jalan-jalan kampung citangkolo

Catatan Munas-Konbes: Orang Tua Itu Tulus Banget Hormati Para Tamu (05)

Posted on

MUNAS-KONBES, KOTA BANJAR

Udara di Citangkolo ini masih relatif sangat bersih, terlebih jika dibandingkan dengan di Jakarta. Karena itu sejak semalam sebelum tidur, Mas Rumadi dan Kyai Idris sudah berazam, besok pagi habis shalat subuh kita jalan-jalan keliling kampung. Saking bersih dan nyamannya, plus gak ada nyamuk, saya nyaris aja tidur di emperan rumah.

Dan benar, pagi-pagi sekali, turun dari Mushalla, Mas Rum langsung teriak, “hayo jalan-jalan…!” Kami berempat pun lalu berjalan sambil ngobrol menyusuri jalan kampung yang sudah beraspal hotmix. Sesekali terdengar celetukan Mas Ulil, “Gila.. nyaman banget ini kampung…”

Rata-rata rumah penduduk kampung ini memilliki pekarangan yang sangat luas. Sebagian besar pekarangan itu dibuat kolam ikan besar-besar yang ditanami gurame, patin, lele dan sebagainya.

Kami berjalan sampai melewati dua kali pengkolan, baru balik lagi. Di tengah perjalanan tadi kami sempat ngelirik penjual serabi di pinggir jalan yang masih mengipasi tungkunya. Sambil terkekeh kami menepok jidat, “Yah tadi gak bawa duit ya…kan enak abis jalan-jalan makanan serabi dan gorengan panas.”

Di pengkolan dekat tempat kami menginap, kami singgah di rumah warga lain yang menjadi tempat menginap Mas Imdad. Niatnya cuma mau menyapa dan ngobrol renyah dengan Mas Imdad dan para polisi yang ditempatkan di halaman rumah tersebut. Tapi ketika kami akan beranjak melanjutkan perjalanan, tuan rumah menahan kami. Memohon dengan sangat kami mau sarapan di rumah beliau. Melihat ekspresinya, kami pun gak tega.

Nasi panas serta ikan malem wader goreng dibumbu kecap pun segera terhidang dengan di ruang tamu. Nikmatnya bukan saja karena ikannya yang masih segar, tetapi juga karena senyum ramah tuan rumah yang terus menyuruh kami nambah.

Sambil menemani kami makan, Pak Rujiman bilang, “Kalau boleh saya ingin foto dengan bapak-bapak ini. Nanti saya pajang di ruang tamu buat kenang-kenangan anak cucu..”

Kami terhenyak. Orang ini tulus betul menghormati tamu Munas dan Konbes NU. Dia bahagia betul bisa berkhidmat pada Jam’iyahnya dengan memuliakan para tamu.

Baca Juga >  Gus Zainal, Guruku yang Selalu Kurindukan

Saya, khususnya, yaqqiinn betul akan ketulusan ala Nahdliyyin orang tua ini, karena saya tau persis beliau tidak kenal siapa tamu-tamu yang sedang sarapan di rumahnya itu. Beliau tidak tahu bahwa yang sedang dijamu dan diajaknya foto adalah dua tokoh terkenal NU, Ulil Abshar Abdalla dan Imdadun Rahmat, yang di perkotaan tentu banyak yang akan rela ngantri berfoto dengan keduanya.

Tapi orang tua ini tidak kenal, beliau minta berfoto semata-mata karena kebanggaan bisa ikut menghormati tamu Munas dan Konbes NU, yang juga para tamu Kyainya di PP Miftahul Huda Al-Azhar. Dan dia ingin mengenangnya sepanjang hayat.

Lucunya, ketika usai sarapan, Mas Ulil lalu berdiri dan mempersilahkan tuan rumah untuk berfoto bersama beliau. Bapak tua itu malah bingung, “Ini terus fotonya gimana, saya gak punya kamera dan gak bisa motret..”. Saya juga bingung karena waktu jalan pagi tadi emang gak bawa apa-apa. Mas Imdad yang tanggap, segera beliau masuk kamar mengambil ponselnya, lalu minta tolong polisi yang sedang berjaga untuk memotretkan..

Bapak itu senang betul. Berkali-kali ia berterima kasih karena kami mau sarapan dan berfoto bersamanya. Lagi-lagi tanpa tahu siapa yang diajaknya berfoto.

Kawan, jika kalian berjalan ke perkampungan warga Nahdliyyin di pelosok desa, dan pegunungan, kalian akan menemukan banyak orang tulus seperti bapak ini. Yg mencintai NU dan para kyainya bukan karena pamrih apa pun, tapi hanya karena ingin kecipratan barokahnya organisasi para ulama pejuang ini.

Masih dengan haru, kami lalu melanjutkan jalan pagi kami ke Arena Munas, silaturahmi sowan ke tuan Rumah Hajatan ini, K.H. Marsyudi Syuhud…

Penulis: Ahmad Iftah Sidik, santri Habib Lutfi dan Khodim Pesantren Fatahilah Bekasi.