kiai jamal tambakberas

Cerita Kiai Jamal Tambakberas tentang Kiai Mustajab Gedongsari

Posted on

Tadi siang, saya riyayan (lebaran) di ndalem Kiai Djamaluddin Achmad. Saya minta tashih kisah tentang Kiai Mustajab bin Zarkasyi Gedongsari, Prambon, Nganjuk.

Sebelumnya, kisah Kiai Mustajab saya dapatkan dari paklek, dan paklek dapat dari almarhum bapak saya yang juga santrinya Kiai Mustajab. Jalur Kiai Djamal adalah yang saya narasikan di bawah ini (kecuali kalau saya tulis versi, berarti dari paklek), berikut kisahnya.

Kiai Mustajab berasal dari Padangan, Bojonegoro. Beliau mondok ke Kiai Sholeh Langitan. Saat di Langitan, Kiai Mustajab dilarang ikut ngaji, hanya disuruh ngopeni sawah dan kudanya kiai.

Suatu saat, kuda kiai lepas, maka Kiai Mustajab disuruh mencarinya. Sekian lama baru kembali ke pondok dengan kudanya. Saat Kiai Mustajab ditanya Kiai Sholeh Langitan akan lamanya mencari kuda, jawab Kiai Mustajab bahwa kuda itu sudah ditemukan dan hanya diikuti dari belakang saja. Tentu hal ini akan lama karena sesuai dengan kemauan kudanya. Kata Kiai Djamal, “Inilah tawadlu’nya Kiai Mustajab terhadap kuda milik kiainya.”

Suatu hari Kiai Mustajab diutus Kiai Sholeh Langitan untuk mengantarkan surat kepada Kiai Sholeh Gondanglegi Prambon Nganjuk sambil diberi kuda. Berangkat dari Langitan subuh, dan sampai pondok al Mimbar Sambong Jombang waktu dhuhur dengan kondisi kuda berhenti (mungkin capek). Oleh Kiai di pondok Al Mimbar ditanya, “Kenapa kudanya tidak dinaiki?” Jawab Kiai Mustajab, “Kulo dibetani, mboten dikengken numpak” (saya hanya diserahi kuda, bukan disuruh menaiki).

Sampai di Gondanglegi Prambon, surat disampaikan dan isinya adalah, yang bawa surat agar dinikahkan dengan putri Kiai Sholeh Gondanglegi (sebagai catatan, Kiai Sholeh Gondanglegi adalah kiai alim yang Mbah Wahab sendiri pernah bilang ke Kiai Djamal bahwa beliau pernah mondok di Kiai Sholeh. Sesepuh kiai Lirboyo juga pernah mondok di Kiai Sholeh).

Membaca surat tersebut, Kiai Sholeh Gondanglegi berucap, “Saya muridnya Kiai Sholeh (Langitan), Anda juga murid beliau, maka saya taat dan akan menikahkan putri saya dengan Anda.”

Kiai Mustajab melihat adik iparnya yang pandai ngaji dan bisa bahasa Belanda menjadi malu dan merasa bodoh. Maka beliau riyadlah (versi Paklek saya, Kiai Mustajab menuju ke sungai Brantas dan tercebur, selanjutnya bertemu Nabi Khidir). Setelah bertemu Nabi Khidir, Kiai Mustajab dinasehati agar jangan susah sambil diberi tanah supaya mencari lokasi yang sama dengan tanah yang dibawanya.

Baca Juga >  Nikmatnya Ngaji Puasa Bersama Kiai Sahal Mahfudh Kajen

Kiai Mustajab berjalan ke selatan, tapi belum ketemu tanah yang sama. Berjalan ke barat, juga demikian, kembali lqgi ke utara akhirnya sampai di lokasi yang sama tanahnya. Itulah Gedongsari.

Kiai Mustajab ini sering diajari Nabi Khidir (versi lain diludahi mulutnya oleh Nabi Khidir), akhirnya beliau menjadi pandai (ilmu ladunni). Bila merasa sulit dalam ngaji, beliau akan pergi ke sungai dekat pondok lalu wudlu, maka akan lancar ngajinya.

Selain itu, beliau dikenal suka mancing dan ahli mencari ikan. Bahkan Kiai Djamal diberitahu oleh ayahnya, bahwa bila Kiai Mustajab punya gawe, maka banyak ikan akan diantarkan ke pondoknya. Di antara yang mengantarkan adalah seorang bercelana hitam dengan memakai udeng hitam. Abahnya Kiai Djamal penasaran dengan orang tersebut, karena bolak-balik mengantarkan ikan, maka saat orang itu selesai antar ikan, dia diikuti, ternyata dia nyemplung ke dam (bok) kembar yang dekat dengan pondok Gedongsari. Dia adalah jelmaan buaya.

Keturunan Kiai Mustajab juga ahli mencari ikan. Kata Kiai Djamal, Gus Baweh mampu slulup berjam-jam dan saat mentas dapat ikan yang banyak.

******
Kiai Djamal dapat kisah dari abahnya, juga dari kakeknya (Mbah Saifulhuda) dan dari pamannya (Mbah Badrul Munir). Masukan dan koreksi dari dzuriyah Gedongsari tentu saya tunggu.

******
*Foto  saat hari raya di ndalem Yai Nasir.

Tambakberas, 11 Juni 2019.

Penulis: Ainur Rofiq Al Amin, Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya.