaimana dengan Korea Selatan? Presiden Moon Jae-In, sejak awal berkomitmen untuk tidak lockdown. Segala upaya dilakukan. Tes masif tetap berbasis RTPCR. Hampir 100 lab dioperasikan, safety net ekonomi terbesar sepanjang sejarah. Korea melakukan tes dengan rasio mendekati 1 : 170 penduduknya.

Untuk Indonesia, itu setara dengan 1.5 juta tes. Jangan harap kita bisa mengejar. Setelah fase eksponensial, Wuhan di Cina melakukan tes kepada setiap warganya. Kota dengan penduduk 11 juta, ketika lockdown yang ada di dalam sekitar 7 juta. Setiap orang dites. Sehingga semua yang positif terdata dengan baik, dan kasus baru ditahan. Opsi tidak lockdown ala Korea Selatan, sudah tidak relevan lagi untuk Jabodetabek. Mungkin masih bisa untuk daerah lain, asal segera seagresif Korea Selatan dalam mendeteksi.

Sebagaimana Jerman, Korea Selatan relatif berhasil menekan fatality rate, karena sejak awal tahu apa opsinya. Ilmuwan didengarkan dan ikut langsung dalam pengambilan keputusan. bahkan Cina pun melakukan hal yang sama. Wuhan Institute of Virology menjadi supplier data awal dalam mengenali siapa ‘musuh’ yang dihadapi sehingga pihak-pihak lain dapat membuat strategi rekomendasi lebih baik. Seberat apapun piihan yang harus diambil.

Negara maju yang ‘terkacau’ dalam menangani covid adalah Amerika Serikat. Jumlah populasi kita ‘lebih mendekati’ Amerika, bukan Jerman atau Korea Selatan. New York, salah satu wajah kemajuan/ peradaban Amerika, Jakarta-nya Amerika, sudah tak sanggup lagi dan masih terus berjuang. Ini karena Presiden-nya sejak awal menggunakan narasi ‘ini seperti flu’, atau ‘kasus flu tahunan lebih banyak’, atau ‘sembuh sendiri’. Ilmuwan Amerika, tidak ada yang memberikan informasi menyesatkan. Tetapi Presidennya tidak mau mendengarkan.

Memang, di awal Amerika Serikat percaya diri. USA punya warga negara yang terinfeksi SARS-CoV 2002-2003. Ketika dipulangkan, mereka rawat di dalam negeri, semua sembuh, tidak ada kematian, dan tidak ada kasus baru. Sehingga, di awal ada percaya diri toh ini mirip SARS-CoV. Ternyata, virusnya berkerabat dekat, tapi penularannya jauh berbeda. Amerika tidak sanggup, meski tidak menyerah. Jerman sedang bertempur dengan fasilitas kesehatan yang disiapkan sangat cepat di masa-masa antisipasi. Italia, Spanyol, masih bertempur dengan puing-puing kehancuran yang sudah terlalu besar. Bagaimana Indonesia?

Saya tahu betul, kawan-kawan dari seluruh penjuru dunia, di setiap sudut Indonesia, disatukan oleh kecintaan kepada Ibu Pertiwi, sudah melakukan segala cara, membuka semua pintu yang mungkin pada pengambilan keputusan. Donasi digalang dimana-mana. Besar, kecil, sesuai kondisi masing-masing. Banyak teks mengharukan, khususnya dari yang donasinya secara nominal ‘kecil’. Saya yakin, mereka berpartisipasi sambil menjumputkan doa, semoga keikhlasan mereka mengetuk Pintu Langit sehingga coronavirus cepat reda dari Indonesia.

Semua orang ingin Indonesia baik-baik saja. Ada daerah yang me-lockdown, menjaga kampungnya dengan cara blokade orang luar. Tapi, porsi rakyat untuk tindakan yang perlu infrastruktur dan sumberdaya besar itu ada batasnya. JagaWilayah sporadis tidak efektif ketika daerah lain masih ‘gitu-gitu saja’. Edukasi publik yang dilakukan para relawan seperti KawalCovid19 adalah luar biasa. Tetapi ini semua pada akhirnya perlu keputusan besar para pemegang kekuasaan, para pengambil keputusan. Porsi rakyat ada batasnya. Bahkan kalaupun seluruh Crazy Rich Indonesian bersatu, tetap ada batasnya. bahkan kalaupun tokoh masyarakat dan tokoh agama sudah turun gunung semua.

Sekarang bukan saat-nya tunjuk sana tunjuk sini. Ambil peran sesuai porsi. Bagi Anda yang terlanjur mudik, ya paham, saya bisa bayangkan bagaimana susahnya tetap StayAtHome di Jakarta Raya sementara selama Anda dirumahkan, maka tidak dihitung kerja. Kemewahan sebagian anak bangsa ini yang bisa WorkFromHome dan tetap digaji penuh atau sebagian, bukan kemewahan yang dimiliki semua orang. Sehingga lebih praktis, jika kost-an diputus, pulang kampung.

Sesampai Kampung Halaman, tolong batasi pergerakan fisik di rumah sendiri, tidak sampai ke keluarga besar. Serindu apapun Anda ingin membawa anak, istri atau suami untuk piknik keluarga, jalan-jalan ke keramaian, tolong tahan. Semoga para RW sudah mulai bergerak untuk mendata pemudik, dan jika perlu dimasukkan kelompok yang perlu melakukan rapid test. Bagi kita semua yang bisa tidak mudik, please banget. Meskipun Anda tinggal di epicenter penularan saat ini (untuk Indonesia, Jakarta), dengan tidak mudik, Anda memang tinggal bersama ‘bahaya’, tetapi tidak membahayakan saudara dan keluarga dekat Anda di kampung halaman. Ya, ini bukan permintaan yang mudah.

Baca Juga >  Jangan Mudah Mengkafirkan Sesama Muslim

Kepada para tenaga kesehatan di garis depan, hormat yang setinggi-tingginya untuk pengabdian tak kenal lelah pada pertempuran ini. Kiai saya di Kenendy School, Ronald Heifetz yang mengampu mata kuliah ‘Exercising Leadership the Politics of Change’, beberapa hari yang lalu menyapa kembali santri-santriwati dari penjuru dunia lewat webinar. Covid menjadi tantangan dimanapun.

Kiai yang sangat caring, yang ingat kepada muridnya khususnya di masa susah ini. Beliau seorang dokter juga, lebih tepatnya psikiater, dan juga musisi profesional sebagai pemain cello. Perjuangan para tenaga kesehatn di garis depan di seluruh dunia, mengingatkan saya pada tugas mata kuliah beliau terkait etimologi ‘altruisme’. Akar kata altrusime adalah alteri huic dari Bahasa Latin yang bermakna ‘untuk yang lain’. Kemudian berkembang menjadi Bahasa Italia ‘altrui’ dan Bahasa Perancis ‘altrusime’ dengan makna yang mirip dengan akar katanya.

Kiai Heifetz mengatakan bahwa jangan dikira tentara berperang di garis depan, sadar nyawanya mungkin hilang itu tidak menghargai hidupnya, atau mengganggap nyawanya tidak berharga. Tapi, karena kehormatan bangsanya dan kemanusiaan itu lebih berharga dari nyawa mereka sendiri. Itulah makna sebenarnya dari altruisme. Perjuangan yang saat ini dilakoni para tenaga kesehatan. Pernyataan bersama beberapa asosiasi tenaga kesehatan hari ini tentang ‘mogok’ kalau tanpa APD layak, bukanlah kecengengan, Mereka tetap berjuang di lapangan. Tapi, dalam jangka panjang, ketika kita sebagai bangsa gagal memberikan sejata dan perlindungan yang mereka butuhkan, meski badai covid berlalu, sistem kesehatan kita akan teramputasi.

Rasio tenaga kesehatan terhadap jumlah penduduk menjadi sangat timpang, karena sekarang pun sudah timpang. Belum lagi recovery ekonomi, pendidikan, dll.

Time is the essence untuk penyakit yang sangat menular dan ongoing. Menteri-menteri terkait keamanan, tentu memikirkan bagaimana di lapangan. Menteri-menteri ekonomi. ngitung-ngitung biaya yang sangat besar. Virusnya ga peduli. Itung-itungan itu bisa sambil jalan dan dinamis sesuai kondisi, untuk kasus penyakit yang sangat menular. Jangan sampai menunda-nunda keputusan penting, dan virus sudah kemana-mana.

Setiap Nyawa Berharga

Menengah ke bawah, maupun menengah ke atas. Baik itu nyawa anak muda usia 17 tahun, kasus fatalitas termuda yang kita miliki, maupun gugurnya para dokter dan guru besar. Berapa tahun training dihabiskan? Sekarang aset SDM unggul ini pergi satu per satu.

Hari ini, saya punya satu harapan saja. Bahwa strain/ isolat SARS-CoV2 yang beredar di Indonesia, tidak meroketkan jumlah kasus dan kematian seperti di Hubei, Eropa dan Amerika Serikat. Asia Timur relatif ‘berhasil’ menangkal covid karena mereka mengalami SARS-CoV 2002-2003. Mereka lebih siap. Negara-negara ini juga biasa pakai masker karena polusi atau sekedar karena debu. Harapan saya di atas, terpisah dengan argumen scientific yang saya pahami dari sisi virusnya.

Kali ini, saya berharap doa seluruh anak bangsa, membuat virus punya ‘belas kasihan lebih’. Karena kalau hanya bersandar pada argumen scientific, gelap dan mengerikan. Virusnya sama, tetapi sistem kesehatan, fasilitas kesehatan serta tenaga kesehatan kita tidak sebanding dengan negara-negara lain yang sudah lebih dulu collapse. Kalaupun ada harapan lain, di peta dunia, terlihat bahwa coronavirus adalah lethal weapon di Belahan Bumi Utara. Di Belahan Bumi Selatan (termasuk Australia), antara belum, tidak terdeteksi, fatalitas tertekan, atau memang ada sesuatu terkait lokasi. Di saat seperti ini, kita perlu lebih bersandar pada Sang Pencipta.

Ada masanya, tidak tahu itu lebih menentramkan dibanding tahu meskipun sedikit. Sedikit tahu tentang perilaku virus itu membuat saya menarik kesimpulan bahwa masa yang benar-benar berat menanti di hadapan kita. Karena itulah, senjata utama kita saat ini adalah doa. Karena dalam kondisi ‘normal’, sudah pasti kita kalah dan covid menghajar kita tanpa ampun. Di masa-masa ini, secara khusus saya ingin berterima kasih kepada semua Profesor di Arizona, yang mengijinkan saya nyantri, kuliah dan rotasi lab terkait virus: Prof Judith K Brown yang mengampu kuliah General Virology dan mendidik saya di lab Plant Viruses. Virus tanaman seperti TMV adalah model yang sempurna dalam memahami virus.

Prof James Collins yang mengampu kuliah Medical Virology dan rotasi di Lab beliau menjadi penderitaan bagi saya karena protokol kerja untuk virus manusia lebih ribet. Prof Michael Worobey tentang Evolusi Virus, orang yang ‘memecahkan’ asal usul, kisah HIV dan Spanish Flu 1918, dll. Tentu saja, kepada Prof Donald Lightner yang mengasuh saya di lab Shrimp Pathology selama 3.5 tahun, dimana riset saya terkait infectious myonecrosis virus, dibimbing beliau dan Prof Brown.

Sebagai sebuah refleksi, saya baru tersadar bahwa riset-riset dan hal-hal penting yang saya kerjakan saat di Arizona, justru tidak masuk sama sekali di dokumen disertasi 2012 yang saya kerjakan terburu-buru karena harus memulai kerja di tempat lain. Hal-hal ‘sampingan’ yang selama ini seperti masa lalu, ternyata sudah menjadi bagian dari akumulasi pengetahuan yang tidak hilang.

Terakhir, kepada Prof Max Nibert dari Harvard Medical School yang mengasuh saya selama hampir 2 tahun. Seorang dokter dan virologist, training beliau menekankan pada aspek biokimia, taksonomi, dan evolusi virus-virus RNA. Sebagai anggota ICTV, beliau ikut menamakan virus-virus baru, termasuk SARS-CoV-2 sebagai penyebab covid19. Beliau pinternya sundhul langit. Segala aspek terkait virus dibabat habis. Termasuk yang perlu modelling tingkat tinggi, belajar otodidak. Saya mencoba, dan kewalahan.

Saking otak sudah ber-asap dengan segala yang berbau sains, saya coba suasana baru. Pindah ke Harvard Kennedy School belajar tentang kebijakan dan kepemimpinan. Nasib, dikasih dua mentor, yang satu psikiater dan cellist (Prof Ronald Heifetz), satu lagi linguist sekaligus enviromental lawyer (Prof Sheila Jasanoff).

Yang satu minta saya menulis tentang informal authority pada pemangku kepentingan di tambak udang, satu lagi menggembleng untuk analisis kebijakan di beberapa negara terkait Avian Influenza 2005-2014. Dua mentor itu dipilihkan oleh Prof Calestous Juma, Faculty Chair yang saya temui di hari pertama sebagai mahasiswa: “I wasn’t born yesterday. Don’t ask me why, it is your homework to find the answers for the rest of your life. You have polytmath as mentors, not only one, but two. Good luck.” Training sains memang melatih otak sampai berasap-asap, sedangkan di Kennedy School, otak dipakai, emosi ikut teraduk-aduk karena membahas tentang inequality, disparities, volatility, weaknesses, ancestry, perjalanan ke dalam diri, gitu-gitulah.

Padahal saya penganut mazhab makan bubur ayam tidak diaduk. Soal emosi, apalagi soal covid, sayangnya, kita tidak punya cukup kontrol mau diaduk atau tidak diaduk.

Penulis: Sidrotun Naim, Ph.D., alumnus Jurusan Leadership & Decision Sciences, Harvard University.