Abah Ayip Usman Cirebon, Sosok Habib yang ‘Alim dan Tawadlu’

Posted on

Abah Ayip Usman, begitu kami biasa memanggilnya, adalah sosok habib yang sangat ‘alim, faqih, muharrik, dan munadhdhim, tapi tetap rendah hati (tawadlu’).

Selain pengasuh Pesantren Kempek, Almaghfur lahu KH Syarif Usman Yahya ini juga pernah jabat Rais Syuriyah PCNU Kab Cirebon, Pengurus DPP PKB zaman Gus Dur, anggota DPR/MPR awal Reformasi, tapi beliau juga bergaul dengan semua kalangan agama dan kepercayaan, termasuk Ahmadiyah dan Syiah, bahkan juga tukang becak, petani, nelayan, dan buruh, terutama mereka yang tertindas.

Rumahnya di Pesantren Kempek adalah melting pot dari gagasan kritis progresif kaum muda, kalangan tertindas yang butuh pengayoman dan advokasi, serta kalangan pesantren yang gelisah. Tiap hari tidak pernah sepi dari tiga komunitas ini. Kadang datang sendiri-sendiri, kadang bertemu bersama, intinya berdiskusi dan meminta fatwa dari Abah Ayip Usman ini.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Sebagai anak muda yang baru pulang dari Yogyakarta, saya seringkali merasa tersanjung dipanggil oleh Abah Ayip Usman ke rumahnya hanya untuk menjelaskan isi artikel saya yang dimuat koran lokal Cirebon. Beliau selalu gelisah secara intelektual dan ingin selalu belajar sesuatu yang belum diketahui dari siapapun. Saat itu, pada pertengahan tahun 1990an, saya menulis artikel berjudul Pesantren dan Krtitik Arkeologi Pembangunanisme Orde Baru. Abah Ayip Usman dengan sigap memanggil saya untuk menjelaskan isi artikel itu dan berdiskusi secara setara dengan saya sambil lesehan di emperan rumahnya. Bersama ngebulnya asap rokok Gudang Garam Merah, pikiran-pikiran beliau menjelajahi langit intelektualisme yang kadang utopis.

Beliau pun selalu pasang badan mengayomi gerakan pemikiran kritis anak-anak muda. Suatu waktu, sebagai Ketua Lakpesdam NU Cirebon, saya menggelar halaqah tentang Qiro’ah Siyaqiyah atas Kitab Kuning. Kitab Taqrib karangan Imam Abu Syuja’ kita bahas sebagai studi kasus. Sampailah pada kritik tajam tentang irrelevansi sejumlah isi kitab ini. Kyai berpengaruh di Cirebon tampil menanggapi.

Baca Juga >  Habib Lutfi Perintahkan Tahlil 7 Hari untuk Mbah Maimoen

“Kamu bisa apa, dan sudah mampu nulis berapa kitab, kok berani mengkritik Kitab Taqrib,” bernada tinggi dengan bahas Cirebon.

Sebagai santri, tentu kami tidak cukup nyali untuk menjawab tanggapan sang Kyai berpengaruh di Cirebon ini. Dalam kondisi beginilah, Abah Ayip Usman tampil membela. Beliau berdiri dengan gagah wibawa berbicara. “Ente kalau mau menyerang jangan ke anak muda, sini tanya ke saya, akan saya jawab semuanya,” dengan bahasa Cirebon yang khas. Lalu, beliau menjelaskan panjang lebar mengapa perlunya kontekstualisasi kitab kuning dan kewajaran kritik atas kitab yang ditulis puluhan abad yang lalu di Timur Tengah ini.

Ini sekelumit cerita kenangan peran Abah Ayip Usman atas gerakan kritis anak muda yang selalu beliau ayomi. Sekarang, kami kehilangan kyai pengayom ini. Alih-alih akan muncul pengayoman, gerakan kritisnya saja sudah tidak terdengar lagi. Nyaris tidak ada riak-riak pemikiran kritis dan gerakan kritis di kalangan anak muda. DI MANAKAH GERAKAN PEMIKIRAN KRITIS hari ini?

Lahul fatihah untuk Abah Ayip Usman Yahya…

Penulis: KH Dr Marzuki Wahid, santri beling Abah Ayip Usman, sekarang menjadi Sekretaris Lakpesdam PBNU.