Android

Android Sebagai Penghambat atau Pendukung Pendidikan?

Posted on

Fenomena kehadiran hp pintar android di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat beberapa tahun belakangan menjadi sebuah kebutuhan komunikasi model baru (life style) di era melenial ini. Lalu bagaimana pengaruh android di tengah-tengah dunia pendidikan Islam di Indonesia khususnya? Jawaban tersebut dapat dielaborasi dalam beberapa pokok instrument pendukung melalui beberapa tinjauan.

Tinjauan usia

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

1.Usia SD (7-13 tahun)

Jikalau android fungsi utamanya adalah sebagai alat komunikasi model baru maka anak kecil usia SD belum membutuhkan. Semua kendali apapun berada pada orang tua. Jika orang tua terlalu mudah menyerahkan android pada anak, maka yang terjadi adalah unstabil emotion sehingga akan menggangu proses pembentukan karakter, masuknya ilmu dan pembangunan pondasi nilai-nilai hidup. Di mana di usia ini orang tua lazimnya getol mendidik dengan pendidikan agama Islam misalnya nilai-nilai luhur agama Islam, budi pekerti serta kearifan lokal berupa budaya baik yang berjalan ditengah-tengah masyarakat. Harapannya, ketika dewasa nanti, ia tidak salah jalan (brain wash). Orang tua harusnya sangat membatasi anak menggunakan android dengan pertimbangan mencegah hal-hal buruk masuk ke pikiran anak sehingga memacu pada false education.

2.Usia SLTP dan SLTA (13-18 tahun)

Semakin bertambah keilmuan seseorang maka akan mempengaruhi pola pikir dan proses pengendalian diri. Di usia menengah anak sudah mulai mengenal hal baru, pilihan baik dan buruk, namun belum bisa lepas dengan karakternya sebagai anak-anak yang masih butuh bimbingan juga pengawasan dari orang tua dan guru. Mereka harus banyak dikenalkan dan dilibatkan pada kegiatan positif dan mulai difokuskan pada pengetahuan-pengetahun demi kesuksesan di masa mendatang. Penggunaan android tetap dibatasi dengan pengawasan orang tua, guru atau peraturan instansi karena di lain sisi android dibutuhkan sebagai penunjang pembelajaran di era serba teknologi ini.

3.Usia dewasa

Di usia perkuliahan dan setelahnya, seseorang memiliki pembangkit hal-hal yang akan atau tengah terjadi berupa keilmuan serta pengalaman dan isian doktrin-doktrin agama yang cukup kuat untuk mengkonter efek negatif dari teknologi modern. Ssalah satunya adalah android sebagai alat pokok penunjang pendidikan Islam dan atau hajat-hajat lain berupa kebutuhan ekonomi, bersosial dan penguat hubungan sesama. Maka android menjadi niscaya untuk kalangan dewasa sebagai media dan sarana memperkuat pendidikan Islam ditengah-tengah masyarakat.

Tinjauan Adat Masyarakat

Ada sebuah kaidah ushul fiqh al`adatu muhakkamah (adat kebiasaan)  akan menjadi sebuah jastifikasi hukum (salah atau benar menurut masyarakat umum). Jika nilai positif yang didapat dari android, maka adat yang telah kuat melekat di masyarakat akan susah tergoyahkan. Android akan menjadi penguat publikasi, media promosi sebuah adat yang akhirnya menjadi ladang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Semisal dengan adanya android di kalangan NU, menjadikan adat yang berbau agama, adat masyarakat yang baik khususnya akan berkembang pesat dan tetap terjaga. Selain itu akan membawa keberuntungan pada sisi yang lainnya.

Baca Juga >  Belajar dari Kasus Felix, Evi dan Irkham: Jangan Ulangi Lagi!

Tinjauan Psikologi

Psikologi merupakan ilmu terkait mengetahui jiwa atau psikis seseorang dari gabungan hasrat, pikiran dan kehendak hati menjadi satu terkait apapun yang ia pandang atau yakini. Kenyataannya, jika anak telah memasuki ranah suka dengan game, konten-konten android lain yang mengakibatkan berubahnya kerangka berpikir anak, terlalu emosional dan terbelenggu pada gaya hidup instan dan cenderung temperamental. Notabene anak belum mempunyai alat sharing kuat untuk menolak euforia khayalan yang diambil dari kesenangan yang ditawarkan. Jika terbiasa memforsir pikiran dengan halusinasi game dan lainnya, maka terkendalalah penerimaan akan  pendidikan yang berbau Islam.

Berbeda dengan psikologi orang dewasa, mereka sudah mempunyai isi keilmuan dan pengalaman maka bisa menyaring yang  buruk menuju yang baik dan untuk kemaslahatan dirinya dan masyarakat umum.

Tinjauan Lembaga Pendidikan

Era penuh fasilitas ini menjadikan semua kebutuhan ter-cover dengan android. Tak heran jika fenomena ini sangat menjamur di kalangan praktisi pendidikan. Sejauh ini, kesalahan penggunaan android di kalangan pendidikan adalah susahnya interaksi anak dengan lainnya secara langsung, terbawa candu game di tengah kegiatan belajar mengajar, menyaksikan konten-konten pornografi dan lebih menegangkan lagi yakni hanyutnya mereka pada kelompok-kelompok agamis yang notabene mendapat justifikasi dari masyarakat sebagai kaum radikal. sedangkan, good value dari adanya android yakni terbantunya para praktisi pendidikan dalam berbagai hal tanpa mengganggu proses pendidikan.

Tinjauan Pemerintahan

Pemerintah getol sekali dalam mengawasi segala elemen masyarakat baik interaksi langsung maupun pantauan melalui media. Misalnya, kasus-kasus penyimpangan, konten-konten hoax yang bertebaran. Berita baik juga tak kalah menarik jika kita sebagai masyarakat dapat cerdas memfilter berita dan kejadian. Merambahnya informasi dunia maya ke semua elemen, menginginkan segala sesuatu dengan instan tanpa melalui proses yang semestinya. Menemukan konten-konten agamis yang mengatasnamakan Islam, dianggapnya baik padahal menyimpang bahkan salah kaprah. Kebijakan pemerintah tentu sudah ada dan sangat mengawasi, pencegahan dan pemberantasan berbagai penyimpangan terutama mengenai problematikan pendidikan keIslaman.

Menarik kesimpulan dari opini di atas, bahwasannya segala problematika pendidikan Islam di era modern ini tergantung pada berbagai tinjauan yang telah disebutkan baik dari tinjauan usia, adat masyarakat, psikologi, lembaga-lembaga pendidikan maupun pemerintah. Menjadi penghambat atau pendukung, tentu semua terkait kebutuhan, tujuan serta pengawasan, konsekuensi dan kebijakan-kebijakan yang ada baik internal maupun eksternal.

Penulis: Siti Maryati, Mahasiswi Prodi PGMI STAI Sunan Pandanaran