zakat

Zakat Profesi dalam Pandangan KH. M. Aniq Muhammadun

Posted on

Rais Syuriyah PCNU Pati dan Pengasuh PP. Mambaul Ulum Pakis Tayu Pati ini dalam salah satu acara yang diadakan Program Studi Zakat Wakaf IPMAFA Pati menjelaskan:

Masyarakat harus diberikan pemahaman yang benar tentang zakat dan wakaf. Zakat diwajibkan pada delapan macam harta yang diberikan kepada delapan kelompok.

NU Care LazisNU Jogja KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

تجب في ثمانية انواع علي ثمانية انواع من الناس (فتح المعين)

Dalam konteks zakat profesi, harus melihat definisi tijarah:
perdagangan adalah mengolah harta untuk tujuan memperoleh keuntungan.

التجارة هي تقليب المال لاجل الربح

Dalam kitab kuning, seperti Kifayatul Akhyar, Minhajul Qawim, dan Tuhfatul Muhtaj, ada istilah ijaratun nafsi اجارة النفس (menyewakan kompetensi diri atau akhir-akhir lebih populer dengan nama zakat profesi).

Hasil dari ijaratun nafsi (اجارة النفس) adalah harta dagangan, karena اجارة النفس termasuk mengolah harta untuk tujuan memperoleh keuntungan.

Harta jenisnya ada dua: Pertama, barang (‘ain). Kedua, manfaat (jasa). Maka, ijaratun nafsi termasuk bentuk manfaat.

Begitu juga, para petani ketela dan tebu yang menanam ketela dan tebu adalah termasuk mengolah harta untuk memperoleh keuntungan. Mereka terkena zakat tijarah (dagang). Pemahaman utuh dan luas seperti ini harus dijelaskan kepada masyarakat, supaya mereka tidak tekstual dalam memahami kitab kuning.

Baca Juga >  Bagaimana Perbedaan Antara Jin dan Iblis?

Dibutuhkan upaya untuk menggalakkan kesadaran masyarakat untuk mengeluarkan zakat. Jangan hanya berpijak kepada fiqh, tapi harus dengan tasawuf juga.

Imam Malik berkata:

من تفقه تفسق ومن تصوف تزندق ومن جمع بينهما فتحقق

orang yang hanya berpegang ilmu fiqh, maka ia mudah menjadi orang munafiq, orang yang hanya berpegang kepada ilmu tasawuf, maka akan menjadi zindiq (menyembunyikan kekafiran dalam keimanan), dan orang yang mampu mengumpulkan/ memadukan keduanya (fiqh-tasawuf), maka dia telah mencapai kebenaran nyata.

Oleh sebab itu harus hati-hati mengambil pendapat dalam kitab-kitab fiqh, khususnya dalam masalah harta-harta yang wajib dizakati dan golongan yang berhak menerima zakat. Jangan sampai hanya mencari pendapat yang bisa melepaskan seseorang dari kewajiban berzakat.

Berkah Ilmunya Pak Yai, sehat dan panjang umur, amiin.