kitab ushul fiqh kiai sahal

Ushul Fiqh 1, Definisi Fiqh dan Ushul Fiqh

Posted on

Dr. Jamal Ma’mur Asmani, Dosen Ushul Fiqh IPMAFA Pati.

Mengajar Mata Kuliah Ushul Fiqh di IPMAFA Pati mendorong penulis untuk menulis catatan-catatan pendek untuk membantu memahami Makul ini bagi para pemula seperti penulis.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Ilmu ushul fiqh penulis yang sangat sedikit hasil didikan K. Sholihan Adni Pasucen, K. Sholihul Hadi Pasucen, K. Abdul Mutholib Pasucen, KH. Nurhadi Pasucen, K. Abdul Kamal Pasucen, KH. Nur Faqih Pasucen, KH. Ahmad Fayumi Munji, KH. A. Nafi’ Abdillah, KH. MA. Sahal Mahfudh, KH. Zainuddin Dimyati PIM Waturoyo, dan Dr. KH. Ahmad Munif Suratmaputra IIQ Ciputat Jakarta. Lahum al-Fatihah … Amiin.

Definisi Fiqh dan Ushul Fiqh

Sebelum memahami definisi ushul fiqh, terlebih dahulu harus memahami dulu definisi fiqh, karena keduanya mempunyai relasi sangat erat dan sifatnya sinergis.

Definisi fiqh menurut Abu Ishaq Ibrahim Asy-Syairazi dalam kitab Alluma’ adalah:

معرفة الاحكام الشرعية التي طريقها الاجتهاد

“Mengetahui hukum-hukum syara’ yang jalannya menggunakan ijtihad”.

Hukum-hukum syara’ yang dimaksud adalah wajib (resiko disiksa jika ditinggal), sunnah (mendapat pahala dengan melakukan dan tidak ada resiko siksa jika ditinggal), mubah (tidak ada pahala ketika melakukan dan tidak ada siksa ketika meninggalkan), haram (resiko disiksa ketika melakukan), makruh (lebih utama meninggalkan), shahih (dianggap lulus dan hasil maksud), dan bathil (dianggap tidak lulus dan tidak hasil maksud).

Contoh hukum syara’ adalah:

Wajib: shalat lima waktu, menunaikan zakat, mengembalikan barang titipan dan yang dighashab.
Sunnah: shalat-shalat sunnah, dan sedekah sunnah.
Mubah: makan makanan yang bergizi, tidur, berjalan, dan memakai pakean halus.
Haram: zina, liwath (LGBT), ghashab, dan mencuri.
Makruh: shalat sambil menoleh dan shalat di tempat pembuangan kotoran hewan unta.
Shahih: shalat-shalat yang boleh dan jual beli (sesuai aturan).
Bathil: shalat tanpa bersuci dan menjual sesuatu yang bukan miliknya.

Ushul Fiqh

Definisi ushul fiqh menurut Abdul Wahab Khallaf dalam kitab Ilmu Ushul al-Fiqh adalah:

العلم بالقواعد والبحوث التي يتوصل بها الي استفادة الاحكام الشرعية العملية من ادلتها التفصيلية
او هي مجموعة القواعد والبحوث التي يتوصل بها الي استفادة الاحكام الشرعية العملية من ادلتها التفصيلية 

Mengetahui kaidah dan bahasan (kajian) yang mampu menjadi jembatan untuk mengambil faedah hukum-hukum syara’ praktis dari dalil-dalilnya yang terperinci. Ini definisi pertama. Definisi kedua adalah: kumpulan kaidah dan bahasan yang mampu menjadi jembatan untuk mengambil faedah hukum-hukum syara’ praktis dari dalil-dalilnya yang terperinci.

Dua definisi ini sama karena substansi pokok dalam dua definisi di atas sama-sama mengarah kepada tujuan utama mengkaji ushul fiqh, yaitu: kompetensi mengambil hukum syara’ praktis dari dalil-dalil terperinci lewat kaidah-kaidah dan bahasan yang dirumuskan oleh para pakar ushul fiqh, baik terdahulu maupun yang sekarang.

KH. MA. Sahal Mahfudh dalam kitab Thariqatul Husul Ala Ghayatil Wushul mendefinisikan ushul fiqh secara lebih detail, yaitu:
dalil-dalil fiqh yang sifatnya global (ادلة الفقه الاجمالية), metode mengambil faedah (hukum) parsialitas (juz’iyyat) dalil-dalil global (طرق استفادة جزئيات الادلة الاجمالية), dan kondisi atau sifat-sifat orang yang mampu mengambil faedah dalil-dalil global (حال مستفيد جزئيات ادلة الفقه الاجمالية) yang disebut mujtahid.

Pendapat lain dalam kitab ini menyatakan, ushul fiqh adalah mengetahui tiga bidang kajian di atas (dalil global, metode mengambil faedah, dan sifat mujtahid).

Definisi lain yang dipilih Imam menyatakan, ushul fiqh adalah kumpulan metode fiqh secara global, dalil global, dan sifat mujtahid ( (مجموعة طرق الفقه علي سبيل الاجمال الخ. Oleh sebab itu, jika hanya mengetahui sebagian, maka tidak dinamakan ushul fiqh. Dikatakan pakar ushul fiqh jika menguasai tiga bidang kajian ini sekaligus.

Baca Juga >  Cara Agar Bisa Khusyuk dalam Sholat dan Dzikir

Topik Kajian (الموضوع):

Menurut Abdul Wahab Khallaf, topik kajian fiqh adalah perilaku seseorang (فعل المكلف), seperti jual beli, sewa, gadai, mewakilkan, shalat, puasa, haji, membunuh, menuduh zina orang lain, mencuri, pengakuan, dan wakaf yang dilakukan seseorang yang semuanya mengandung hukum syara’ tanpa terkecuali.

Sedangkan topik utama kajian ushul fiqh adalah dalil syara’ yang sifatnya menyeluruh (الدليل الشرعي الكلي) yang diambil dari hukum-hukum yang sifatnya menyeluruh (الاحكام الكلية). Contoh: ahli ushul fiqh mengkaji qiyas dan kekuatan argumentasinya (حجيته), lafadz ‘am dan yang membatasinya, amar dan hukum yang ditunjukkannya, dan lain-lain.

Ilustrasi Menarik:

Secara lebih praktis, Abdul Wahab Khalaf memberikan ilustrasi:

Al-Qur’an adalah dalil syara’ yang pertama atas lahirnya hukum-hukum. Al-Qur’an ini tidak datang dalam satu bentuk, tapi dalam beberaa bentuk. Sebagian ada yang berbentuk shighat amar, sebagian berbentuk shighat nahyi, sebagian berbentuk shighat umum, dan sebagian menggunakan shighat mutlak. Shighat amar, nahyi, umum, dan mutlak adalah macam-macam dalil syara’ yang sifatnya umum.

Dari macam-macam dalil umum, ahli ushul fiqh mengkaji secara seksama dengan melakukan penelitian susunan kalimat/ metode/ gaya bahasa bahasa arab dan penggunaan-penggunaannya yang mengandung dimensi syara’

(استقراء الاساليب العربية والاستعمالات الشرعية).

Ketika riset ini menemukan hasil bahwa shighat amar menunjukkan makna wajib, shighat nahyi menunjukkan makna haram, shighat umum menunjukkan cakupan kepada seluruh satuan lafadz am secara pasti, dan shighat mutlak menunjukkan tetapnya hukum secara mutlak, maka pakar ushul fiqh menetapkan kaidah: perintah menunjukkan hukum wajib (الامر للايجاب), larangan menunjukkan hukum haram (النهي للتحريم), am mencakup seluruh satuan secara pasti (العام ينتظم جميع افراده قطعا), dan mutlak menunjukkan satuan yang menyeluruh tanpa ada batasan (المطلق يدل علي الفرد الشائع بغير قيد).

Aplikasi Kaidah Umum:

Kaidah-kaidah umum atau menyeluruh ini kemudian digunakan oleh pakar fiqh (فقيه) untuk mengambil hukum praktis dari dalil-dalil parsial (الدليل الجزئ). Misalnya:
a. Wajibnya memenuhi janji.
Hukum ini diambil dari firman Allah : ياْيها الذين امنوا اوفوا بالعقود “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji”. Ini berdasarkan kaidah: perintah menunjukkan hukum wajib (الامر للايجاب).
b. Haramnya satu komunitas mengolok-ngolok komunitas lain.
Hukum ini diambil dari firman Allah: ياْيها الذين امنوا لايسخر قوم من قوم “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah satu kaum mengolok-ngolok kaum yang lain”. Hal ini berdasarkan kaidah: larangan menunjukkan hukum haram (النهي للتحريم).
c. Semua macam ibu diharamkan.
Hukum ini diambil dari firman Allah: حرمت عليكم امهاتكم “Diharamkan bagi kamu semua ibu-ibumu”. Hal ini berdasarkan kaidah: lafadz ‘am mencakup seluruh satuan secara pasti (العام ينتظم جميع افراده قطعا).
d. Membebaskan budak dalam tebusan Dhihar, bersifat umum, muslim atau nonmuslim.
Hukum ini diambil dari firman Allah: فتحرير رقبة “maka memerdekakan budak”. Hal ini berdasarkan kaidah: lafadz mutlak menunjukkan satuan yang menyeluruh tanpa ada batasan (المطلق يدل علي الفرد الشائع بغير قيد).

Contoh terakhir dari Abdul Wahab Khalaf ini dalam kitab-kitab yang dikaji di pesantren, seperti Tashilul Thuruqat, sudah dibatasi dengan muslim. Artinya, budak yang dibebaskan harus muslim, karena lafadz ‘am berlaku umum, kecuali jika ada yang membatasi.

Wonokerto Pasucen, 25 Pebruari 2018 M., 9 Jumadil Akhir 1439 H.