Bahaya media dan kisah tragis Ikhwanul Muslimin di Mesir kontemporer. Suatu hari di tahun 1999. Aku masih di awal-awal kehadiran di majlis Syekh Ali Jum’ah hafizhahullaah di Ruwaaq Emad (terkenal umum dengan nama Ruwaaq al-Atraak yang kemudian dinamai Syekh Ali dengan nama murid kesayangan beliau Syekh Emad Effat rahimahullaah yang syahid kena tembakan pada saat beliau ikut demo pada hari Jum’at ba’da ashar 21 Muharram 1433 H bertepatan 16 Desember 2011 M)
Pada hari itu, Syekh Ali Jum’ah berkata:
“إن تريد أن تكون خائنا فكن مترجمًا وإن تريد أن تكون كاذبًا فكن صحفيا”
“Apabila kamu ingin menjadi seorang pengkhianat; maka jadilah penterjemah, dan jika kamu mau menjadi seorang pendusta; maka jadilah seorang wartawan”.
Kata itu terasa petir bagiku, Aku memang bercita-cita bisa menterjemah, jadi penulis dll.. dan yang lebih mengena; saat itu ku baru dimasukkan sebagai kru Terobosan, sebuah buletin pemberitaan yang dianggap paling hebat di masa itu di kalangan Masisir. itu salah satu gambaran awal bahaya media dan kisah tragis Ikhwanul Muslimin di Mesir kontemporer
Sebagai kru Terobosan, hidup bersosialku kadang terasa tidak nyaman. Ketika aku berada di suatu tempat bersama sekumpulan pelajar, ada saja yang ku dengar bicara: “Hati-hati, ada kru Terobosan di sini”.
Saat itu ku merasa heran: semenjak kapan kru buletin berarti “jaasuus” (mata-mata)?!.. di tambah – setahuku – ada kode etik wartawan untuk tidak boleh memberitakan tanpa izin yang diberitakan. Tapi melihat salbiyaat (perihal buruk) dari berita yang ada sekarang medsos yang memberikan semua orang hak untuk menjadi “wartawan” seharusnya kita memang berhati-hati pada semua orang.
Cuma setahun jadi kru dengan sedikit kerja. Untuk tahun selanjutnya (dari jatah 2 tahun yang bisa seseorang jadi kru) ku berhenti.
Bahaya media dan kisah tragis Ikhwanul Muslimin di Mesir kontemporer. Ketika Syekh Ali menyebutkan kata-kata di atas tadi.. Beliau mencontohkan bahwa suatu hari beliau melihat tulisan besar di sebuah koran: “Telah Ditemukan Perdana Mentri Bersama Kekasih Gelapnya di Sebuah Kamar Hotel”.
Syekh Ali membeli koran & tergesa-gesa untuk sampai di tujuan… pas dibaca ternyata Perdana Menteri nonmuslim di belahan dunia sana.
Bahaya Media dan Kisah Tragis Ikhwanul Muslimin di Mesir Kontemporer. Suatu kenyataan: demi menaikkan jumlah pasarannya, media massa sengaja membuat berita dengan judul mencolok, padahal aslinya biasa aja.
Bahaya media dan kisah tragis Ikhwanul Muslimin di Mesir kontemporer. Syekh Ali sering sekali jadi korban. Dulu sebelum menjadi mufti dan apalagi sesudah jadi mufti, hampir setiap hari ada berita yang menjelekkan beliau atau tidak menjelekkan cuma membuat kesan jelek.
Suatu hari beliau ditanya tentang hijaab putri-putri beliau, jawaban beliau sederhana saja: “Aku mendidik anak-anak dalam lingkungan Islami, mereka berhijaab dengan kesadaran mereka sendiri, tanpa aku suruh”.
Jadilah judul yang keluar di koran: “Mufti Mesir tidak menyuruh Anak-anaknya untuk Berhijab”.
Kalau dibaca isinya mendalam, biasa aja. Bagaimana kalau orang tidak membaca kecuali judulnya saja?!
Beliau juga pernah ditanya tentang syarat penutup aurat perempuan.
Jawaban Beliau: “Kalau di di luar shalat:
1- tidak terbuka.
2- tidak transparan
3- tidak membentuk tubuh.
Kalau dalam shalat:
1- tidak terbuka.
2- tidak transparan.
Jadi, (kata beliau untuk memberi contoh): shalat seorang perempuan yang menutup semua auratnya dengan baju balet yang tebal (tidak transparan) adalah shahih karena tidak ada syarat agar tidak membentuk tubuh”.
Lalu keluarlah di koran: “Mufti Mesir berkata: Boleh Shalat Pakai Baju Balet”.
Kami – para murid – dulu sering berduka setiap mendengar berita seperti itu, sampai seorang kawan mengungkapkan kekesalannya pada pemberitaan kepada Syekh, dijawab oleh beliau: “Aku bersedekah nama baikku tiap hari”.
Beliau hanya bisa berkomentar ketika mendengarkan berita buruk tentang beliau dengan kata: “Hasbunaallaah wa ni’ma al-wakiil”..
Kesan buruk beliau pada media massa sepertinya beliau ungkapkan pada semua wartawan yang mewancarai beliau. Mungkin supaya mereka tidak mengulangi lagi, bahkan salah seorang kawanku yang berprofesi wartawan mengungkapkan padaku rasa kesalnya karena mendengar kesan buruk dari Syekh Ali tentang para wartawan yang beliau ungkapkan, padahal dia (kawanku) itu di bagian koran berbahasa Inggris yang – katanya – terhormat dalam pemberitaan, (mungkin kawan itu merasa dia tidak ada urusan dengan media lain).
Itu masa dulu, sebelum demo 2011 dan muncul IM dalam perpolitikan nyata, jadilah Syekh Ali tidak cuma musuh orang yang mentertawakan agama, juga menjadi musuh orang-orang yang memanfaatkan agama demi kepentingan mereka.
Pemberitaan yang menyakitkanku tersebar banyak di hampir semua media yang ada. Kadang mendorongku untuk usaha membantai para musuh itu semampuku. Silahkan Syekh Ali (dan Syekh yang lainnya) memaafkan atau mendiamkan kalau beliau mau, itu urusan beliau. Tapi aku tidak, menukil dari Syekh Abdullah Rushdy:
عشقي للأزهر جار في دمي ، وحبي لشيوخه منجدل في طينتي .
(Gelora cintaku pada al-Azhar itu mengalir dalam darahku… dan cintaku pada masyayikhnya terpatri kuat dalam diriku.)
Kadang beberapa kawan berusaha menegurku supaya jangan keras-keras, tapi kayaknya memang ada rasa terzhalimi:
Syekh Emad rahimahullah, merupakan seseorang yang sangat menginspirasiku. Beliau dulu sebelum revolusi memang menyarankan sebagian orang untuk menghormati perjuangan IM. Tapi beliau sangat membenci sikap IM setelah revolusi 25 Jan 2011 itu yang memanfaatkan segalanya demi kepentingan mereka sendiri, bahkan beliau selalu marah di medsos setiap menemukan IM berbohong & menghalalkan segala cara demi kekuasaan.
Di waktu demo yang diikuti Syekh (menjelang syahid itu) orang IM adalah kelompok yang paling tidak setuju demo itu karena mereka ingin cepat-cepat berkuasa.
Ketika Syekh syahid, tidak ada kepedulian kelompok IM pada Syekh. Tidak ada petinggi IM yang datang. Sementara al-Azhar & semua Mesir di luar IM berduka. Bahkan beberapa pendeta & banyak nonmuslim ikut mengiringi jenazah Beliau. Lebih licik lagi IM mentertawakan para korban demo dengan mengatakan: “Ngapain juga ikut demo?!” makanya ketika tragedi Rab’ah yang kata mereka berdarah, sebagian orang juga cuma bisa komentar: “Ngapain juga mereka di sana?!”
Ketika IM mau kampanye untuk dapat kekuasan dan ketika sudah kekuasan hilang, mereka memakai-makai nama Syekh, memasang photo Beliau di profile mereka dll seakan-akan mereka adalah pejuang seperti Syekh Emad atau Syekh bagian dari mereka, rahimahullaah. Padahal isteri Syekh & keluarga para korban sering demo di depan rumah pemegang kekuasaan dari mereka untuk menuntut hak, tapi sang presiden berlalu di depan mereka tanpa peduli.
Mungkin contoh marah ketika Syekh dihina itu ku ambil dari Syekh juga.
Suatu hari ku melihat Syekh Ali hafizhahullah marah dan meminta diam seseorang yang telah lancang menghina Syekh Yusuf al-Qardhawi hafizhahullah, Syekh Emad rahimahullaah mengusir orang itu dari ruwaq al-Atraak bahkan meminta petugas masjid mengusirnya dari masjid al-Azhar.
Begitu juga ku pernah diminta Beliau rahimahullah untuk tidak bergaul dengan seseorang yang kata Syekh telah menjelek-jelekkan Syekh Ali.
Dalam pemberitaan kadang masuk juga peranan terjemah menterjemahkan yang ada, kadang tidak tepat secara harfiah, juga butuh secara maknawi dan “dzauqi” (cita rasa).
Suatu hari di pengajian ibu-ibu hari kamis di masjid al-`Asyirah al-Muhammadiyah, seorang ibu marah menggambarkan bahwa Syekh al-Azhar tidak tegas pada delegasi Prancis bahkan memuji Perancis.
Pada zaman itu, Perancis mau mengeluarkan undang-undang pelarangan hijab. Mereka mengirimkan delegasi ke al-Azhar untuk membicarakan hal itu. Syekh Ali juga hadir bersama Syekh al-Azhar, Syekh Thantawi (Syekh Ali belum diangkat mufti) pada saat itu.
Jadi Syekh Ali menerangkan pada ibu itu bahwa delegasi tujuannya untuk meminta pendapat al-Azhar tentang undang-undang tersebut (kalau al-Azhar setuju ya mereka suka.. kalau tidak setuju & marah-marah; mungkin akan menuduh al-Azhar sebagai aliran keras yang mesti dihancurkan dengan berbagai alasan.. al-Azhar mau diletakkan dalam 2 pilihan pahit), sebelum mereka angkat bicara Syekh al-Azhar berbicara duluan dengan kata-kata:
“Negara kalian merupakan negara yang sangat menghormati hak asasi manusia & memberi hak semua untuk menjalankan agamanya masing-masing”.
Maka kata Syekh Ali: “Akhirnya delegasi itu pulang… tanpa membawa hasil apa-apa bahkan tidak mampu mengucapkan bahwa negara mereka mau melarang hijab”.
Jenis kata Syekh al-Azhar itu dalam bahasa Indonesia seperti bentuk sindiran. Tapi ketika kita terjemahkan atau ditulis secara harfiah tanpa penjelasan; maka akan berarti suatu pujian yang tidak pantas ada untuk orang yang jahat dll..
Jadi, mari berhati-hati menterjemahkan sesuatu yang keluar. Mestinya kita tahu apa yang tersirat. Kita tidak ingin menjadi pengkhianat dan pendusta sekaligus.
Syekh Ali sangat berharap pemanfaatan media yang ada sebagai bentuk “inaarah” (pencerahan) bukan “itsaarah” (membuat kehebohan)
Sebagai penerima info, kita juga mesti berhati-hati ketika menerima berita. Jangan langsung percaya dengan apa yang kita lihat & dengar di media.
*Soal kode etik untuk minta izin sebelum memberitakan kayaknya itu cuma khayalan saja di masa sekarang, tak jarang kita menemukan berita seseorang yang kita yakini 100% orang itu tidak pernah memberi izin untuk diekspos tentangnya, bahkan kadang tidak tahu kalau dialah yang jadi bahan pemberitaan.
Demikian penjelasan Bahaya media dan kisah tragis Ikhwanul Muslimin di Mesir kontemporer. Semoga bermanfaat.
10 Mei 2016.
Penulis: Hilma Rosyida Ahmad, Al-Azhar Kairo Mesir.
Artikel terkait baca di sini
Tonton video 6 cara Al Qur’an menangani candu media. Tonton di sini








