HTI

7 Kesalahan Mendasar HTI

Posted on

Oleh: Ayik Heriansyah

1. Meyakini bahwa Nabi Muhammad saw pernah mendirikan Khilafah padahal Muhammad saw adalah seorang Nabi dan Rasul bukan seorang Khalifah. Di Madinah Rasulullah saw membangun sistem kehidupan seperti negara. Sebagai seorang Nabi dan Rasul, Muhammad saw wajib diimani dan ditaati secara mutlak termasuk menjadikannya sebagai pemimpin politik. Oleh karenanya penyerahan kekuasaan tanpa syarat dari tokoh-tokoh Yatsrib merupakan bagian integral dari keimanan. Negara yang dibangunnya bersifat khas. Disebut Daulah Nubuwwah. Daulah Nubuwwah hanya ada ketika Nabi saw masih hidup. Setelah itu berdiri Khilafah ‘ala minhajin Nubuwwah/Khulafa’ur Rasyidin selama 30 tahun.

2. HTI mengklaim mengikuti metode (thariqah) Rasulullah dalam mendirikan Khilafah. Ini klaim dusta karena Nabi saw tidak pernah mendirikan Khilafah lalu bagaimana mungkin Beliau saw punya metode (thariqah) untuk mendirikan khilafah.

3. HTI mewajibkan thalabun nushrah (kudeta) sebagai jalan untuk meraih kekuasaan dalam mendirikan khilafah. Ini kewajiban yang mengada-ngada karena keempat khulafaur rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali) mendapat kekuasaan melalui bai’at setelah dilakukan musyawarah dan pemilihan secara terbuka, jujur dan bebas (ridla wal ikhtiar). Keempat khalifah tersebut tidak pernah melakukan thalabun nushrah (kudeta) menjadi khalifah. Dalam konteks sekarang nashbul imam adalah pilpres.

Baca Juga >  Belajar Ilmu Zuhud Dari Mbah Jalil Tulungagung

4. HTI menyelewengkan makna khilafah/imamah di dalam kitab-kitab kuning dari nashbul imam menjadi iqamatul nizham. Tidak satupun ulama salaf yang memaknai khilafah/imamah dengan khilafah tahririyah.

5. HTI mengasosiasikan bahwa khilafah ‘ala minhajin nubuwwah yang kedua adalah khilafah tahririyah yang khalifahnya pernah menjadi Amir Hizbut Tahrir padahal ulama Aswaja sepakat bahwa khilafah ‘ala minhajin nubuwwah adalah khilafah mahdiyah yakni khilafah yang dipimpin oleh Imam Mahdi.

6. HTI menjadikan Nusantara sebagai wilayah tegaknya khilafah ‘ala minhajin nubuwwah yang kedua padahal hadits-hadits tentang akhir zaman, Imam Mahdi, Dajjal, dll semuanya menunjukkan makna bahwa lokasi berdirinya Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah yang kedua atau khilafah mahdiyah adalah di Arab (Syam dan Jazirah Arab). Artinya HTI salah alamat.

7. HTI secara licik mengopinikan khilafah secara umum tanpa merinci bahwa khilafah yang mereka perjuangkan itu adalah khilafah tarhririyah bukan khilafah mahdiyah.