Bermain-main dengan Sedekah: Membuktikan Firman Allah, QS Al-Baqarah ayat 261

Posted on

Seseorang bercerita kepadaku bahwa dirinya ingin membuktikan firman Allah yang tercatat dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah 261 yang artinya;

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”

Usai melihat arti dan penjelasan ayat itu, ia langsung mengintip isi dompetnya. Terlihat uang Rp. 50.000, tepatnya pecahan Rp. 10.000 sebanyak 5 lembar terselip di sana. Ia berpikir ingin membuktikan firman Tuhan tersebut. Apakah benar?

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Ia ambil selembar 10.000. Ia keluar dari rumahnya. Mendatangi rumah fakir-miskin tak jauh dari tempat tinggalnya. Ia sedekahkan uang itu sambil harap-harap cemas dapat balasan langsung dari Allah.

Benar, keesokan harinya ia dapat rezeki berkali-kali lipat dari uang yang disedekahkannya itu. Ia bersyukur. Ternyata sabda Tuhan benar adanya, bukan hoaks, sebagaimana yang banyak berkembang di kitab-kitab media sosial akhir-akhir ini.

Oh alangkah bahagianya.

Ia ingin mencoba kembali. Enak juga kan apabila bisa terus seperti ini. Bisa kaya raya dengan bantuan sedekah, nih.

Ia pun kembali mengeluarkan uang dua kali lebih besar jumlahnya dari yang disedekahkan kemarin.

Tak harus menunggu lama sebagaimana yang pertama, Allah juga menggantinya dengan uang yang jumlahnya berlipat-lipat dari yang disedekahkan.

Sedekah yang ketiga kalinya juga tak kalah banyaknya dan balasannya pun demikian.

“Ya Allah, terima kasih banyak. Kalau begitu, saya harus rajin-rajin bersedekah. Tak boleh berhenti bersedekah,” tandasnya.

Sayangnya, ketika ia bersedekah untuk keempat kalinya, Tuhan tidak membalasnya sebagaimana yang sudah-sudah. Ia tunggu balasan sedekah itu; satu hari, dua hari, hingga satu bulan, tetap tak datang-datang.

“Balasan rezeki yang berlipat-lipat itu di mana, ya?” Tanyanya.

Ia memutuskan untuk bersedekah kembali. Mungkin malaikat lupa untuk mencatat sedekah yang keempat sehingga tidak ada kabar hadiahnya. Ia berharap, yang kelima ini langsung dapat balasan. Maka dikeluarkanlah uang sedekah yang kelima dengan jumlah lebih besar daripada yang keempat.

Namun, lagi-lagi tidak ada balasan. Ditunggu seminggu, dua minggu, sebulan hingga dua bulan juga tak ada balasan. Oh kenapa balasan sedekah ini seperti Bang Toyib yang tak kunjung pulang? Ia mulai gelisah. Hal ini tidak boleh terjadi terlalu lama. Bisa miskin, nih, katanya.

Akhirnya ia memutuskan untuk sowan kepada seorang Kiai guna menanyakan nasib sedekahnya.

Kepada Kiai ia bertanya, mengapa sedekah yang keempat dan kelima tidak mendapat balasan sebagaimana yang pertama hingga ketiga. Padahal, Tuhan berjanji setiap sedekah akan diberi balasan yang lebih besar? Lalu bagaimana nasib sedekah yang tidak mendapat balasan itu?

Sang Kiai tersenyum mendapat soal ujian sedekah seperti itu. Sang Kiai balik bertanya, “apakah engkau masih sehat?”

“Alhamdulillah sehat, Kiai.”

“Apakah keluargamu sehat?”

Baca Juga >  Janji Gus Dur Kepada Ibundanya

“Alhamdulillah sehat juga, Kiai.”

“Apakah engkau menyesal ketika kamu bersedekah kepada fakir-miskin?”

“Tidak menyesal, Kiai.”

“Meskipun tidak mendapat balasan sebagaimana sedekah yang pertama hingga ketiga?”

“Ya, Kiai. Saya bahagia bisa bersedekah kepada fakir-miskin. Cuma, saya ingin tahu kenapa sedekah saya yang keempat dan kelima tidak dibalas sebagaimana yang pertama hingga ketiga. Kan, eman-eman, Kiai.

“Hahahaha.” Sang Kiai kini tak bisa menahan tawanya. Si tamu menunduk malu melihat Sang Kiai tertawa.

“Ketahuilah, bahwa Allah telah membalas sedekahmu dan bisa jadi balasannya lebih besar ketimbang balasan sedekah yang pertama hingga ketiga,” kata Kiai menjelaskan.

“Kok bisa, Kiai? Kok saya tidak tahu. Kira-kira Kiai bisa menunjukkan di mana sekarang balasannya itu, sehingga saya bisa mengambilnya dan separuhnya akan saya sedekahkan pada Kiai. Sungguh, Kiai. Serius…,” pintanya mengemis.

“Tidak perlu bersedekah pada saya,” tegas Kiai. “Jika nanti saya bisa menunjukkan tempat balasan sedekahmu dan kamu bisa menemukannya, maka saya minta, semakin seringlah kamu bersedekah kepada fakir-miskin. Itu saja, permintaan saya.”

“Oh, baiklah, Kiai. Maaf. Kira-kira di mana tempatnya, Kiai?” Kembali mengemis.

“Menurut saya, tempat Allah membalas sedekahmu itu adalah ada pada kesehatanmu, ada pada kesehatan keluargamu, dan ada pada kebahagiaanmu saat engkau bersedekah dan setelah bersedekah.”

“Benarkah, Kiai? Apakah ada hubungannya kesehatan dan kebahagiaan dengan balasan sedekah?”

“Ya ada hubungannya. Kesehatan itu adalah rezeki yang luar biasa. Allah membahagiakan hatimu saat kamu bersedekah pada fakir-miskin, ini juga rezeki yang luar biasa. Sehat dan kebahagiaan itu tak bisa ditukar dengan segunung emas. Bayangkan, kamu punya uang miliaran jumlahnya tapi kamu atau keluargamu sakit. Ayo, buat apa uang sebanyak itu? Untuk berobat? Jika sudah berobat ke Eropa namun tidak sembuh-sembuh juga? Engkau akan seperti miliader yang naik perahu seorang diri di tengah lautan tak bertepi.”

Si tamu menunduk, seperti merenung.

“Karena itu,” lanjut Kiai. “Kesehatan dan kebahagiaan tidak bisa ditukar dengan sejumlah uang. Ia lebih berharga dari segala perhiasan dunia. Sungguh jika kamu menyadari hal ini engkau akan merasa mendapat imbalan yang begitu besar dari sedekahmu.”

“Ya Allah… Astaghfirullah… Ampuni hamba telah berburuk sangka kepada Engkau wahai Tuhanku yang Mahasegalanya.” Ia menangis tersedu-sedu.

“Sudahlah, jangan menangis. Allah pasti membalas sedekahmu. Tersenyumlah, ini adalah ilmu baru buatmu,” ujar sang Kiai.

“Terima kasih, Kiai, atas ilmunya,” sambil menghapus air matanya dan mulai tersenyum.

“Dapat ilmu dan bisa tersenyum itu adalah juga dari Tuhan sebagai balasan atas kebaikan-kebaikanmu.”

Sejak saat itu, seseorang yang bercerita kepadaku ini tak pernah memikirkan kembali balasan sedekahnya karena sudah yakin Tuhan pasti membalasnya, baik dengan cara terang-terangan atau tidak.

Penulis: Masykur Arif, Annuqoyah Sumenep.