indonesia pimpin dunia

Bukan Cuma Hari ini, Indonesia Kelak Yang Jadi “Pawang” Dunia

Posted on

Dimensi konflik Israel-Palestina memang sangat pelik, yang panjenengan ataupun saya sendiri tak mengerti persis apa yang terjadi sebenarnya dan bagaimana solusi yang tepat, selain hanya berdasarkan kira-kira atas keterbatasan pengetahuan kita sendiri mengenai itu. Lha kok kita, bahkan negara-negara di dunia juga bertahun-tahun terjebak oleh situasi dimana ada semacam ketakutan terhadap konsekuensi ketika ikut andil menangani konflik keduanya. Namun tak bisa di pungkiri, negara-negara seperti Mesir, Indonesia dan lainnya telah berupaya untuk terus mendorong perdamaian diantara mereka.

Gus Yahya tiga hari lalu telah berbicara dihadapan mayoritas warga Yahudi yang sudah barang tentu langsung mendapatkan reaksi luar biasa dari publik Indonesia terutama yang tidak setuju atas kehadirannya di forum tersebut. Tapi yang jelas, kehadiran Gus Yahya pada forum antar agama semacam itu bukan hal baru, sudah cukup lama dan di berbagai belahan dunia. Pada tahun lalu misalnya, tepat pada bulan April 2017, Gus Yahya juga menghadiri Muktamar Internasional yang diselenggarakan oleh Al-Azhar Mesir dengan tema perdamaian. Sejumlah tokoh agama baik Kristen, Budha, Hindu, Yahudi maupun lainnya, terutama ulama-ulama Islam dari berbagai penjuru dunia, bahkan Paus Fransiskus dari vatikan pun turut hadir pada konferensi perdamaian tersebut.

Pada kesempatan wawancara dari berbagai media di Kairo, Gus Yahya selalu mengutarakan hal yang secara substansi sama dengan apa yang baru disampaikan baru-baru ini “Rahmah” dan “Falsafah Pancasila” sebagai sumbangan Indonesia bagi perdamaian dunia. Pada sela-sela muktamar pun, saya tahu betul bagaimana kegelisahan teramat sangat Gus Yahya atas tatanan dunia hari ini yang memerlukan arah baru terhadap kemuliaan hidup sebagai dasar utama dan bukannya sekedar beriorientasi pada prestasi ekonomi maupun politik kekuasaan yang berujung  pada infiltrasi yang menindas dan memberangus satu sama lain.

Kalau kita melihat permasalahan antar agama yang belum lama terjadi, misalnya pada awal bulan Mei lalu, adanya gerakan yang menuntut penghapusan ayat-ayat al-Qur’an dan petisi yang ditandatangani oleh hampir 300 tokoh berbagai kalangan baik dari intelektual maupun politisi di Perancis. Di penghujung bulan yang sama sangat ramai juga dengan gerakan #Burning_Quran_Challenge, sehingga munculnya banyak video pembakaran Al-Qur’an secara sengaja dari berbagai negara, karena dianggap sumber ekstremisme dan terorisme di dunia. Terus bagaimana merespon hal semacam ini selain dengan cara berdialog? balik menuntut? balik menghardik? mengutuk-ngutuk? atau malah memerangi?

Ketika melihat “anak nakal” memukul anakmu, tentu saja tidak serta-merta langsung balik pukul dan memaki-maki seberapa pun salahnya, seyogyanya dengan mengajak berdialog, berbicara dengan santun, barangkali akan menjadi hal yang paling berarti baginya kelak. Mereka hanya belum tahu, belum mengerti dan belum memahami sebenarnya.

Indonesia negara sangat besar, falsafah bangsanya juga sangat agung, sadar atau tidak bahwa memang sudah waktunya Indonesia memangku segala persoalan dunia, dengan cara menyumbangkan fikiran dan gagasan demi perubahan baru dunia. Kelak, Indonesia dianggap tepat sebagai “pawang” untuk meminalisir dan juru damai atas konflik yang terjadi. Karena tabiat orang Indonesia dalam memediasi selalu berdialog dengan kedua belah pihak, menjembatani diantara mereka dan berusaha menemukan titik temu dari dua kepentingan yang semuanya mendahulukan ego kekuasaan.

Baca Juga >  Mendebat Cadar

Sebagian kita terlalu menganggap seolah-seolah negara-negara disana jauh lebih baik, kita bangsa yang kerdil dan tidak lebih dari mereka. Sungguh itu keliru, Mereka kini sedang kelabakan dan sebentar lagi mengulurkan tangan karena sadar akan merasuk ke dalam jurang berlumpur, sehingga dalam waktu yang tidak lama, mereka  yang dari sini maupun yang disana akan saling memberangus, sementara yang kalah hanya mampu meraung meminta pertolongan.

Gus Yahya merupakan bagian dari orang-orang yang juga memiliki peran mendamaikan konflik di Afghanistan, yang akhirnya berdampak cukup efektif setelah mensponsori adanya rekonsiliasi antara para tokoh di Afghanistan, bahkan tidak lama setelah itu pelajar Afghanistan mengenyam Pendidikan di Indonesia yang kemudian mereka mendirikan Ormas NU cabang Afghanistan.

Oleh Karenanya, Perdamaian Palestina-Israel sudah tentu bagian dari yang Gus Yahya upayakan. Sehingga, kadang kala saya menilai, rasa-rasanya ini bukan hanya persoalan Palestina-Israel, tapi ini bagian dari membangunkan kembali nalar dan kewarasan dari ketidak seimbangan berfikir umat manusia hari ini, untuk saling peduli satu sama lain dengan cara pandang kasih sayang dan bukannya hanya pengutukan bahkan penindasan yang merendahkan harkat kemanusiaan.

Jadi teringat obrolan Kang Bejo kemarin ;  “Lalu kita sendiri bagaimana, apa yang sudah kita perbuat?”

Faktanya jo, Kita belum melakukan apa-apa, kita baru pada fase dimana ketika kita tidak sepakat pada suatu hal, lalu memaki hingga muncrat, tanpa mau mempelajari dan memahami lebih dulu berbagai dimensinya. Baru disitu, sungguh baru disitu dan belum beranjak jauh.

“Lha, Terus masih ramai-ramai memaki ini mau diapain ?”

Yah… biarkan saja jo,  itu hanya soal males mikir, ketidak percayaan sebagai bangsa besar yang nanti akan menghimpun banyak hal.

“NU sekarang malah di bilang antek Yahudi, kepiye iki?”

Ah… itu sudah biasa. Dulu bilang liberal, dibilang syiah, kini dibilang antek Yahudi, besok lagi entah apa. Tapi percayalah, Kyai-kyai NU akan tetap menyayangimu jo, akan tetap mencintaimu, tetap mengirimi Fatihah khusus padamu, akan terus mendoakanmu tanpa henti, tanpa engkau sendiri sadari dan tanpa sekalipun kau minta, bukan karena apa dan untuk apa. Karena Kyai-kyai NU Manusia dan engkau dan aku juga Manusia.

Wes jo, tak turu sik yo.

*) Oleh : Valih Fafa