bendera hti

Akhirnya, Bendera Teroris Itu Dilarang Arab Saudi

Ibarat seorang bapak, pemerintah HARUS mulai mengajari “anak-anak”nya mana yang salah dan mana yang benar.

Oleh: Denny Siregar

Akhirnya senjata makan tuan….

Sebenarnya mulai terbuka kenyataan pahit bagi sebagian orang, bahwa bendera hitam yang selama ini mereka agungkan adalah bendera teroris. Yang membongkarnya adalah pemerintah Arab Saudi, yang notabene selama ini menjadi panutan mereka sendiri terhadap model Islam.

Pemerintah Arab Saudi sempat menahan Rizieq Shihab yang dikabarkan menaruh bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid itu di tempat tinggalnya. Dan TANPA bantuan dan jaminan dari Kedubes Arab Saudi, Rizieq dalam posisi yang berbahaya karena bisa jadi ia dituding akan makar. Tudingan makar di Saudi jelas berat, karena taruhannya kepala hilang.

Seharusnya di sini masalah selesai. Lalu ada permintaan maaf kepada Banser NU yang SUDAH membakar “bendera teroris” itu karena SUDAH bertindak benar. Tetapi namanya kaum ngeles, mereka malah sibuk membersihkan diri dengan mengatakan bahwa “itu jebakan”, “fitnah kepada Rizieq Shihab” sampai yang lucunya, mendadak mereka bilang bahwa “itu bendera ISIS”.

Lha, berarti demo kemarin-kemarin itu membela bendera ISIS dong ??

Dari sini sebenarnya kita bisa menilai, manusia seperti apa mereka yang sibuk membela “bendera teroris” itu. Kaum munafik yang HANYA mencari pembenaran dan melakukan politisasi terhadap agama yang selama ini mereka yakini. “Apakah mereka BUKAN kaum yang berpikir ?” begitu ayat TUHAN menampar mereka dengan telak, tetapi mereka TIDAK sadari karena akal sudah gelap.

Baca Juga >  Islam, Keberagaman Paham dan Agama

Selalu menarik cara TUHAN membuka topeng-topeng kemunafikan ketika manusia menggunakan ayat-ayatNYA untuk dipermainkan. Lidah-lidah mereka berputar balik dengan cepatnya, TANPA rasa takut bahwa mereka SUDAH memfitnah agamanya sendiri. Semua demi nafsu berkuasa dan kebencian yang menjadikan mereka “berani” bermain di wilayah keimanan.

Dan di sini peran pemerintah juga penting supaya orang banyak sadar bahwa “mereka salah”.

Pada sisi ini, kerja sama pemerintah Indonesia dengan Arab Saudi perlu dalam hal memberlakukan larangan pengibaran simbol apa pun yang berhubungan dengan Hizbut Tahrir dan terorisme, supaya banyak orang yang TIDAK mengerti mulai paham dan mulai menjaga diri mereka sendiri supaya TIDAK mudah dicuci otak oleh kaum radikal.

Cap “bendera teroris” HARUS dimunculkan dengan tegas dan apa pun simbol yang berkaitan dengan terorisme HARUS ditindak juga dengan tegas. TANPA ketegasan itu, bayangkan betapa banyak orang yang terjebak dalam pemahaman yang salah bahwa bendera hitam itu adalah bendera Nabi Muhammad SAW?

Ibarat seorang bapak, pemerintah HARUS mulai mengajari “anak-anak”nya mana yang salah dan mana yang benar. Jika tidak bisa pakai tangan sendiri, pakai tangan orang lain juga memungkinkan. Buat saja nota kesepahaman dengan Arab Saudi terhadap “simbol-simbol” yang dilarang dan sebarkan ke banyak tempat ibadah atau diumumkan melalui media, supaya bangsa ini bisa menjaga dirinya sendiri dari antek-antek radikal yang bersembunyi dalam baju agama.

Baca Juga >  Ngaji Kemandirian Ekonomi Umat Dari PCNU Sragen

Kalau mereka mau demo, ya sana demo ke Kedubes Saudi jika berkenan.

JANGAN sampai negeri ini abai terhadap sinyal-sinyal yang begitu terbuka di depan mata. Masak HARUS menunggu negeri ini hancur dulu baru kita sadar bahwa ada bahaya Penyesalan itu selalu datang terlambat. Kalau duluan, namanya pendaftaran.

Seruput kopinya dulu, kawan….

Denny Siregar, penulis buku TUHAN dalam Secangkir Kopi