ahmad baso

Ahmad Baso, Tokoh Muda NU Periset Pesantren dan Islam Nusantara

Posted on

Ahmad Baso, nahdliyin muda yang banyak melakukan otodidak, membaca buku dan melacak naskah-naskah lama, menekuni dunia tulis menulis, dan terlibat dalam berbagai gerakan di kalangan muda NU. Karya-karyanya, yang ditulis secara otodidak, bervolume tebal-tebal dan menjadi rujukan primer dalam mengkaji NU, Pesantren, Kyai, Islam Nusantara, dan Pribumisasi Islam.

Seri Pesantren Studies (yang meski belum selesai seluruhnya dari sekitar 12 jilid yang direncanakan), di antara beberapa karyanya itu, merupakan karya penting dari seorang Nahdliyin tentang dunia pesantren. Dan, Khittah NU telah ikut mendorong para Nahdliyin untuk tidak hanya fokus di bidang politik praktis, tetapi juga gerakan membangun kesadaran pengetahuan dan pijakan kultural, yang salah satu di antara mereka yang berjibaku dalam soal ini adalah Ahmad Baso.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Ahmad Baso lahir di Makassar pada 14 November 1971, dari orang tua santri yang taat beragama. Ayahnya bernama Haji Muhammad Baso, wafat tatkala Ahmad Baso menyelesaikan salah satu buku Seri Pesantren Studies, pada 5 September 2011. Ayahnya ini, seorang santri yang taat dan sering mendatangi pengajian dan ceramah di masjid; dan sedangkan ibunya bernama Hj. Siti Najmah, yang memiliki 5 anak, dan salah satunya adalah Ahamad Baso.

Ahmad Baso kecil menempuh pendidikan di Makassar, tingkat dasar (1978-1983), dan tingkat menengah di SMP (1984-1986), sambil nyantri di Pesantren An-Nahdlah Makassar (1985-1990), dan menempuh pendidikan Madrasah Aliyah (1987-1989). Ketika nyantri di Pesantren An-Nahdlah, Ahmad Baso berguru kepada AG KH. Ahmad Haristah AR dan kepada AG, KH. Muhammad Nur.

Pesantren An-Nahdlah didirikan AG. KH. Muhammad Haristah pada 20 September 1982, berlokasi di Tallo, Makassar. Beliau ini adalah alumnus Pesantren As`adiyah, Sengkang, Wajo, Makassar, sebagaimana diberitakan (makassar.tribunnews.com., 20 September 2017). Pesantren ini berawal, dari mengaji tudang atau ngaji duduk bersila dengan beberapa santri (sekitar 7 orang), yang dinamakan Majlis Ta’lim Ashabul Kahfi. Karena pesertanya semakin banyak, maka dibentuklah Majlis Ta’lim Asysyafiiyah, dan pengajiannya dipindah di Masjid Quba, di dekat rumah AG. KH. Muhamamd Haritsah.

Majlis Ta’lim Asysyafiiyah kemudian diubah menjadi An-Nahdhah pada 4 Januari 1985 atas restu Al-Allamah Nashirus Sunnah, AG KH. Muhamamd Nur. Lokasi Pesantren ini ada di Tallo, Tinumbu, di dekat Pasar Cidu (hanya beberapa puluh meter), Kecamatan Tallo, Makassar. Kanan kiri pesantren ini dipadati rumah penduduk, yang anak-anak mereka juga banyak mengaji kepada AG. Pesantren ini mengembangkan sistem pengajaran kitab kuning, sebagaimana yang ada di pesanatren; juga mengembangkan sistem madrasah formal, dengan membuka MTs dan Madrasah Aliyah; dan membuka Majlis Ta’lim. AGH. KH. Muhamamd Haritsah sendiri wafat pada 20/5/2013, dengan meninggalkan pesantren dan kader-kader yang siap meneruskan cita-citanya.

Sebagaimana disebutkan dalam makassar.tribunnews.com. (20 Sptember 2017), santri pertama pesantren ini, di antaranya adalah Dr. KH. Afifuddin Haritsah (yang kini menjadi pimpinan Pesantren setelah wafatnya sang pendiri); dan Ahmad Baso disebut “alumnus angkatan pertama An-Nahdlah”. Selain itu, dari pesantren ini juga ada alumnus lain yang dikenal, yaitu ustadz kondang yang dikenal lewat tayangan televisi nasional bernama Ustadz Nur Maulana, yang dikenal dengan kata-katanya: “Jamaah ooh jamaah”.

Ketika di Pesantren An-Nahdhah, Ahmad Baso, ngaji kitab-kitab penting kepada Sang guru, seperti Riyadush Shalihin, Fathul Qarib, Tanwirul Qulub, Tafsir al-Jalalain, Syarah Hikam, at-Tibyan fi Ulumil Quran karya Ash-Shabuni, al-Ajrumiyah, dan beberapa kitab Nahwu Sharaf. Ketika menginjak Madrasah Aliyah, Ahmad Baso membaca beberapa kitab, misalnya Fathul Bari, Tafsir Al-Qurthubi, dan Tafsir Mafatikhul Ghaib karangan ar-Razi, dihadapan AG. KH. Muhammad Haristah.

Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah di Makassar, Ahmad Baso meneruskan pendidikan di perguruan tinggi Arab Saudi cabang Indonesia, yang bernama LIPIA, mulai tahun 1990, di Fakultas Syariah. Di perguruan kaum Salafi Wahhabi ini, bersama Ahmad Baso, juga ada Ulil Abshar Abdalla, dan beberapa Nahdliyin lain, sempat kuliah di sini. Akan tetapi, karena jiwa santri dan masuk di PMII, Ahmad Baso berontak digodok dengan cara pengetahuan salafi. Setelah 2 semester di Fakultas Syariah LIPIA, Ahmad Baso ikut kursus-kurus di STF Driyarkara, dan belajar otodidak, bergumul dengan rekan-rekan Nadhliyin yang lain, terutama di kalangan PMII di Jakarta.

Ketika masih maraknya dunia NGO di kalangan anak muda NU yang bergerak di kalangan masyarakat, Ahmad Baso sempat terlibat bergiat dalam Desantara, bersama Kyai Bisri Effendi dan sahabat-sahabat yang lain di Jakarta, sebelum akhirnya lebih memilih otodidak. Menurut Hasan Basri Marwah, yang pada tahun-tahun ini, bertetangga dekat, Ahmad Baso kemudian banyak membaca buku-buku poskolonial sambil siangnya di Desantara. Diskusi-diskusi tentang poskolonial; dan kajian-kajian yang berhubungan dengan itu, sering dilakukan Ahmad Baso, yang kamarnya memang dipenuhi dengan banyak sekali buku.

Ketika masih bergiat dalam kajian dan riset-riset kebudayaan, pesantren dan kyai, Ahmad Baso sempat menulis buku, untuk mengcounter wacana masyarakat madani yang banyak dikemukakan intelektual kelas menengah Modernis (?), sehingga menghasilkan buku yang berjudul Civil Society versus Masyarakat Madani (1999), kemudian lahir pula buku berjudul Plesetan Lokalitas: Politik Priibumisasi Islam (2002). Buku Civil Society versus Masyarakat Madani pada tahun 1999 dan seterusnya, saat itu banyak dibaca dan beredar di kalangan para aktivis Nahdliyin.

Baca Juga >  Ini Alasan Mbah Marzuqi Menjadi Mursyid Thariqoh yang Kaya Harta

Ahmad Baso kemudian memang benar-benar memilih otodidak, daripada meneruskan pendidikan ke jenjang akademik di perguruan tinggi. Beberapa bukunya yang lain kemudian lahir, yaitu Islam Pascacolonial (2005) dan NU Studies (2006). Setelah itu, Ahmad Baso juga masuk Komnas HAM pada periode 2007-2012. Sebelumnya, orang NU yang ada di Komnas HAM adalah MM Billah. Di lingkungan NU, selain terlibat dalam pertemuan-pertemuan anak muda NU, Ahmad Baso juga pernah menjadi Wakil Ketua Lakpesdam NU (2010-2015).

Otodidaknya terus berjalan dan karya-karyanya terus lahir, dan yang monumental adalah Pesantren Studies, yang direncanakan akan ditulis dalam berbagai jilid, mungkin sebagaimana sering ditulis dalam penjelasan penulisnya di berbagai bukunya, dalam 9 jilid, dan kadang disebut 12 jilid, dan kadang disebut 14 jilid. Sampai saat ini, semua jilid itu belum selesai semuanya, dan misalnya buku Pesantren Studies 2b, terbit pada tahun 2012, dan Pesantren Studies 4a terbit tahun 2015. Ahmad Baso juga menulis Agama NU untuk NKRI (2014), dan Islam Nusantara, jilid I dan II, yang terbit di antaranya pada tahun 2015 (jilid I).

Selain kiprahnya di kalangan anak muda NU, Ahmad Baso juga dekat dengan KH. Hasyim Muzadi, tetapi dia sendiri juga ikut terlibat bersama besar rekan-rekan mereka di kalangan muda Nahdliyin, dalam forum Mubes Warga NU, untuk mengkritisi kepemimpinan NU yang ketika itu di bawah ketua umum KH. Hasyim Muzadi; dan juga pernah dekat dengan KH. Ma’ruf Amien; dan juga kiai-kiai lain di lingkungan NU.

Dalam diskusi-diskusi di kalangan anak muda NU, Ahmad Baso, merupakan jurubicara dalam berbgaai pandangan, dan melakukan oposisi terhadap gagasan-gagasan Islam Liberal yang dikomandani Ulil Abshar Abdalla, meskipun secara pribadi tetap menjalin hubungan baik dengan mereka. Buku-bukunya mencerminkan arus lain yang sedang dibangunnya berbeda dengan Islam liberal. Ketika Muktamar NU diselenggarakan di Boyolali, dan diundang di forum NCC (Nahdliyin Crisis Center) sebagai pembicara, yang diselenggarakan anak-anak Muda NU, kritik terhadap Islam liberal masih sering dikemukakan, yang saat itu saya (NKR), itu nterlibat di NCC .

Dari sejumlah karyanya, Ahmad Baso mengajak rekan-rekan muda Nahdliyin untuk menjadi fa`il dalam menulis pesantren dan Islam Nusantara; dan membangun pijakan-pijakan kultural melalui kesadaran. Ahmad Baso menekankan begini:

“Bahasa, kata orang, membawa ideologinya sendiri. Demikian juga transliterasi, ejaan dan bahasa penulisan, yang baik dan benar, juga membawa ideologinya masing-masing. Transliterasi yang berlaku kini dominan adalah konstruksi Orientalisme, seperti dari Leiden, kemudian distandarisasi oleh SK Menteri, dan dibakukan ke dalam iklim dunia perguruan tinggi kita. Standarsisasi ini jelas pas untuk ideologi orang-orang yang pikirannya terjerat ke dalam ideologi Eurosentrisme. Bahwa apa kata si bule adalah itulah yang benar; sabda sang guru di sana adalah benar, dan menunjukkan itu yang cocok bagi sang murid. Tapi jelas itu tidak cocok untuk anak bangsa kita-apalgi untuk anak-anak pesantren yang menginginkan bahasanya menyatu dengan masyarakat” (Islam Nusantara , I: xxi)

Oleh karena itu Ahmad Baso mengingatkan: “Maka salah satu kunci untuk memahami dunia jaringan dan intelektualitas ini (dunia pesantren dan kyai pesantren) adalah pertama-tama memasuki dunia heteroglosia (berbahasa jamak bahasa) orang-orang pesantren” (Pesantren Studie 2b: 9).

Dalam karya-karya yang cukup tebal-tebal itu, Ahmad Baso menyajikan banyak informasi dan data-data, tetapi sekaligus juga cukup berat untuk dibaca, karena term-term yang dikemukakannya, masih banyak yang harus dibukakan di kamus-kamus. Akan tetapi secara umum semua karya-karyanya, dan inilah jasa besar yang dilakukan Ahmad Baso, adalah menyuguhkan bacaan-bacaan pesantren, Islam Nusantara dan kyai, menurut sudut pandang pesantren, dalam buku yang tebal-tebal. Hampir mustahil pada saat ini, untuk membaca pesantren dan dunia kyai, juga sejarah Islam nusantara, tanpa merujuk dan membaca buku-buku Ahmad Baso.

Dalam menekuni otodidak itu, ada banyak orang yang berjasa terhadap Ahmad Baso, dan di antara yang diakui sendiri olehnya adalah, gurunya sendiri, KH. Haritsah AS dan KH. Muhamamd Nur, lalu Habib Abu Bakar al-Attahsy, KH. Muchit Muzadi, KH. Hasyim Muzadi, KH. Ma’ruf Amien, KH. Said Aqil Siradj, KH. Muhyiddin Jember, Ustadz Rasyidi Syahid, Gus Ali Masyhuri Sidoarjo, Abdul Munim DZ, dan Enceng Shobirin. Sedangkan istrinya disebut secara khusus, yang banyak membantu dalam penulisan buku yang dilakukannya, yang disebutkan memberikan sentuhan batin: “Sentuhan batinnya melebihi sentuhan intelektual bacaan manapun” (Pesantren Studies 2b: xvi).

Karena kepakarannya di bidang kajian dan riset-riset pesantren, Islam Nusantara dan kyai, dari sudut dan cara pandang pesantren, Ahmad Basos akhirnya diminta membantu sebagai pengajar di Program Pascasarjana “Kajian Pesantren” INSTIKA an-Nuqayah, Guluk-guluk, Madura. Sementara perjalanannya ke berbagai forum dan tempat, menjadikannya semakin berpengalaman bertemu dengan banyak orang pesantren dan kyai.

Dalam melakoni otodidak, sesuatu yang sangat tidak gampang itu, Ahmad Baso didampingi sang istrti bernama Siti Nurlaelah. Dan, wirid yang dilakoninya, adalah memperbanyak ta’lim, membaca, dan bertafakkur.

Semoga panjang umur, sehat dan berkah selalu.

[Nur khalik Ridwan]