Bisikan Jin Nabi Palsu yang Terbongkar.
Pada sebuah malam, barangkali di sela-sela tahajud, sosok itu menghampiri Anda. Rautnya jernih, bajunya putih, tampilannya mempesona. Segala imaji Anda tentang malaikat ada pada dirinya. Dan iya, sosok itu mengaku sebagai utusan Tuhan yang membawakan wahyu. Malam itu, ia mengabarkan, Anda ditunjuk sebagai Nabi.
Peristiwa di atas tidak betul-betul terjadi pada Anda, memang, tapi cukup bayangkan. Sekali ini saja. Apa jadinya? Apa yang akan Anda lakukan setelahnya?
Saya menyarankan Anda tidak menjadi seperti Al-Aswad al-‘Ansi.
Orang ini, seperti dikutip dari Imam al-Thabari dalam Tarikh al-Rusul wa al-Muluk, sejak kecil hidup di pegunungan. Tepatnya, ia besar di Khubban, nama sebuah goa di sekitaran Najran. Di sinilah awal mula Aswad memilih “profesi” sebagai Nabi. Proklamasi kenabian Aswad terjadi pasca haji wada’-nya Nabi Muhammad Saw, tidak lama sebelum beliau wafat.
Aswad sepertinya pribadi yang lebih serius ketimbang Musailamah bin Habib al-Kaddzab. Meski sama-sama mengangkat diri sendiri sebagai Nabi, hikayat tentang “mukjizat” Musailamah cenderung menunjukkan kalau dia orang yang apes.
Coba perhatikan, Musailamah pernah diminta mengobati seorang bocah yang buta sebelah. Bukannya sembuh, mata yang sebelahnya malah ikutan buta setelah dimantrai Musailamah. Kali lain ia diminta memberi berkah sumur warga. Ia pun meludah ke dalam air. Tapi apa hasilnya? Sumur itu mendadak bau bacin.
Belakangan kita, kaum muslimin, mengkonseptualisasi kejadian semacam ini dengan sebutan ihanah (penghinaan), kontra dari mu’jizat atau karamah atau ma’unah.
Lantas bagaimana dengan Aswad? Ia memiliki seekor keledai yang patuh. Saat diperintahkan sujud, keledai itu pun sujud. Ketika disuruh berdiri, ia pun berdiri. Karenanyalah Aswad juga dijuluki Dzul Himar (dengan ha’ tanpa titik).
Menurut Imam al-Mas’udi dalam al-Tanbih wa al-Israf, Aswad memang sering memunculkan fenomena luar biasa. Itu sebetulnya tidak terlalu mengherankan, sebab latar belakangnya yang seorang dukun (kahin). Dari sinilah Aswad kemudian memperoleh banyak pengikut, dan bersama ratusan pasukannya ia menjatuhkan Shan’ah, ibu kota Yaman, dari tangan Badzan, putera persia yang menguasai daerah itu.
Pertanyaannya, apakah argumen yang menjadi dasar keberanian orang-orang seperti Aswad dan Musailamah menisbatkan diri sebagai Nabi?
Jawabnya jelas, klaim kenabian diiringi dengan asumsi turunnya wahyu. Dan, untuk kasus-kasus nabi palsu macam Aswad dan Musailamah, klaim kenabian juga berkait lekat dengan sejumlah motif terselubung terkait mempertahankan status quo.
Musailamah umpamanya, seperti dikabarkan oleh Imam al-Kirmani dalam Gharaib al-Tafsir wa ‘Ajaib al-Ta’wil, mengaku didatangi Malaikat yang ia sebut bernama ‘Izail (bukan typo dari ‘Izrail). Ketika Nabi Muhammad Saw menerima surat al-Kautsar, Musailamah konon juga memperoleh ayat bajakan-nya, sebagai berikut:
ﺇﻧﺎ ﺃﻋﻄﻴﻨﺎﻙ اﻟﺠﻮاﻫﺮ، ﻓﺼﻞ ﻟﺮﺑﻚ ﻭﻫﺎﺟﺮ، ﺇﻥ ﻣﺒﻐﻀﻚ ﺭﺟﻞ ﻛﺎﻓﺮ
“Sesungguhnya Aku telah memberimu permata. Maka shalatlah untuk tuhanmu dan minggatlah. Sesungguhnya orang yang membencimu adalah lelaki kafir.”
Sementara itu, ada dua malaikat yang kabarnya mendatangi Aswad. Menurut Imam al-Maqdisi dalam al-Bad’ wa al-Tarikh, Aswad memberi nama keduanya dengan Sahiq dan Syaqiq. Ayat-ayat kualitas KW yang dibacakannya adalah misalnya tiruan dari wal ‘adiyati dhabha:
ﻭاﻟﺰاﺭﻋﺎﺕ ﺯﺭﻋﺎ ﻭاﻟﺤﺎﺭﺛﺎﺕ ﺣﺮﺛﺎ ﻭاﻟﺤﺎﺻﺪاﺕ ﺣﺼﺪا، ﻓﺎﻟﻜﺎﺩﺳﺎﺕ ﻛﺪﺳﺎ ﻭاﻟﻄﺎﺑﺨﺎﺕ ﻃﺒﺨﺎ ﻭاﻟﻌﺎﺟﻨﺎﺕ ﻋﺠﻨﺎ ﻓﺎﻟﺨﺎﺑﺰاﺕ ﺧﺒﺰا، ﻓﺎﻵﻛﻼﺕ اﻛﻼ
“Demi emak-emak petani yang bercocok tanam, dan emak-emak pekebun, dan emak-emak pemanen, dan emak-emak pengumpul panenan, dan emak-emak pemasak, dan emak-emak pengadon, dan emak-emak tukang roti, serta emak-emak bagian icip-icip.”
Begitulah, para Nabi palsu pada umumnya memiliki semacam mentor dan atau supervisor dari kalangan gaib. Alih-alih malaikat, perewangan mereka ini sebetulnya wangsa jin, yang dalam redaksi al-Quran disebut setan:
هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَىٰ مَن تَنَزَّلُ ٱلشَّيَـٰطِينُ تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍۢ
“Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa.”
Menurut Imam Al-Qurthubi, dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Quran, terdapat beberapa hal yang membedakan Nabi dan Mutanabbi’ (orang yang sekedar mengaku Nabi). Salah satunya adalah ketika bukti-bukti kenabian diperbandingkan, maka bekal para mutanabbi’ akan kalah jauh dilumat oleh kepunyaan nabi-nabi asli. Ini terjadi pada peristiwa kemukjizatan tongkat Nabi Musa di hadapan penyihir Firaun. Atau kemukjizatan nazhm al-Quran dibandingkan dengan syair ecek-ecek bikinan Aswad dan Musailamah.
Imam al-Razi, dalam Mafatih al-Ghaib, menekankan perbedaan konten dan subyek kenabian. Apabila Nabi selalu mengajak untuk memusuhi setan, para Mutanabbi’ justru menyeru pada kekufuran. Atau apabila Nabi selalu benar dan jujur dan terjauhkan dari dosa, maka Mutanabbi’ pada umumnya punya maksud melampiaskan hasrat untuk disanjung.
Maka seperti Musailamah, yang melabeli diri sebagai Rahman al-Yamamah, Aswad menyebut dirinya Rahman al-Yaman. Diksi Rahman di sini merujuk pada makna penguasa, atau dalam bahasa jawa “sing bahureksa”.
Menurut informasi yang diperoleh Imam Al-Baladzuri dari penduduk Yaman, seperti disebut dalam Futuh al-Buldan, Aswad –yang memiliki nama asli ‘Abhalah bin Ka’ab– mendapat julukan Aswad karena mukanya yang hitam. Barangkali ini alasan kenapa ia selalu tampil mengenakan tudung, laiknya topeng ninja pada gambaran anak zaman sekarang. Dan itulah sebab kenapa ia mendapat julukan Dzul Khimar (dengan kha’ bertitik di atas). Aspek kemisteriusan ini dipertahankannya untuk melanggengkan ketakutan.
Aswad dan Musailamah sebetulnya tidak bermaksud mengklaim kenabian untuk dirinya sendiri. Mereka lebih suka dengan gagasan sharing kenabian. Bahwa Muhammad adalah nabi, begitu juga mereka yang menurut diri mereka sendiri adalah nabi. Untuk itu, keduanya tak segan-segan memaksakan pendapat; membunuh orang yang menentang.
Ini pernah terjadi pada salah seorang tabiin bernama Abu Muslim al-Khawlani. Disebut tabiin karena, meskipun sudah memeluk Islam sejak Nabi Saw masih hidup, beliau belum sama sekali pernah bertemu Nabi. Menurut salah satu riwayat yang dikutip Imam Al-Suyuthi dalam al-Khashaish al-Kubra, al-Khawlani adalah penduduk Yaman pertama yang masuk Islam.
Aswad bertanya kepada al-Khawlani, “Apakah kau bersaksi tiada Tuhan selain Allah?” Beliau menjawab, “Ya! Aku bersaksi.” Ia bertanya, “Apakah kau bersaksi Muhammad adalah utusan Allah?” Beliau menjawab lagi, “Ya, aku bersaksi.”
Terakhir, Aswad bertanya, “Apakah kau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?”
“Nah, kalau ini aku belum pernah dengar!” tukas al-Khawlani.
Mendengar jawaban macam itu, Aswad pun berang. Ia lantas menyeru anak buahnya membakar al-Khawlani hidup-hidup. Tapi ajaib, seperti dikisahkan Imam Ibn al-Jauzi dalam Shafwat al-Shafwah, al-Khawlani tidak tersentuh api sedikitpun. Dan sebaliknya, barangkali karena putus asa, Aswad pun melepas, dan hanya mengusir, al-Khawlani. Beliau akhirnya hijrah ke Madinah dan mendapati Nabi telah wafat. Aswad sendiri berikutnya mati di tangan Fairuz al-Dailami, adik beradik penguasa Yaman sebelumnya.
Nasib berbeda dialami oleh seorang shahabi bernama Habib bin Zaid al-Anshari. Beliau ini sebetulnya utusan Nabi yang diperintahkan mengajak Musailamah bertaubat. Tapi, oleh Musailamah, Habib malah diinterogasi. Pertanyaan yang sama, dan jawaban yang serupa, dengan yang Aswad berikan pada Abu Muslim al-Khawlani. Musailamah yang marah pun memutilasi Habib bin Zaid sampai mati.
Dari sini kita tahu, para nabi palsu mengambil untung dari status dan atau gengsi kenabian. Itulah alasan kenapa Musailamah punya anggapan norak bahwa kenabian tak lebih dari soal pengangkatan kepala suku. “Jika Muhammad adalah Nabi orang Quraisy, maka aku adalah Nabi dari Bani Hanifah,” katanya.
Nabi palsu yang lain, yang menganggap soal kenabian hanya perkara urusan uang dan rampasan perang, adalah Thuwailihah bin Khuwailid. Mulanya beragama Islam, kepala suku daerah Najd yang kaya raya ini mendakwahkan kenabian setahun pasca Nabi wafat. Kelak, Thuwailihah dikalahkan Khalid bin Walid, dan kembali masuk Islam. Salah satu ayat yang pernah dinubuatkan Thuwailihah adalah tandingan Surat al-Fil:
اﻟﻔﻴﻞ ﻭﻣﺎ اﻟﻔﻴﻞ، ﻭﻣﺎ ﺃﺩﺭاﻙ ﻣﺎ اﻟﻔﻴﻞ، ﻟﻪ ﺫﻧﺐ ﻭﺛﻴﻞ، ﻭﻣﺸﻔﺮ ﻃﻮﻳﻞ، ﻭﺇﻥ ﺫﻟﻚ ﻣﻦ ﺧﻠﻖ ﺭﺑﻨﺎ ﻟﻘﻠﻴﻞ
“Gajah. Apa itu gajah? Apakah engkau tahu apa itu gajah? Gajah punya telinga lebar, belalai panjang, dan buat Tuhan kita itu adalah perkara kecil.”
Demikianlah, tak perlu terlalu ge’er saat tiba-tiba sosok gaib menghampiri Anda. Betapapun wangi dan rupawan sosok tersebut, ia bisa saja setan yang bermaksud menyesatkan Anda dan kita semua.
Patokannya adalah syariat. Kenapa? Sebab syariat Nabi Muhammad tidak akan batal hanya karena jin tertentu berhasil menipu Anda, dan lalu mengaku sebagai malaikat, serta mengajak Anda menghalalkan kumpul kebo.
Demikian kisah Bisikan Jin Nabi Palsu yang Terbongkar.
Wallahu a’lam bis shawab.
Penulis: KH Lukman Hakim Husnan, dosen STIQ Al-Lathifiyah Palembang.








