Sejarah NU, BANGKITMEDIA.COM
Salah satu pendiri NU adalah KH Mas Alwi Abdul Aziz, Surabaya. Beliau juga pencetus nama Nahdlatul Ulama. Ide-ide Kiai Mas Alwi sungguh brilian, dikenal sosok yang cerdas pada jamannya. Bersama Kiai Wahab Chasbullah dan Kiai Ridwan Abdullah, Kiai Mas Alwi menjadi motor penggerak kaum santri dari berbagai tuduhan miring kaum modernis saat itu. Ketiganya sudah bersahabat ketika sama-sama ngaji kepada Syaikhona Kholil Bangkalan.
Kiai Mas Alwi adalah putra KH Abdul Aziz, termasuk keluarga besar Ampel Surabaya. Salah satu adik sepupunya bernama Kiai Mas Mansur, awalnya dalam satu nafas perjuangan, tetapi akhirnya pindah ke Muhammadiyah.
Kiai Mas Alwi mempunyai argumen yang sangat kuat terkait gemuruh modernisme yang cenderung mendiskriminasi kaum tradisional pesantren saat itu. Argumentasinya dibangun berdasarkan riset, bukan asal bunyi. Tidak tanggung-tanggung, riset ini dilakukan ke Eropa. Saat itu, hampir tidak ada kiai yang riset ke Eropa, karena banjir sarjana Eropa didominasi kaum bangsawan. Para kiai belajarnya ya di Timur Tengah, khususnya Mekah, Madinah, dan Mesir.
Riset ke Eropa
Ketika Kiai Ridwan Abdullah akan mengajak membesarkan Nahdlatul Wathon, Kiai Mas Alwi mengisahkan risetnya ke Eropa. Ketika istilah pembaharuan Islam bergemuruh di tangan Muhammad Abduh di Mesir, tidak sedikit orang Indonesia yang terkesima, takjub. Banyak yang kemudian mengkaji pembaharuan ala Abduh, juga tidak sedikit yang kemudian langsung ke Mesir untuk menyaksikan pembaharuan Abduh, salah satunya adalah saudara Kiai Mas Alwi, yakni Kiai Mas Mansur.
Kiai Mas Alwi juga penasaran. Ada apa dengan pembaharuan Islam? Dari mana ide ini? Sumbernya dimana? Inilah pertanyaan yang menyelimuti batin Kiai Mas Alwi. Beliau tidak mau gegabah, asal mengikuti. Setelah melakukan riset, beliau sadar bahwa ide pembaharuan itu berasal dari Eropa. Maka, diputuskan untuk melakukan riset ke Eropa.
Bagaimana bisa ke Eropa? Ikut pelayaran, itulah keputusan Kiai Mas Alwi. Tujuannya adalah belanda dan Prancis. Saat itu, ada stigma negatif yang ikut pelayaran. Stigma itu terkait judi, zina, mabuk, dan lainnya. Tapi untuk ke Eropa, itulah jalan yang harus ditempuh. Akhirnya, berangkatlah Kiai Mas Alwi ke Eropa melalui pelayaran, walaupun itu harus dibayar mahal. Kiai Mas Alwi dikeluarkan dari silsilah keluarga besarnya.
Dalam dialognya dengan Kiai Ridwan, Kiai Mas Alwi menjelaskan:
“Begini Kang Ridlwan. Saya ini ingin mencari renaissance, apa sih sebenarnya renaissance itu? Lah, Adik Mansur mendatangi Mesir untuk mempelajari renaissance itu salah, sebab tempatnya renaissance itu ada di Eropa. Coba sampean lihat nanti kalau Dik Mansur datang, dia pasti akan berkata begini, begini dan begini…” tegas Kiai Mas Alwi.
Maksudnya di sini adalah kembali ke al-Quran-Hadis, tidak bermadzhab, tuduhan bid’ah dan sebagainya.
“Renaissance yang ada di Mesir itu sudah tidak murni lagi Kang Ridlwan, sudah dibawa makelar. Lha orang-orang itu mau melakukan pembaharuan dalam Islam, apanya yang mau diperbaharui, Islam itu sudah sempurna, sudah tidak ada lagi yang diperbaharui. Al-Quran sudah jelas menyatakan:“… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (al-Maidah: 3),” lanjut Kiai Mas Alwi.
Bagi Kiai Mas Alwi, risetnya ke Eropa menemukan data kesimpulan yang luar biasa, yakni pembaharuan yang dihembuskan di dunia Islam itu adalah upaya pecah belah yang dihembuskan oleh dunia Barat, khususnya Belanda dan Prancis. Ini dibuktikan Kiai Mas Alwi setelah keliling dari berbagai perpustakaan di Belanda dan Prancis.
Kiai Mas Alwi memang dikenal mempunyai kemampuan banyak bahasa , bukan hanya Arab dan Inggris saja. Itulah Kiai Mas Alwi, sehingga ia begitu kuat perjuangannya dalam Nahdlatul Ulama (NU). Ruh perjuangannya justru semakin kuat, karena risetnya membuktikan itu semua. Itu disaksikan dengan nyata setelah kembali di Indonesia, banyak yang mengaku pembaharu Islam tetapi menstigma negatif tradisi Islam yang banyak dijalankan banyak kiai di berbagai pesantren di Nusantara.
Dari sini, beda pilihan perjuangan antara Kiai Mas Alwi dan Kiai Mas Mansur. Yang satu risetnya langsung ke jantung pembaharuan, yakni Eropa. Sedangkan yang satu hanya sebatas ke Mesir saja. (md)






