Bersama Mbah Maimoen, Mimpi Ziarah Syekh Abdul Qadir Al-Jilani Jadi Kenyataan

Berawal pada tahun 2012. Saya bermimpi ditunjukkan Makam Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani oleh Mbah Yai Maimoen Zubair, sehingga dengan samar -samar saya bisa melihat beliau.

Setahun kemudian, ada tawaran Umroh & perjalanan ke tempat – tempat penting & bersejarah, yaitu;

1- Spanyol, meliputi Kota Cordoba dengan tujuan Madinat Zahro & gereja Katedral, Kota Granada dengan tujuan istana Al-Hamra, & Kota Madrid dengan tujuan palace & estadio vicente calderon ( Stadion sepak bola milik Real Madrid).

Bacaan Lainnya

2- Irak, meliputi Kota Baghdad dengan tujuan makam Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, Ibn Hambal & beberapa tempat lain, Kota Karbala menuju makam Sayyidina Husain Radhiyallahu’an, & Kota Najaf menuju makam Sayyidina Ali Radhiyallahu’an,

bersama Mbah Yai Maimoen dengan Travel Anwarul Maliki milik Gus Munif Pasuruan Jatim.

Setelah ikut mendaftar, kami sowan Mbah Yai lalu kami pun menceritakan mimpi itu & ingin nderekke beliau.

Kemudian Mbah Yai dawuh: “Yo iku kersane Alloh.”

Karena sulitnya proses administrasi sebab melintasi beberapa negara, jadwal keberangkatan yang semula direncanakan Rabi’ul Awal mundur sampai tiga kali, sehingga baru bisa berangkat awal Rojab. Sebagian jamaah terbang dari Bandara Juanda Surabaya lalu transit di Cengkareng, di sana kami bertemu dengan Mbah Yai Maimoen sekalian, Mbah Najih & yang lainnya, semua berjumlah 24 orang.

Qadarullah (atas takdir Allah), apa yang saya impikan itu perlahan menjadi kenyataan. Di pesawat saya selalu duduk berdekatan dengan Mbah Yai walau tak satu jok. Mulai perjalanan dari Cengkareng ke Doha, Doha ke Madrid, Madrid ke Ankara (Turki), Turki ke Dubai & Dubai ke Baghdad. Sebaliknya, terkadang tempat duduk saya jauh dari suami (abah).

Dalam perjalanan, sungguh nampak jelas kerinduan Mbah Maimoen yang sudah begitu sepuh, pada Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani.

Rombongan kami tiba di hotel Baghdad Kamis sore. Mungkin banyak di antara kami yang masih capek namun tak begitu dengan Mbah. Pada malam Jumat, beliau langsung mengajak kami untuk ziaroh makam Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani. Baru pada hari berikutnya kami ke Karbala, Najaf & ke tempat-tempat ziarah di kota Baghdad.

Keanehan muncul lagi saat kami meninggalkan Baghdad menuju Jeddah dan seterusnya, tempat duduk saya di pesawat tak lagi selalu dekat dengan Mbah Yai, kadang dekat kadang jauh. Mungkin begitulah arti dalam mimpi saya, sebelum ditunjukkan makam Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani, saya selalu duduk di pesawat dekat dengan beliau.

Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Charomain yang seringkali membuat air mata tak terbendung apalagi saat Mbah Yai melantunkan doa.


Kenangan:
Saat di kendaraan (bis), Mbah selalu menceritakan sejarah, kadangkala diselingi mauidoh tentang tempat yang akan atau baru saja dikunjungi. Yang disesali beliau yaitu sebetulnya sudah disiapkan cerita beberapa ulama’ asal Spanyol (Andalus) tapi ternyata catatan itu tertinggal tak terbawa.

Sungguh perjalanan yang mengesankan & tak terlupakan bagi kami. Matur nuwun Mbah Yai, Alchamdulillah.
JazakaLlohu anna wa anil muslimina khoiro. Aamien.

اللهم انشر نفحات الرضوان عليه
وامدنا بالاسرار التي أودعتها عليه

*Peristiwa ini dialami ibunda H Achmad Ghiyast (Ibu Hj Chid) diceritakan oleh KH. MN Huda Muslich
Al-Ma’ruf Bandungsari Grobogan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *