kiai tajuk muluk

Belajar dari Kisah Gajah yang Kalah

Posted on

Jika Allah swt. tegaskan bahwa al-Qur’an diturunkan sebagai obat, maka itu pasti benar adanya. Jika Allah swt. ingatkan tentang lemah dan bodohnya manusia, itu adalah senyatanya. Keduanya berkelindan, antara manusia yang lemah dan sakit bodoh dengan al-Qur’an yang mengandung daya sembuh atas penyakit itu.

Ibn al-Qayyim al-Jawziyah dalam karyanya, ad-Daa’u wad-Dawaa’u, menjelaskan bahwa, daya syifa’ atau penyembuh al-Qur’an adalah satu-satunya yang paling mujarab untuk mengobati sakit bodoh yang diderita oleh manusia. Setiap kalimat al-Qur’an memiliki kekuatan yang sama, daya obat yang mujarab.

Dalam sebuah hadits hasan, diriwayatkan bahwa, tidak lah Allah turunkan penyakit kecuali bersamanya Allah sertakan obatnya. Tapi menurut Ibn al-Qayyim, tidak semua orang yang tahu apa obat atas penyakitnya, maka ia kemudian binasa. Maka beruntung lah orang yang tahu dan menemukan obat atas sakitnya, maka ia kan sembuh. Demikian pula dengan daya sembuh al-Qur’an, meski pun setiap jengkal huruf, kalimat, ayat dan suratnya adalah obat, namun tak semua orang dan tak sembarang orang dapat menemukan obat dan meramunya menjadi obat yang ampuh. Secara medis juga begitu kan ?

Info Peluang Usaha Depot Air Minum Isi Ulang by INVIRO

Sombong dan angkuh, adalah penyakit yang muncul dari kebodohan. Artinya, hanya orang-orang bodoh saja yang dapat terjangkit penyakit sombong dan angkuh. Bodoh atas dirinya yang lemah, bodoh atas Tuhannya yang maha perkasa dan segala-galanya.

Syeikh Ali Al-Shabuni, dalam pengantar tafsir surat al-Fiil mengajak kita merenungi peristiwa fenomenal yang terjadi sekira kedatangan manusia paling mulia, di semesta ini. Pasukan gajah yang gagah milih raja Abrahah al-Asyram, dengan kekuatan penuh hendak menghancurkan dan menginjak-injak ‘rumah Tuhan’. Mereka adalah perlambang manusia yang dibodohkan oleh kesombongan dan keangkuhannya. Lalu Allah hancurkan mereka sekaligus hinakan mereka, dengan hanya mengutus makhluk ciptaanNya yang lemah, burung-burung kecil dengan kaki dan paruh menjepit batu-batu kecil.

Baca Juga >  Orang Acakadul, Perusak Perdamaian Palestina-Israel

Pasukan gajah dan rajanya yang gagah itu hancur lebur berkeping-keping, beterbangan layaknya daun kering diterpa angin.

Lihatlah! Ini obat yang mujarab. Manusia yang lemah dan bodoh ini, yang sering lupa diri berlagak gagah, bisa kalah hanya karena lemparan kerikil gerombolan burung-burung kecil. Secara detail al-Shabuni mengambarkan kejadian pelemparan batu oleh burung-burung itu. Setiap batu yang mengenai kepala pasukan Abrahah akan keluar dari duburnya. Mereka hancur tak tersisa sama sekali.

Allah swt. menitipkan pesan kepada kekasihNya, agar manusia jangan coba-coba berlagak sombong, angkuh, seolah mampu melakukan segala-galanya, karena sikap seperti itu sama saja dengan merebut pakaian kebesaranNya, dan jika itu sampai terjadi, maka Dia akan menyiksa dan menghinakannya.

Obat ada di depan mata, tapi tiada guna jika terbentur tiga hal ini.

Pertama, tidak merasa sakit, sehingga tidak ada kepentingan untuk berobat.

Kedua, tidak punya ilmu dan keahlian untuk meramu obat sehingga jika memaksa meramu, bukan malah jadi obat melainkan menjadi racun.

Ketiga, obat itu hanya dijadikan buah tangan, dibawa dan dipamerkan kepada setiap orang, tapi tidak diminum sembari berharap mendapat kesembuhan.

Kiranya secara sederhana, seperti itulah kenyataannya, jika Al-Qur’an diperlakukan sekira tiga hal tersebut, maka daya obatnya akan terabaikan.

Sebagai simpulan, jangan mengulang kekalahan gajah Abrahah dalam kehidupan kita hari ini, atau anda lebih gajah dari gajahnya Abrahah ?

Penulis: Dr Tajul Muluk, MA., Dosen STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta dan Pengurus Lembaga Dakwah PWNU DIY.