Belajar dari Kisah Hidup Dua Gus yang Jadi Dokter

Belajar dari Kisah Hidup Dua Gus yang Jadi Dokter

Posted on

Gus Dokter

Putra Kiai NU yang kemudian menjadi kiai banyak sekali jumlahnya. Mungkin yang menjadi politisi juga banyak. Tentu saja yang menjadi profesor kini juga banyak jumlahnya. Yang jago suwukan apalagi. Apa sajalah terpenting bermanfaat. Tapi intinya lagi tidak mengungkapkan itu.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Adakah putra kiai NU yang menjadi dokter terkenal? Ada. Pertama, sosok Fahmi D. Saefuddin. Putra KH. Saefuddin Zuhri. Sosok Fahmi D. Saefuddin merupakan sahabat Gus Dur. Jejak dan riwayatnya sangat mentereng. Kemana-mana selalu bawa rekaman. Kumpulan diskusinya selalu terekam dengan baik, kabarnya.

Gus Fahmi D. Saefuddin termasuk perumus Khittah NU bersama tokoh NU lainnya di gang G dan kemudian majelis 24. Beliau juga orang yang mampu menerjemahkan ide dan gagasan Gus Dur dengan baik. Beliau seorang konseptor yang handal. Orangnya lemah lembut dan suka bersilaturahim dengan para kiai.

Gus Fahmi setelah mengaji kepada orangtuanya kemudian menyantri di sejumlah pesantren. Selanjutnya beliau berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Singkat cerita, dikemudian hari selain menjadi dosen di almamaternya beliau juga dikenal sebagai seorang dokter profesional. Bahkan, beliau juga beberapakali meraih penghargaan sebagai gelar dosen teladan tingkat 1 di kampusnya, dll.(khususon buat Dokter Fahmi D. Saefuddin, Al fatihah)

Kedua, Dokter Umar Wahid. Beliau merupakan putra KH. Abdul Wahid Hasyim dan Nyai Solichah. Adik kandung Gus Dur dan Gus Sholah ini, pendidikan terakhirnya sebagai Dokter Spesialis Paru FKUI. Gus Umar belajar mengaji kepada orangtuanya, KH. Abd. Wahid Hasyim dan Nyai Solichah. Serta kepada KH. Bisri Syansuri.

Baca Juga >  Gus Dur Mengenang Keistimewaan Kiai Ali Maksum Krapyak

Sangat menarik sebenarnya melihat putra-putri KH. Abd. Wahid Hasyim dan Nyai Solichah. Kesemuanya menjadi tokoh dibidangnya masing-masing’warna-warni, yang mungkin bila kita sandingkan dengan kebanyakan putra kiai pesantren lainnya. Jika Gus Dur dikenal menjadi kiai, Gus Sholah Insinyur, dan Manajemen maka Gus Umar dikenal sebagai seorang dokter. (Semoga, Gus Umar selalu diberikan kesehatan dan keberkahan dalam hidupnya.)

Dari sosok Dokter Fahmi dan Umar bisa jadi, akan lahir lebih banyak lagi dokter-dokter NU kedepannya, semoga. Jelas, peran dokter sangat penting bagi kehidupan kita. Apalagi kini banyak pesantren memiliki perguruan tinggi dan NU sendiri sudah punya banyak kampus bila mereka mau membuka ilmu kedokteran jumlah dokter NU akan melimpah kedepan sebanding dengan lulusan dari Jurusan Tarbiyah, Syariah, dan lainnya. Tentu saja sekarang kita juga bangga, NU sudah memiliki RSNU.

Dari berbagai informasi mengenai Coro na di laman media sosial kita, dan memang serius sedang melanda Indonesia dan negara lainnya, patut waspada dan terus mau peduli mengenai kesehatan diri. Saat ini sudah dapat amalan dari poro kiai kan untuk dibaca? Syukur mau menjaga wudhu. Himbauan pemerintah dan ulama sudah jelas ya. Ketimbang berdebat ini itu yang kita sendiri sebenarnya bukan pakar kesehatan dan hanya warga biasa. Jangan terlalu galaklah, nanti kucing tertawa. Jangan kendor, terus mengajak demi dan untuk kebaikan bersama.

Penulis: Ahmad Faozan, Pesantren Tebuireng Jombang.