Sejarah Pernikahan Nabi Muhammad dengan Sayyidah Khadijah

Sejarah Pernikahan Nabi Muhammad dengan Sayyidah Khadijah

Sejarah Pernikahan Nabi Muhammad dengan Sayyidah Khadijah.

Khadijah istri setia

Fatimah putri tercinta

Semua bernasab mulia

Dari Quraisy ternama

Begitu kiranya syi’ir kisah Rosul yang sangat saya kagumi. Pilihan kata “istri setia” secara eksplisit, amat dalam jika dimaknai secara falsafi. “Setia” saya artikan istiqomah. Istiqomah di jalan Nabi dan Rosul dalam keadaan apapun dan selalu mendukung penuh tindakan Rosul. Shollu alannabi.

Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai adalah wanita perkasa, kaya, cerdas dan salehah. Para sejarawan menyifati kesalihan Khadijah bukan hanya spiritual, tapi merembet pada sisi sosial. Selain dikenal ahli ibadah, beliau juga masyhur dengan kedermawanan, kejujuran, kearifan budi, keteguhan hati yang luar biasa.

Wajahnya cerah berseri dan ayu rupawan. Memikat siapa saja yang pernah melihatnya. Para petinggi Quraish, hampir semua mufakat menobatkannya sebagai “Sayyidah Quraish” yang artinya “Tuan Putri Bangsa Quraish”. Bahkan, tak segan menyematkan nobel “al-Thahirah” (wanita suci) sebab keparipurnaanya dalam menjaga hak-hak kehidupan.

Banyak yang menawarkan diri untuk meminangnya, baik sebelum maupun usai bersuami (menjanda maksudnya). Tapi, ditolaknya dengan perangainya yang halus. Sayyidah Khadijah adalah janda dari dua pernikahan. Pertama, dengan Atiq bin A’idz bin Abdullah bin Amr bin Makhzum. Dengan Atiq, ia dikarunia satu putri bernama Hindun. Rumah tangga bersama Atiq berakhir dengan perceraian.

Setelah itu, dirinya dipinang lagi oleh Abi Halah al-Nabasy bin Zurarah. Khadijah melahirkan dua putra, masing-masing bernama Hindun (nama seorang laki-laki) dan Halah. Pernikahan ini berakhir dengan meninggalnya Abi Halah. Sayyidah Khadijah pun kembali menjanda.

Ringkas kisah, Nabi Muhammad saat menikahi Sayyidah Khadijah memiliki tiga anak, Hindun, Hindun dan Halah. Kelak anak-anak dari Khadijah ini bersahabat dengan para putra/i mulia Nabi yang lainnya. Shollu alannabi.

Perkenalan Nabi dengan Khadijah dibuka dengan pertemuannya dalam urusan perniagaan. Saat usia 25, Nabi menuju Syam untuk berdagang dan kebetulan, yang menjadi bosnya saat itu adalah Khadijah. Saat itu Allah mempertemukan intan-berlian itu dengan wasilah perdagangan.

Khadijah, secara diam-diam (saat Muhammad bekerja) amat mengagumi segala perangai yang menghiasi diri Nabi. Selain itu, faktor fisik juga tak dapat dinafikan sebagai indikator basyariah. Khadijah beberapa kali memergoki kesalehan Nabi yang menggetarkan hatinya. Beberapa kali ia menguji kesalehan itu dengan perantara budaknya. Nabi selalu lolos memenuhi tantangan tersembunyi Khadijah. Great!

Kecerdasannya dalam membaca watak seseorang, didorong pengetahuan luas tentang al-Kitab (asli) membuatnya mampu menitiskan dengan mantab, bahwa lelaki yang menjadi pegawainya itu adalah calon Nabi terakhir. Konon katanya, Khadijah sering ngaji al-Kitab pada pamannya yang terkenal alim, Waraqah bin Naufal.

Khadijah tak mau kehilangan kesempatan, tatkala mengetahui bahwa Muhammad adalah calon Nabi akhir zaman. Segera ia menyuratkan hasrat untuk menikahinya dengan perantara budak yang bernama Nafisah (ada yang berkata, yang diminta adalah saudarinya sendiri, bukan Nafisah. Wallahu a’lam).

Kisah ini juga yang dijadikan salah satu rujukan oleh fuqaha’ bahwa perempuan boleh meminang laki-laki duluan, melalui perantara orang yang dipercaya mampu menyampaikan hasratnya.

Pasca dua bulan kepulangan Nabi dari Syam, Nafisah datang menemuinya. Singkat kisah, ia menyampaikan bahwa ada sosok yang berminat menjadi istri Muhammad. Tak lama, terjadilah dialog. Nabi menjawab:

“Aku tidak punya apa-apa untuk menikah.”

“Jika engkau dipenuhi, wahai Muhammad, dalam harta, kemuliaan dan kafa’ah, apakah engkau tetap tak berkenan?”

“Siapa dia?”

“Khadijah”.

“Kalau begitu, aku mau.”

Nafisah pulang dengan kabar gembira. Dikatakannya pada Khadijah, bahwa Nabi berkenan. Khadijah pula, tak kuasa menanahan rasa bahagia. Sayyidah Khadijah berhasil meluluhkan hati Nabi akhir zaman. Shollu alannabi. Setelah beberapa saat, kemudian diberitahunya kabar tentang pelaksanaan akad nikah pada waktu “kadza wa kadza.” Segera Khadijah mengirim kabar pada pamannya, Asad bin Khuwailid agar bersedia menjadi penghulu upacara agung ini. Dinikahkanlah keduanya oleh Asad. Saat itu Nabi berusia 25 dan Khadijah 40 tahun.

Hadir dalam upacara akad, para pimpinan Bani Mudhor dan juga Abu Bakar as-Shiddiq, sahabat yang pertama kali mengimani Nubuwwah Nabi, dari golongan laki-laki. Beberapa saat sebelum upacara akan dilangsungkan, Abu Talib berkhutbah cukup panjang, yang pada intinya beliau berkata:

“Sungguh keponakanku ini, tidak menimbang (memilih) seseorang, kecuali telah menyeleksinya dengan baik, dari sisi kemuliaan, keutamaan dan kecerdasan. Maka sungguh dalam urusan harta itu bayang-bayang yang akan habis dan perkara yang menghalangi kesalehan. Dan Muhammad ini telah kalian mengetahui sendiri kekerabatannya. Ia telah meminang Khadijah binti Khuwailid serta menyerahkan seluruh yang ia punya, dari sisi akhirat dan dunia.”

Setelah selesai, Waraqah bin Naufal (paman Khadijah) menyambung sambutan Abu Thalib, yang pada intinya senang bisa merajut persaudaraan sesama pemimpin Quraish. Beliaulah yang juga berperan menjadi curah pertimbangan Khadijah dalam membaca karakter Muhammad bin Abdullah sebelum menyuratkan hasrat pernikahan.

Abu Thalib tampak amat bahagia menyaksikan keponakannya menikah dengan Sayyidah Quraish. Apalagi, melihat Waraqah bin Naufal yang terkenal ahli kitab, akan menjadi saudara besan, menambah anasir kebahagiaan tersendiri bagi kakak Sayyidah Abdullah itu. Saking senangnya hati, beliau berkomentar: “aku sangat senang bisa merajut kekerabatan dengan paman Khadijah itu.”

Setelah selesai, Asad bin Khuwailid segera memulai akad, seraya berkata:

“Saksikanlah wahai Sadah Quraish, aku akan menikahkan keduanya.”

Dinikahkanlah keduanya dan semua insan yang hadir saat itu menjadi saksi ikrar mulia perdana sang Nabi dengan Khadijah. Pernikahan itu disaksikan banyak Sadah Quraish dan semua yang hadir menampakkan rona wajah bahagia. Shollu alannabi.

Setelah akad, Khadijah menyembelih dua unta sebagai wujud syukur sekaligus perayaan pernikahan (walimah) dan meminta para budaknya agar menari dengan iringan gambus di depannya. Abu Thalib tak kuasa menahan haru bahagia. Walimah keduanya merupakan walimah pertama bagi Rosulullah Saw.

Mahar Nabi kala itu 12 Auqiyah (40 diham dalam ukuran syar’i) dan setengah emas. Dikatakan pula dalam riwayat lain, bahwa mahar Nabi adalah 20 unta bikr.

Pernikahan keduanya bertahan dengan kebahagiaan, ketenangan dan kasih sayang sekitar 25 tahun. Nabi meminang Khadijah dalam usia 25 tahun. Khadijah wafat pasca 10 tahun kenabian, tiga hari setelah wafatnya Abu Talib, dalam usia 65 tahun. Meninggalkan 6 putra/i yang mulia. Nabi tidak menikah dengan wanita lain, saat masih bersama Khadijah. Ini saking cintanya Nabi pada Khadijah, sebab kekuatan dakwah Islam salah satu sumber terbesarnya adalah Sayyidah Khadijah.

Tak heran jika ulama sekelas Syaikhina Maimoen Zubair (Allahu yarhamuh) sangat mengidolakan Sayyidah Khadijah al-Kubra, karena tahu persis peran Khadijah dibalik perjuangan dakwah Nabi. Bahkan, Qasidah “sa’duna biddunya” yang mengisahkan kehebatan peran Sayyidah Khadijah mendadak viral berkat Syaikhina. Semoga menambah mahabbah. Intaha.

Demikian Sejarah Pernikahan Nabi Muhammad dengan Sayyidah Khadijah, semoga manfaat.

Penulis: Abdurrohim Badri.

*Melengkapi Sejarah Pernikahan Nabi Muhammad dengan Sayyidah Khadijah, saksikan video berikut ini.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *