Watak Nahdlatul Ulama

Bagian 3, Abu Hanifah Minal Eklektikiyin

Posted on

Oleh: Nur Kholik Ridwan, Pengajar STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta.

Dalam tulisannya berjudul “Merumuskan Hubungan Ideologi Nasional dan Agama”, Gus Dur meneruskan penjelasannya:

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

“Seperti Imam Abu Hanifah (Ibnu Tsabit bin Nu’man, Abu Hanifah), di samping ia seorang yang sangat alim dalam ilmu fiqh ia juga seorang penjahit (kalau istilah sekarang, ya “Hanafi Tailor” begitulah). Abu Hanifah, seorang yang ahli memotong pakaian (kâna qozzâzân bil Kûfah, Abu Hanifah adalah seorang ahli mode dari kota Kufah). Dia juga seorang yang mampu menggali khazanah arsitektur dari luar negeri Arab. Seperti misalnya, dari Samarqand, Ma Waroan Nahr dan negeri-negeri lainnya. Khazanah arsitektur itu, seperti mode “Arabes” atau lengkung-lengkung yang tak ada di negeri Arab ketika itu.”

Penjelasan:

Ini adalah penjelasan untuk mempertegas watak Islam dan sejarah Umat Islam yang eklektik, yang telah dijelaskan sebelumnya. Oleh Gus Dur disebutlah nama Abu Hanifah sebagai salah satu contoh, dan nanti setelah itu menyebut Imam Syafi`i. Sebab dalam pandangan umum, Abu Hanifah itu adalah seorang yang selalu dihubungkan dengan fiqh dan madzhab fiqh. Bahkan dalam Anggaran Dasar NU, Abu Hanifah disebutkan juga dalam kaitannya dengan fiqh. Dan, hal seperti itu tidak salah, akan tetapi membatasi pembacaan Abu Hanifah semata dihubungkan dengan fiqh, mempersempit wawasan kita tentang Abu Hanifah; dan mempersempit cara melihat Abu Hanifah.

Gus Dur menggarisbawahi, bahwa Abu Hanifah adalah juga seorang “pemotong kain di Kufah/kâna qozzâzân bil Kûfah”, sebagai salah satu bentuk dari watak eklektik di dalam diri Abu Hanifah. Hal ini berkaitan dengan pekerjaan Abu Hanifah, yang dalam kitab Fathul Mubîn fî Thobaqôtil `Ushûliyîn, karangan Abdulloh Musthofa Maroghi disebutkan: “Dia bekerja sebagai penjual kain dan hidup dari hasil kerjanya sendiri.” Pada awalnya Abu Hanifah berdagang di pasar dan disebutkan begini dalam kitab itu: “Abu Hanifah sering pulang pergi untuk berdagang.” Akan tetapi dia kemudian bertemu dengan tokoh namanya asy-Sya’bi dan menyarankan agar dia sering datang kepada ulama dan berdiskusi. Setelah itu Abu Hanifah terlibat dalam banyak kajian-kajian ilmiah. Pekerjaannya, disebutkan tadi, akhirnya fokus sebagai penjual kain/pemotong kain.

Kata qozzazan, sebenarnya bermakna penenun sutera; yang berarti juga pemotong kain sutera. Dan disebut menjual kain, karena Abu Hanifah punya toko kain, yang akan disebut nanti.

Selain itu, disebut juga soal Abu Hanifah, menurut Kitab Fathul Mubîn itu, dalam bahasa Irak, kata Hanifah itu bermakna “tinta”, karena Abu Hanifah aktif menulis dan memberi fatwa. Dan, kunyahnya, yang dikenal darinya hanya Abu Hanifah itu, yang nama aslinya adalah Nuf’man bin Tsabit. Selain sebagai penulis, pemberi fatwa, Abu Hanifah juga seorang teolog yang kemudian menghasilkan kitab al-Fiqhul Akbar, yang terkenal itu.

Dalam bidang Al-Qur’an, Abu Hanifah juga ahli bacaan Al-Qur’an, dan darinya diriwayatkan beberapa wajah bacaan Al-Qur’an, dan pada setiap bulan Ramadhan mengkhatamkan Al-Qur’an 60 kali; dan juga diceritakan dalam kitab al-Jawâhir al-Mûdhiyah fi Thobaqôt al-Hanafiyah: “Abu Yusuf berkata bahwa Abu Hanifah itu Rohimahulloh ta`ala, mengkhatamkan Al-Quran setiap malam, fi rok`atin, dan dalam riwayat lain, itu terjadi adalah di dalam sholat witir (I: 54); dia juga pernah beroposisi loyal kepada kekuasaan, karena tidak mau dijadikan sebagai qodhi, dan dipukuli; selain itu jug ahli sastra.

Di kalangan para sufi, Abu Hanifah juga dikenal sebagai orang yang tinggi maqomnya. Disebutkan Syaikh Ali bin Utsman al-Jullabi al-Hujwiri, dalam kitab Kasyful Mahjûb, begini: “Abu Hanifah memiliki dasar yang kuat dalam melaksanakan mujahadah dan ketaatan dan otoritas yang tinggi dalam prinsip-prinsip tasawuf.” Kedalaman rohaninya menghantarkan Abu Hanifah berkeinginan untuk melakukan pengasingan diri dan uzlah. Akan tetapi suatu ketika Abu Hanifah, disebut oleh al-Hujwiri itu, bermimpi dua hal:

Pertama, Abu Hanifah bermimpi dirinya sedang mengumpulkan tulang-tulang para rasul dari pemakaman, dan memisah-misahkan mengambil sebagian dan sebagiannya dibuang. Ketika terbangun, Abu Hanifah mendatangi murid Ibnu Sirin, ahli ta’bir mimpi, dan dinyatakan bahwa, suatu ketika Abu Hanifah akan mencapai tingkat pengetahuan yang mampu membedakan mana yang dari Nabi dan mana yang tidak (palsu).

Kedua, Abu Hanifah mimpi bertemu Kanjeng Nabi Muhammad, dan Nabi bersabda kepadanya: “Kamu diciptakan dengan tujuan menghidupkan kembali sunnahku.” Oleh karena itu, ketinggian spiritual Abu Hanifah ini, menjadikan ia menjadi guru dari para syaikh sufi terkenal, di antaranya disebutkan al-Hujwiri, yaitu Syaikh Ibrahim bin `Azhom, Fudail bin Iyadh, Daud Ath-Tho’i, dan Bisyr al-Hafi.

Baca Juga >  Ketua LBM PWNU DIY: Ada Kesalahan dalam Memahami Zona Covid-19

Kedalamam dan kualitas spiritual dan pengetahuan Abu Hanifah itu bahkan diceritakan dalam Kasyful Mahjûb bahwa seorang syaikh sufi terkenal bernama Yahya bin Muadz ar-Rozi pernah bermimpi begini: “Saya bermimpi berkata kepada Rosululloh: “Wahai Rosulalloh, di mana saya bisa mencari engkau?” Nabi menjawab: “Dalam pengetahuan Abu Hanifah.”

Kota Kufah, yang disebut Gus Dur sebagai tempat Abu Hanifah memotong kain, atau disebut kitab Fathul Mubin sebagai menjual kain, adalah salah satu tempat di Irak (selain yang terkenal adalah Baghdad). Dan, di kota Kufah ini pula, Abu Hanifah bertemu dengan sebagian sahabat Nabi, sehingga Abu Hanifah juga menjadi seorang perawi hadits. Menurut kitab al-Jawâhirul Mûdhiyah fîth Thobaqôtil Hanafiyah, Abu Hanifah mendengar dari 8 sahabat, di antaranya: Anas bin Malik, Jabir bin Abdulloh, Ma’qil bin Yasar, Wa’ilah bin al-Asqo’, dan lain-lain; dan khusus di Kufah dalam kitab Fathul Mubîn disebutkan bahwa Abu Hanifah bertemu sahabat Anas bin Malik dan Abdullah bin Abi Aufa.

Pengarang kitab al-Jawahir al-Mudhiyah, Muhammad bin Abdul Qodir Ibnu Abil Wafa al-Qurasy al-Hanafi (695-775 H.) juga menyebutkan, kepastian pertemuannya dengan para sahabat nabi, terutama Anas bin Malik: “Saya telah menyebut riwayat dari Imam al-Khatib (al-Baghdadi) bahwa sesungguhnya Imam Abu Hanifah telah melihat Anas bin Malik; dan saya telah menolak orang yang mengatakan bahwa sesunguhnya Abu Hanifah tidak melihat Anas bin Malik, dan saya telah menjelaskannya dengan penjelasan yang jelas melegakan, dan dengan memuji kepada Alloh” (I: 54).

Dalam kitab itu juga disebutkan bahwa Ibnu Abdil Barr berkata, dan berkata Ibnu al-Madini (pakar jaroh dan ta’dil dalam hadits), bahwa Abu Hanifah itu seorang yang tsiqoh dan lâ ba’sa bihi” (I: 57); Yahya bin Ma`in juga menjelaskan: “Dia tsiqoh, dan saya tidak mendengar seseorang yang mendhaifkannya” (I: 56). Dalam bidang hadits ini, kemudian ada hadits-hadits yang diriwayatkan darinya dengan judul kitab al-Musnad, dikumpulkan oleh para muridnya.

Gus Dur kemudian menyebutkan bahwa Abu Hanifah, juga dikenal menggali khazanah arsitektur dari negri-negri dari luar negeri Arab, adalah untuk menggambarkan dan menekankan kembali betapa tokoh sekaliber Abu Hanifah itu begitu ekletik.

Hal ini bisa jadi, berkaitan dengan, pekerjaannya sebagai penenun kain sutera dan menjualnya, seperti disebut adz-Dzahabi:

“Beliau adalah penenun sutera, dan menjualnya, dan dia memiliki toko yang terkenal di rumah Amru bin Harits” (Siyaru A’lamin Nubala’, jilid VI: 394). Seorang penenun dengan sendirinya harus inovasi motif dan melihat percaturan motif-motif agar senantiasa bisa lestari.

Memang pada akhirnya, Abu Hanifah dikenal sebagai ahli fiqh dan menjadi imam fiqh di kalangan Sunni, yang melahirkan madzhab Hanafi; yang membangun dasar-dasar istidlalnya dengan Al-Qur’an, Hadits, ijma’ dan qiyas.

Tokoh ini hidup antara tahun 80-150 H/699-767 M, berdasarkan apa yang disebutkan dalam kitab Fathul Mubîn. Sedangkan menurut al-Jawâhirul Mûdhiyah fi Thobaqôt al-Hanafiyah juga disebutkan sama: yang shahih dia lahir tahun 80 H, meski ada yang mengatakan 91 H, dan 93 H. Disebutkan juga umurnya “ibnu sab`îna sanatan” (70 tahun), menurut riwayat yang bersumber dari Muhammad bin Umar al-Waqidi dan beberapa riwayat lain; dan meninggalnya tahun 150 H (I: 54).

Dalam Kitab Fathul Mubîn juga disebutkan: “Abu Hanifah suka memberikan keleluasaan berfikir. Ia sering memberikan kesempatan kepada sahabat-sahabatnya untuk mengajukan keberatan-keberatan atas fikirannya, Terdapat pula sejumnlah masalah fiqh yang tidak disetujui oleh muridnya, Abu Yusuf, Muhammad bin Hasan bin Zufar, murid-murid dan sahabat-sahabatnya.”

Maka dari sini dapat difahami, seorang yang memiliki pengetahuan luas, ekletik dan kosmopolit, dia akan selalu menghargai pendapat, bahkan dari murid-muridnya sekalipun, dan di antara mereka, Gus Dur menyebutkan Abu Hanifah, sebagai satu sosok yang memiliki watak ekletik itu. Bahkan salah satu murid dari muridnya (Muhammad bin Hasan), akhirnya juga mendirikan madzhab sendiri, namanya imam asy-Syafi`i. Dan, sejenis inilah watak Islam (yang eklektik), yang diperjuangkan para ulama panutan yang sholih-sholih itu. Wallohu a’lam.