Awal Mula Penciptaan Ka'bah yang Membuat Hati Bergetar

Awal Mula Penciptaan Ka’bah yang Membuat Hati Bergetar

Posted on

Awal Mula Penciptaan Ka’bah yang Membuat Hati Bergetar.

Imam Abu Walid al-Arzaqi, menyandarkan (memarfu’kan) kisah ini pada Sayyidina Ali bin Husein radhiyallahu anhuma:

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Suatu ketika, cucu Sayyidina Ali dan cicit Rasulullah shallallahu alayhi wasallama ini, di datangi seseorang yang bertanya tentang asal usul Ka’bah. Dengan pertanyaan berlapis:

“Apa yang kau tanyakan” tanya cicit Rasulullah, Sayyidina Ali radhiyallahu anhu.

“Aku ingin menanyakan tentang asal muasal Baitullah ini: Kenapa ia dibangun? Dimana? Sejak kapan? Dan bagaimana dengan batunya?”

“Baik. Sebelumnya. Identitas sampeyan?”

“Aku salah satu penduduk Syam,”

“Rumahmu?”

“Tepatnya di dalam Baitul Maqdis.”

“Apakah kau pernah membaca dua kitab itu? (Yakni Taurat dan Injil)”

“Pernah” jawabnya singkat.

“Hei, Saudaraku Ahli Syam, hafal baik-baik ini, sebab hanya kebenaranlah apa yang kuriwayatkan: Asal muasal adanya thawaf di Baitullah ini, karena Allah Ta’al berfirman pada Malaikatnya;

إِنِّي جاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

(Sungguh! Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi – alBaqarah 30).

Lalu, Malaikat berkata: ‘O, Tuhanku. Apakah Engkau hendak menjadikan khalifah selain golongan kami? Bukankah mereka; manusia, kelak, adalah segolongan kaum yang suka merusak bumi?! Suka mengalirkan darah sesama, suka saling hasud, saling benci, saling marah, dan saling berselisih?! O, Tuhanku jadikanlah posisi khalifah itu untuk Kami, sebab Kami tidak akan merusak bumi, tidak saling mengalirkan darah, tidak saling marah, tidak saling menghasud, dan kamipun tidak akan pernah memberontak perintahMu; Kami senantiasa bertasbih dengan memuji serta mensucikanMu, Kami selalu taat dan tak pernah maksiat padaMu’. Kemudian Allah ta’ala berfirman:

إِنِّي أَعْلَمُ ما لا تَعْلَمُونَ

(Sungguh! Aku lebih tahu apa yang tidak kalian ketahui)”.

Sayyidina Ali bin Husein radhiyallahu anhuma melanjutkan jawabannya:

Baca Juga >  Kisah Perjuangan Haji Bilal Kauman dan KH Wahid Hasyim

“ … Malaikat menyangka. Apa yang mereka katakan adalah bentuk bantahan pada Tuhannya azza wa jalla, dan itu membuatNya murka. Lalu mereka berduyun-duyun memohon pertolongan dengan perantara ‘Ars, mereka menengadahkan kepalanya, memberi isarat dengan jemarinya, mereka mengiba dan menangis berharap belas kasihan atas murkaNya, kemudian melakukan thawaf selama tiga sa’ah (jam) di sekililing ‘Ars.

Tak lama kemudian. Allah berbelas-kasih pada mereka dan menganugrahkan rahmatNya. Lalu menciptakan Bait (rumah) dibawah ‘Ars dengan empat cakram/pilar dari batu zabarjad, memolesnya dengan batu yaqut merah, dan menamainya dengan ad-Dzarrah (pusara). Kemudian Allah ta’ala berfirman pada Malaikat: ‘Thawaflah kalian di bait ini, dan tinggalkanlah ‘Ars’. Maka malaikat berthawaf di Bait dan meninggalkan ‘Ars, jadilah itu mempermudah mereka. Itulah Baitul Makmur (Rumah yang di ramaikan) yang Allah azza wa jalla pernah firmankan; sehari semalam ada tujuhpuluh ribu malaikat memasukinya tanpa kembali selamanya.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengutus malaikat, dan berfirman: ‘Bangunkan untukKu sebuah Bait dibumi yang seperti ini dan kira-kiranya. Lalu, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan makhluk di bumi untuk thawaf mengelilingi Baitullah ini, sebagaimana penduduk langit berthawaf di Baitul Makmur.”

(Entah siapa sejatinya lelaki penanya ini. Tapi diakhir kisah. Ia menjawab)

“Engkau benar, Hei keturunan putri Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallama, Hakadza Kaana; begitulah kejadiannya.”

(Diterjemah dari Nihayatul Arabnya Syaikh Syihabuddin an-Nuwairy Bab Malaikat membangun Ka’bah sebelum penciptaan Nabi Adam ‘alaihis-salaam, dengan sedikit penyesuaian lay-out dan bahasa tentunya. Hehe. Mugi manfaati. Wallahu A’lam bis-Shawaab).

Demikian artikel Awal Mula Penciptaan Ka’bah yang Membuat Hati Bergetar, semoga bermanfaat.

Penulis: Robert Azmi, Nganjuk.