Silsilah Keilmuan Mbah Mutamakkin Kajen Bersambung Hingga ke Yaman

Silsilah Keilmuan Mbah Mutamakkin Kajen Bersambung Hingga ke Yaman

Posted on

Waktu kecil dulu, melalui penuturan dari masyarakat sekitar di desa saya (desa Cebolek, di Kabupaten Pati, Jawa Tengah), saya kerap mendengar kisah tentang Kiai Cebolek atau Kiai Mutamakkin (hidup kira-kira pada pertengahan abad ke-17 dan awal abad ke-18) yang melakukan perjalanan ajaib ke Timur Tengah dengan berkendaraan “jin”.

Dalam perjalanan balik ke tanah air dan sampai di laut Jawa, ia dilemparkan oleh jin itu ke laut. Ia kemudian ditolong oleh ikan yang di daerah saya disebut sebagai “iwak mladang”. Ia kemudian terdampar di pantai yang berbatasan dengan desa yang belakangan disebut Cebolek, desa saya.

KLIK DISINI untuk mengirim WA (tanpa harus menyimpan nomor terlebih dahulu) ke Call Center NU Care LAZISNU DIY, untuk konsultasi/tanya-tanya.

Tentu saja sulit memverifikasi kebenaran kisah ini, karena ia hanya merupakan cerita turun-temurun di kalangan warga yang tinggal di desa Cebolek dan sekitarnya. Kisah Kiai Mutamakkin (terutama pengadilannya oleh Keraton Surakarta) diabadikan dalam Serat Cebolek yang konon ditulis oleh pujangga Surakarta, Yasadipura I (menurut keterangan Prof. Soebardi yang mengedit dan menerbitkan naskah serat ini).

Pertanyaannya: Mungkinkah Kiai Mutamakkin melakukan perjalanan dari daerah asalnya di Tuban, Jawa Timur, ke Timur Tengah? Di manakah persisnya daerah di Timteng yang dikunjungi oleh Kiai Mutakammin? Untuk tujuan apa dia melakukan perjalanan itu?

Jawabannya sangat mungkin, tidak dengan naik jin, melainkan kapal layar — modus transportasi yang amat populer pada era itu untuk menghubungkan kawasan Arab, India, dan Nusantara. Karena Kiai Mutamakkin berasal dari keluarga bangsawan di Kadipaten Tuban, sangatlah mungkin perjalanan ini dia lakukan — terutama dari segi biaya transportasi. Penjelasannya adalah berikut ini.

Ada informasi yang menarik terkait dengan “silsilah keilmuan” Kiai Mutamakkin. Konon, dia mengikuti tarekat Naqshabandiyyah dan berbai’at dengan seorang mursyid dari Yaman bernama Shaikh Al-Zain al-Mizjaji yang meninggal pada 1633. Mizjaj adalah sebuah desa di kota Zabid, Yaman. Zabid sendiri adalah kota yang sangat dikenal sebagai pusat para ulama besar. Pengarang syarah atas kitab Ihya’ (berjudul “Ithaf al-Sadat al-Muttaqin”), misalnya, berasal dari daerah ini.

Tak ada keterangan yang detil mengenai Shaikh Al-Zain ini. Yang saya jumpai adalah penjelasan mengenai puteranya, yaitu Shaikh Abdul Khaliq ibn al-Zain al-Mizjaji yang wafat pada 1740, sebagaimana termuat dalam karya al-Syaukani, “al-Badr al-Thali’ Bi-Mahasin Man Ba’da al-Qarn al-Sabi’”. Shaikh Abdul Khaliq al-Mizjaji adalah guru dari Imam al-Amir al-Shan’ani, pengarang kitab “Subulus Salam”, syarah atas kitab “Bulugh al-Maram” — keduanya sangat populer di kalangan pesantren NU.

Dengan kata lain, pengarang Subulus Salam ini hidup satu generasi setelah Kiai Mutamakkin. Dan secara tak langsung, ada kaitan “intelektual” antara al-Amir al-Shan’ani dengan Kiai Mutamakkin melalui sosok Abdul Khaliq ibn al-Zain al-Mizjaji, putera dari gurunya itu.

Kemungkinan Kiai Mutamakkin berkunjung dan belajar di Yaman sangat besar, sebab dia berasal dari Tuban, kota pelabuhan penting sejak zaman Majapahit. Hubungan antara Tuban dan Yaman sudah pasti telah terjalin pada era ketika Kiai Mutamakkin hidup, yaitu abad ke-17. Kehadiran orang-orang Arab dari daerah Yaman (kemudian membentuk apa yang sering disebut sebagai “komunitas hadrami”) di kawasan Nusantara telah mulai sejak abad ke-13 (baca: Frode Jacobsen, “Hadrami-Arab in Present-day Indonesia” [2009]). Mereka inilah yang, antara lain, terlibat dalam Islamisasi yang massif di kawasan ini.

Pada era Kiai Mutamakkin, sudah bisa dipastikan bahwa hubungan laut antara kawasan Nusantara dan Arab sudah terjalin erat. Kegiatan berlayar (biasa disebut “seafaring”) bolak-balik antara Jawa-Yaman merupakan kegiatan yang biasa pada zaman itu, sama biasanya dengan orang-orang Indonesia yang bolak-balik Jakarta-Jeddah untuk umrah saat ini.

Baca Juga >  Kisah Mbah Hasyim Menolak Bintang Kehormatan Ratu Wilhelmina

Bagi seseorang yang berasal dari keluarga bangsawan seperti Kiai Mutamakkin, tentu perjalanan laut seperti ini bukan hal yang sulit dilakukan.

Dalam kisah-kisah yang saya dengar di daerah Kajen dan sekitarnya, ada penuturan yang menarik bahwa Kiai Mutamakkin menggemari wayang. Kisah yang ia sukai adalah lakon Dewa Ruci dan Bima. Kisah ini melambangkan persatuan antara jagad besar dan jagad cilik, serta mengandung elemen-elemen tasawwuf wujudiyyah yang kuat (manunggaling kawula-Gusti).

Jika benar bahwa Kiai Mutamakkin pernah belajar di Yaman, maka pengaruh ajaran wujudiyyah yang ada pada sosok ini kemungkinan berasal dari Yaman, sebab di kawasan ini pengaruh ajaran Ibn Arabi sangat kuat. Bahkan berkembang corak ajaran Ibn Arabi yang khas Yaman (sebagaimana pernah dicatat oleh Prof. Alexander D. Knysh, sarjana ahli Ibn Arabi yang mengajar di University of Michigan, Ann Arbor).

Tentu saja tidak tertutup kemungkinan bahwa pengaruh wujudiyyah diperoleh oleh Kiai Mutamakkin melalui ajaran-ajaran yang berkembang di Jawa, terutama ajaran Syekh Siti (Sidi?) Jenar.

Informasi lain menyebutkan bahwa selain Naqshabandiyyah, salah satu tarekat yang diikuti oleh Kiai Mutamakkin adalah tarekat Syattariyyah (tarekat yang lahir di Persia dan memiliki banyak pengaruh di kalangan raja-raja Aceh, Banten, Cirebon dan Surakarta). Kita tahu, ada elemen-elemen wujudiyyah yang sangat kuat dalam tarekat Syattariyyah ini sebagaimana tergambar dalam ajaran “martabat tujuh” (tokoh di Jawa Barat yang dikenal dengan ajaran ini adalah Syekh Muhyi dari Pamijahan, Tasikmalaya).

Terkait dengan sosok Al-Zain al-Mizjaji, guru Kiai Mutamakkin ini, ada hal lain yang menarik. Seperti kita tahu, salah satu tokoh penting di daerah Kajen adalah Kiai Abdullah Salam, paman dari Kiai Sahal Mahfudz yang dikenal dengan gagasannya tentang “fikih sosial” itu. Nama lengkapnya adalah Abdullah Zain bin Abdussalam bin Abdullah, dan masih merupakan keturunan dari Kiai Mutamakkin.

Nama Abdullah Zain, bagi saya, agak aneh dalam tradisi Jawa. Biasanya, nama Zain dipakai dalam bentuk idafah, digabung dengan kata lain sesudahnya. Misalnya: Zainuddin atau Zainal Arifin. Tetapi, dalam kasus Kiai Abdullah Zain, nama Zain dipakai bukan dalam bentuk idafah, tetapi berdiri sendiri.

Apakah nama Zain dalam Abdullah Zain ini untuk mengenang dan “tafa’ulan” dengan guru Kiai Mutamakkin, yaitu al-Zain al-Mizjaji yang berasal dari Yaman itu? Boleh jadi, info tentang guru Kiai Mutamakkin itu masih beredar di zaman generasi Mbah Dullah sepuh (Kiai Abdullah), kakek dari Kiai Abdullah Zain. Pada generasi saya, info ini tampaknya sudah hilang. Tentu, ini hanya spekulasi saya saja. Saya tak memiliki bukti apapun kecuali hanya menerka-nerka nama “Zain” yang menempel pada Kiai Abdullah, dan agak unik ini.

Wallahu a’lam.

———

[Catatan: Apa yang saya tulis di sini masih memerlukan penelitian lebih jauh, karena informasi yang termuat di dalamnya belum sepenuhnya bisa diverifikasi].

Keterangan gambar: Serat Cebolek yang memuat kisah tentang salah satu faset dalam kehidupan Kiai Mutamakkin, karya pujangga Surakarta Yasadipura I.

Penulis: Ulil Abshar Abdalla, pengasuh Ngaji Ihya.