prabowo

Bilangnya Anti-Asing, Ternyata Malah Memuja Asing

Posted on

Karakter para pendukung Prabowo memang khas. Mereka gemar sekali teriak anti-asing, tetapi selalu menunjukkan sikap yang memuja asing secara berlebihan. Seolah-olah bangsa kita tidak ada apa-apanya dibanding mereka.

Contoh paling gampang bisa dilihat dari postingan foto mereka. Ketika berjalan-jalan ke luar negeri, minimal Singapura, mereka mengekpresikan kekagumannya terhadap kemudahan transportasi dan kebersihan negara kota itu. Namun, silakan cek, pada saat yang sama mereka terus nyinyir terhadap pencapaian pembangunan di negeri sendiri dengan mengatakan: emangnya rakyat bisa kenyang makan infrastruktur?

Pokoknya dalam benak mereka seolah-olah bangsa dan negara ini tidak mungkin bersaing dengan bangsa dan negara lain. Tidak heran mereka begitu mengelu-elukan kemampuan Prabowo dalam berbahasa Inggris. Seakan-akan itulah satu-satunya modal dalam berdiplomasi.

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Saya kira apa yang dialami oleh para pendukung Prabowo adalah penyakit pasca-kolonial yang parah. Mereka benci setengah mati, tetapi juga sambil meniru setengah mati, kelakukan penjajahnya. Dari sinilah berbagai paradoks dan kontradiksi psiko-kultural dimulai.

Baca Juga >  Bahtsul Masail NU, Teladan dalam Menjawab Masalah Keumatan

Belakangan penyakit pasca-kolonial tersebut dimasuki oleh waham Islamisme global. Pusatnya bergeser dari Mekah dan Kairo ke Istanbul. Para pendukung Prabowo terlihat lebih Erdogan daripada Erdogan sendiri.

Penulis: Amin Mudzakir, peneliti LIPI.