Masih recovery pasca operasi tapi alhamdulillah saya sudah mood baca-baca buku, hehehe.
Kemarin saya baca-baca tentang temuan disertasi Mas Noor Huda Ismail dari Monash University Australia (2018) bahwa terorisme lebih banyak digerakkan oleh maskulinitas (imajinasi seorang mujahid), bukan oleh ideologi agama, ideologi negara, securitisasi, poverti dll.
Saya jadi ngecek lagi artikel David Charles Rapoport tentang 4 gelombang modern terror. Meski baru sebatas konteks terorisme Indonesia dan Islam, temuan mas Noor Huda tentang masculinity-driven-terrorist bisa jadi menarik karena mungkin mengkonfirmasi munculnya gelombang ke-5 terorisme modern. Atau mungkin masih gelombang ke-4 tapi ada sedikit pergeseran. Menarik untuk ditelisik lebih lanjut terutama terorisme dalam konteks non-Indonesia dan atau non-Islam, hehe.
Jadi, David Charles Rapoport, salah seorang ‘Bapak Studi-Terorisme’ dalam artikelnya “Four Waves of Modern Terrorism: International dimensions and consequences (2013)” pernah menulis bahwa sejarah terorisme modern terbagi menjadi 4 gelombang.
Gelombang pertama, adalah tahun 1880-1920-an, dimana kelompok-kelompok teroris mencoba untuk memenangkan reformasi politik sipil dari pemerintahan berkuasa. Rapoport kasih contoh kelompok Narodnaya Volya yang menyerang pemerintahan Tsar di Russia. Metode umum dari gelombang pertama ini adalah ‘pembunuhan pemimpin’, sehingga disebut “The Golden Age of Assasination”.
Banyak pemimpin-terbunuh korban teroris seperti Elizabeth, Ratu Austria, Uberto Pertama, Raja Italia, Presiden AS McKinley dll.
Gelombang kedua adalah tahun 1920-1960-an dimana terorisme masih dipandang dalam konteks revolusioner. Rapoport kasih contoh seperti kelompok IRA di Irlandia, IRGUN atau zionis di Inggris dll. Metode mereka adalah dengan bergerilya menyerang pihak-pihak yang menjadi lawan mereka.
Gelombang ketiga yakni 1960-1980-an masih mirip, hanya cakupannya diperluas hingga meliputi kelompok separatis-etnis dan organisasi ideologis-radikal. Rapoport kasih contoh seperti Brigade Merah dalam Perang Vietnam selama kurun waktu 1950-1970an. Menurut Rapoport metode umum dari teroris gelombang ini adalah dengan pembajakan (pesawat, kereta dll) dan penyanderaan.
Gelombang keempat muncul sejak tahun 1980-an dimana terorisme digerakkan oleh keyakinan ideologi radikal tertentu khususnya agama. Tentu saja bukan hanya Islam. Rapoport kasih contoh seperti Sekte Aom, Kelompok Anti-Aborsi, Macan Tamil, Mao Turki, Al-Qaeda dll. Metode umum dari terorisme gelombang ini adalah dengan bom bunuh-diri. Oleh karenanya, korban kelompok teroris juga menyertakan pihak-pihak yang sebenarnya bukan target serangan mereka.
Terakhir, nama pakarnya ngehits bingitss ya. Kayak judul lagu-dangdut almarhumah Jupe, “Aku rapoport… aku rapoport…aku rapoport..” hehe
Udah gitu ajah. Semoga manfangat dan berkah.
Danke
Penulis: Suratno, Dosen Universitas Paramadina Jakarta.








