Sebuah Refleksi Cara Beragama Kita

Kisah Keramat dan Bahaya Fitnah, oleh Gus Ghofur:

Oleh: KH. Dr. Abdul Ghafur Maimoen, Katib Syuriah PBNU

Pada suatu hari ibu Juha dan saudarinya mendapat undangan walimatul urs, pesta pernikahan. Memenuhi undangan, si Ibu berpesan kepada Juha untuk menjaga rumah agar tidak disatroni pencuri. Ditinggal ibu dan saudarinya, Juha segera tidur. Sekelompok pencuri pun masuk rumah dan mengambil seluruh perkakasnya.

Bacaan Lainnya

Ibu dan saudara perempuan Juha pulang dan mendapati rumah benar-benar kosong. Segera mereka bertanya kepada Juha tentang apa yang telah terjadi. Juha menjawab dengan tenang:

“Bukankah kamu menyuruhku menjaga rumah, bukan perkakas rumah?”

Hari demi hari telah lewat. Ibu dan saudari Juha kembali mendapat undangan. Kali ini undangan berkabung. Keduanya pun kembali meminta tolong kepada Juha, kali ini agar menjaga pintu rumah.

Setelah keduanya pergi Juha bermaksud keluar rumah untuk menghadiri pesta pernikahan salah satu sahabatnya. Ia berfikir tentang sebuah kiat agar bisa mendatangi pesta pernikahan dan sekaligus bisa memenuhi permintaan ibunya untuk menjaga pintu rumah.

Juha mencopot pintu rumah dan membawanya ke pesta pernikahan. Di tengah jalan dia berpapasan dengan ibunya. Terheran-heran Si Ibu bertanya, apa yang sedang dia perbuat dengan pintu rumah itu. Juha, seperti biasa, menjawab dengan tenang sekali:

“Aku copot pintu ini dan membawanya bersamaku. Dengan ini, tak ada yang dapat mencurinya.”

Kita terheran-heran dengan ketololan Juha. Kita sangat “pede” beranggapan, tak mungkin di antara kita ada yang setolol Juha. Tapi tahukah kita, bahwa tampaknya masih banyak kalangan yang cara beragamanya menyerupai perilaku Juha.

*Jumat di Argo Sindoro menuju Cirebon* (sumber: fb Gus Ghofur, 09-02-2018)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *