Sepenggal Catatan Menjadi Petugas Haji 2019
Hadiah tambahan kuota haji dari Raja Salman bin Abdul Aziz Al-Saud kepada Presiden Jokowi sejumlah 10.000 beberapa waktu lalu membuat Kementerian Agama RI menambah juga jumlah personil Petugas Haji 2019.
Berkah ini juga saya rasakan ketika Kamis, 18 Juli 2019 saya mendadak diundang ke Kementerian Agama RI agar mengumpulkan beberapa persyaratan keberangkatan.
Alhamdulillah, berkah ini tidak saya perkirakan sebelumnya. Walaupun ujian calon petugas haji saya lakoni di bulan 25 Februari 2019 dan 1 Maret 2019 di Kanwil Kementerian Agama DIY, tapi niat awal adalah mendampingi senior, Bapak KH Suharto Juwaeni sebagai perwakilan petugas haji dari PWNU DIY. Syukur-syukur tambah pengalaman, hehe
Kesempatan kedua muncul kembali, ketika Kanwil Kementerian Agama DIY merekrut tambahan TPIHI (Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia) dan TPHI (Tim Pemandu Haji Indonesia). Tim ini akan mendampingi haji sebagai petugas haji Kloter/mendampingi jamaah haji. Namaku diusulkan kembali, walaupun akhirnya “dipilih” orang lain. Mengapa? Tak perlu saya ceritakan. Saya hanya pasrah dan ikhlas. Sebagaimana pelajaran di manasik KBIH Muslimat NU HDWR tahun lalu: “siapapun jika sudah menjadi panggilan, pasti akan berangkat. Sebaliknya, jika belum dipanggil, sampai Makkah pun tidak dapat melaksanakan ibadah haji… 😔“.
Hikmah ini penuh saya rasakan karena akhir bulan Juli 2019, istri saya mendaftar Ujian Disertasi Tertutup dan ditargetkan bulan Agustus 2019 akan Ujian Promosi Terbuka. Sebagai suami yang sholeh (aiiiyyyyaaakkk 🤪🤪) saya pun harus mendampinginya sejak persiapan sampai pelaksanaan (ndampingi nglembur, ngeprint, njilid, dll, sampai pada ujian).
Ikhlas istri tercinta agar saya menerima tugas ini dan siap ditinggal saat-saat pentingnya menambah syukur tersendiri.
Takdir berkata lain. Syukur tak terkira kok kemudian dipanggil agar menjalankan tugas sebagai PPIH Arab Saudi 2019 sebagai Petugas Non-Kloter. Persiapan seminggu, di tengah-tengah persiapan menguji Promosi Terbuka Disertasi Pak Halili, Kasi Bimas Islam Kemenag Bantul, saya ke sana kemari mempersiapkan perbekalan. Untungnya, paspor dan vaksin miningitis masih berlaku, sehingga Jumat, 19 Juli 2019 saya bisa cus ke Jakarta mengumpulkan persyaratan.
Satu jam urusan di Kemenag Pusat selesai, langsung cus ke Bandara Soeta agar bisa pulang ke Jogja, sebab Sabtu pagi, 20 Juli 2019 harus menguji tesis Mas Feriyanto, Calon Hakim PA yang hanya ada waktu ujian di hari Sabtu (Senin-Jumat sedang magang di PA Tulungagung). Tiket pesawat Jumat habis, terpaksa harus menginap di Hotel Bandara dan mengambil penerbangan ke Jogja Sabtu subuh. Alhamdulillah, semua lancar. Pulang subuh dan ujian terlaksana.
Ahad sebelum Subuh, 28 Juli 2019 saya berangkat ke Jakarta agar jam 14.00 WIB dapat mengikuti pembekalan petugas di Kementerian Agama. Pembekalan selesai, akhirnya Senin, 29 Juli 2019 saya beserta 51 petugas tambahan diberangkatkan ke Arab Saudi, untuk tugas 42 hari ke depan, dan langsung menuju King Abdul Aziz Airport, Jeddah. Senin petang waktu Arab Saudi tiba di Jeddah, sekalian ambil miqot umroh wajib saya kemudian dinaikkan bis oleh Petugas Haji Daker Bandara menuju Mekkah al-Mukarromah.
Selasa Subuh, 30 Juli 2019 umroh wajib terlaksana. Jam 8 pagi dikumpulkan di Kantor Daerah Kerja (Daker) Mekkah untuk pembagian sektor kerja. Ndilalah, lha kok saya ditugaskan di Sektor Khusus Makkah yang melingkupi daerah kerja Masjidil Haram. Tak dinyana juga, dikumpulkan dengan adik iparku, Kang Zudi Rahmanto, yang berangkat lebih awal 9 Juli 2019 sebagai petugas haji non-kloter juga 🤩🤩🤩. Satu hotel lagi (di Jaad Syisya Hotel).
Setelah briefing dengan petugas bimbingan ibadah lain: Kang Zudi Rahmanto, Pak Kyai Subakir (IAIN Kediri), dan Pak Kyai Ansori (IAIN Purwokerto), beserta Tim dari Polri (Mas Riswandi, dkk) saya tambah mengerti tugas yang harus saya emban: sebagai pelaksana bimbingan ibadah (bimbad) sekaligus sebagai linjam (perlindungan jamaah). No problem. Sedikit pengalaman dan “ngglidhig” saat jadi Ketua Regu pada musim haji tahun 2018 meyakinkan saya bahwa Insya Allah saya bisa melaksanakannya.
Mulai Bertugas, Rabu 31 Juli 2019
Rabu pagi jam 7.30 WAS bersama tim saya diantar transportasi petugas sektor ke Masjidil Haram. Tugas pertama ditempatkan di Pos 6 timur/depan Babus Salam. Jam 8 pagi sampai jam 16 di pos ini sungguh mengasyikkan, terutama bagi yang bertugas pertama seperti saya. Paling tidak, saya jadi hafal nomor bis Shalawat dan terminalnya, ketika jamaah haji kebingungan ke mana harus pulang 😁. Satu tim terdiri dari tenaga kesehatan dan TNI agar jamaah haji yang menghadapi masalah diaorientasi, tertinggal dari rombongan, atau masalah kesehatan cepat tertangani.
Di Pos 6 ini, saya dan tim harus selalu bergerak menyesuaikan bayangan matahari yang terik, 42 derajat panasnya. Semakin siang semakin ke selatan sampai di bawah jembatan menuju Bukit Shofa dari arah Bab Ali. Sore hari baru mendekat Masjidil Harom berlindung di bawah bayang-bayangnya.
Selesai tugas jam 16.30 ba’da sholat Asar, saya tergerak untuk bernostalgia ke hotel Dar Umm Qura yang saya tinggali saat haji 2018 bersama istri. Selesai sholat, saya menuju Terminal Bab Ali untuk naik bis Shalawat menuju Mahbas Jin, lokasi hotel Dar Umm Qura.
Tinggal satu langkah kaki lagi saya memasuki bis. Tiba-tiba beberapa jamaah haji memanggilku. Ada sepasang suami istri yang disorientasi. Tak jadi masuk bis, saya ajak bicara mereka, ternyata mereka salah arah. Mereka tinggal di Misfalah, seharusnya mereka ke Terminal Ajyad untuk naik bus Shalawat nomor 11.
Yang menjadi masalah lagi adalah mereka baru datang ke Mekkah semalam dan baru menjalankan umroh wajib. Ketika saya tanya rukun umroh, ternyata mereka baru melaksanakan thawaf, belum melaksanakan sa’i apalagi tahallul. Inilah tugas yang sesuai tupoksi pikirku. Saya antar mereka kembali masuk masjid, tepatnya di Bukit Shofa, sambil menjelaskan kembali cara-cara sa’i. Saya antar mereka sampai Bukit Marwa dan akhirnya saya pamit dan keluar masjid melalui pintu Marwa arah timur (Toilet Abu Jahal). Saya langsung pulang ke hotel di Syisya dengan naik bis Shalawat di Terminal Syib Amir.
Sempat juga diusir petugas bis nomor 6 karena ternyata itu bis khusus jamaah haji Rusia. Omongnya casciscus yang saya pahami saya tidak boleh naik bis itu. Seharusnya saya naik bis nomor 6 yang berbendera Indonesia. Hahahahahaha…. oalaaaaahhhh… petugas anyaran 😜😜😜
Hari kedua, Kamis 1 Agustus 2019 saya ditugaskan di Pos Marwa, sesuai bidang yang saya ditugaskan: bimbingan ibadah (bimbad). Saya pilih di ground floor, lantai Mas’a terbawah. Lokasi ini saya pilih karena selesai sa’i biasanya jamaah bingung jalan keluarnya, di samping jaga-jaga kalau ada jamaah yang minta layanan tahalul. Gunting pun sudah saya siapkan.
Baru masuk pintu Mas’a di Shofa, saya didatangi seorang jamaah asal Banjarmasin, lelaki bertato yang bertanya kelanjutan setelah sa’i. Saya pikir aneh jika akhir sa’i kok di Shofa. Tetapi karena dia mengaku telah 7 kali sa’i, maka saya ajak dia untuk tahallul di Marwa. Selesai doa, saya potong rambutnya 3 potongan. Kenalan, berfoto kenangan, dan akhirnya dia pamit kembali ke hotel.
Seperti di hari pertama, banyak jamaah yang bertanya pintu keluar ke arah terminal bus. Jika masih muda dan kuat, saya hanya mengarahkan lokasi pintu keluar. Jika sudah tua dan butuh pendampingan, saya antar sampai terminal atau pintu keluar Masjidil Haram. Yang mengesankan adalah mengantar dua orang kakek-kakek ke Aziziyah dan Mahbas Jin karena tertinggal rombongan. Kesempatan inilah yang saya gunakan kemudian untuk bernostalgia mengunjungi Hotel Dar Umm Quro Mahbas Jin. Hmmm… melihat dan mengunjunginya serasa memoriku setahun lalu, ketika 22 hari tinggal di dalamnya. Jendela kamar dan isi dalam hotel saya pandangi sekedar bernostalgia. Ya Allah… memang sejarah akan selalu manis dikenang.
Jumat, 2 Agustus 2019
KH Dr Ahmad Bahiej, dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.








